Hat-trick Lewandowski, Dzeko Pensiun di Nations League

Robert Lewandowski menutup laga Nations League dengan penampilan gemilang usai mencetak hat-trick dalam kemenangan telak Poland 6-0 atas Romania yang harus bermain dengan sepuluh orang. Duel yang berlangsung di Warsawa itu menjadi panggung bagi penyerang berusia 38 tahun tersebut untuk kembali menunjukkan ketajamannya di level internasional. Di pertandingan lain grup yang sama, suasana berubah haru ketika Edin Dzeko memutuskan mengakhiri kariernya bersama tim nasional Bosnia-Herzegovina.

Hasil ini penting bukan hanya karena besarnya skor, tetapi juga karena memberi warna tersendiri bagi persaingan Grup B4. Poland memanfaatkan laga tersebut untuk memperbaiki posisi, sementara Romania justru menambah catatan buruk di bawah asuhan Gheorghe Hagi. Di sisi lain, perpisahan Dzeko menandai berakhirnya salah satu era panjang sepak bola Bosnia-Herzegovina.

Pesta Gol Poland dan Hat-trick Lewandowski

Poland tidak memberi ruang bagi Romania untuk bernapas sepanjang pertandingan. Keunggulan jumlah pemain membuat tuan rumah leluasa menekan dan membongkar pertahanan lawan berkali-kali. Lewandowski membuka keunggulan lewat titik penalti, lalu menggandakan skor tak lama setelah babak kedua dimulai.

Selepas itu, gol bunuh diri serta sumbangan dari Piotr Zielinski dan Jan Bednarek memperbesar jarak menjadi tak terjangkau. Lewandowski melengkapi pesta gol tersebut dengan menuntaskan hat-trick yang menjadi trigol internasional ketujuhnya sepanjang karier. Penyerang berusia 38 tahun itu pun menambah koleksi golnya di level tim nasional menjadi 92 gol.

Skor akhir 6-0 mencerminkan dominasi mutlak Poland di laga ini. Bagi Lewandowski, catatan ini menegaskan bahwa usianya tidak menghalangi produktivitasnya di depan gawang. Bagi tim, kemenangan besar semacam ini memberi modal kepercayaan diri untuk menghadapi laga-laga berikutnya di Nations League.

Kartu Merah Dragusin Jadi Titik Balik

Sejarah pertandingan sebenarnya sudah mulai terbentuk sejak menit ke-22. Bek Tottenham, Radu Dragusin, yang sedang menjalani masa peminjaman di Fiorentina, dikeluarkan dari lapangan oleh wasit. Sejak momen itu, Romania kehilangan keseimbangan dan terpaksa bermain bertahan dengan satu pemain lebih sedikit.

Bermain dengan sepuluh orang di kandang lawan tentu menjadi beban berat bagi Romania. Poland dengan cepat mengubah keunggulan jumlah pemain menjadi tekanan yang tak terputus. Lemahnya lini belakang Romania membuat gawang mereka rentan sepanjang sisa pertandingan.

Kartu merah tersebut lantas menjadi penjelasan utama mengapa laga berjalan begitu berat sebelah. Tanpa keseimbangan jumlah pemain, Romania sulit keluar dari tekanan dan hampir tidak mampu membangun serangan balik yang berarti. Poland pun memanfaatkan situasi itu tanpa ampun hingga peluit akhir.

Rekor Buruk Gheorghe Hagi

Kekalahan ini memperpanjang catatan pahit bagi Gheorghe Hagi. Dalam periode keduanya menangani Romania, ia menjadi pelatih pertama yang kalah pada tiga laga kompetitif pertamanya. Hasil di Warsawa menegaskan bahwa awal kembalinya ke kursi pelatih tidak berjalan sesuai harapan.

Tekanan tentu meningkat seiring rentetan hasil buruk tersebut. Sebagai figur legendaris sepak bola Romania, ekspektasi terhadap Hagi sangat tinggi. Namun, hasil di lapangan belum menunjukkan perbaikan yang diharapkan publik.

Situasi ini juga berdampak pada posisi Romania di klasemen. Mereka tetap tertahan di peringkat keempat Grup B4, sementara Poland menduduki posisi ketiga. Dengan persaingan yang ketat, Romania perlu segera menemukan solusi bila ingin memperbaiki posisinya di laga-laga selanjutnya.

Perpisahan Emosional Edin Dzeko

Di laga lain grup yang sama, Edin Dzeko mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional setelah Bosnia-Herzegovina bermain imbang 1-1 melawan Swedia di kandang. Penyerang berusia 40 tahun itu sempat mencetak gol di akhir babak pertama, tetapi dianulir karena bola lebih dulu keluar lapangan dalam proses terjadinya gol. Mantan pemain Manchester City itu mengakhiri kariernya di tim nasional dengan torehan 152 penampilan.

Suasana haru menyelimuti pertandingan di Zenica sejak awal. Kembang api dinyalakan pada menit ke-11 untuk merayakan nomor punggung 11 yang melekat pada dirinya. Ia juga mendapat tepuk tangan berdiri dari penonton saat ditarik keluar pada menit ke-62.

Perayaan berlanjut setelah pertandingan melalui upacara resmi, guard of honour, serta pertunjukan drone yang menampilkan pesan-pesan terima kasih untuk Dzeko. Dalam lap kehormatannya, ia disambut curahan boneka mainan lembut dari para penonton di tribun. Meski laga berjalan sengit, momen perpisahan ini menjadi pengingat panjangnya dedikasi Dzeko bagi tim nasional Bosnia-Herzegovina.

Di sisi pertandingan, striker Arsenal, Viktor Gyokeres, sempat membawa Swedia unggul terlebih dahulu. Kerim Alajbegovic kemudian menyamakan kedudukan untuk Bosnia-Herzegovina, sehingga laga berakhir tanpa pemenang.

De Bruyne Gemilang, Hungaria Raih Kemenangan Pertama

Hasil menarik juga datang dari laga lain. Kevin De Bruyne mencetak dua gol saat Belgia mengalahkan Turki 3-0, hasil yang mengangkat mereka ke peringkat kedua Grup A1. Pemain berusia 35 tahun itu mencetak satu gol di masing-masing babak sebelum Romelu Lukaku menutup pesta gol Belgia.

Sementara itu, bek Liverpool, Milos Kerkez, menjadi penentu kemenangan Hungaria atas Georgia di Budapest. Gol tunggalnya membawa Hungaria meraih kemenangan pertama mereka di Nations League musim ini. Hasil tersebut menempatkan Hungaria di peringkat ketiga Grup B2, tertinggal tiga poin dari pemuncak klasemen, Irlandia Utara.

Kesimpulan

Rangkaian laga Nations League kali ini menyuguhkan dua cerita yang kontras. Di satu sisi, hat-trick Lewandowski dan kemenangan 6-0 Poland menegaskan dominasi yang lahir dari keunggulan jumlah pemain. Di sisi lain, perpisahan emosional Dzeko menjadi momen refleksi atas panjangnya perjalanan seorang penyerang bersama tim nasionalnya.

Bagi Poland, hasil besar ini menjadi bekal penting untuk menjaga momentum di sisa kompetisi. Bagi Romania, rentetan hasil buruk menuntut pembenahan cepat. Sementara itu, kepergian Dzeko menutup satu babak dalam sejarah sepak bola Bosnia-Herzegovina, sekaligus membuka jalan bagi generasi baru untuk mengambil alih peran.