Pelatih timnas Argentina, Lionel Scaloni, menyebut perpisahan Lionel Messi akan menjadi momen yang sangat emosional dan sulit dilupakan. Menurutnya, besarnya antusiasme publik Argentina terhadap sang kapten bahkan membuat Stadion Monumental seolah bisa terisi hingga lima kali lipat jika kapasitasnya memungkinkan. Laga pamungkas itu sendiri akan digelar melawan Benin pada Selasa, menjadi penampilan terakhir Messi bersama Albiceleste.
Pertandingan tersebut menutup perjalanan panjang Messi di level internasional, setelah ia memutuskan pensiun dari tim nasional. Ia mengakhiri kariernya bersama Argentina dengan 208 penampilan senior, jumlah terbanyak sepanjang sejarah tim tersebut. Momen ini sekaligus menandai dimulainya babak baru bagi Argentina, yang harus beradaptasi tanpa sosok yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perhatian.
Laga Perpisahan Lionel Messi Digelar Melawan Benin
Duel kontra Benin menjadi pertandingan paling ditunggu pada jeda internasional kali ini. Sebelumnya, Argentina tampil meyakinkan dengan menggulung Burkina Faso 7-0 pada Sabtu, menyusul kemenangan 4-0 atas Bolivia. Dua hasil besar itu membuat Argentina menyapu bersih seluruh laga di jeda internasional, tetapi sorotan utama tetap tertuju pada partai penutup melawan Benin.
Scaloni mengaku tidak bisa membayangkan laga tersebut berjalan tanpa gelombang emosi. Menurutnya, hari Selasa nanti bukan hanya milik Messi, melainkan juga milik para rekan setim yang turut merasakan kebahagiaan terbesar dalam karier sepak bola mereka. “Saya membayangkan pertandingan Selasa akan sangat emosional bagi semua orang, termasuk Leo. Itu akan menjadi hari yang tak terlupakan,” kata Scaloni.
Pelatih berusia 48 tahun itu juga menyatakan dirinya akan menjadi sekadar penonton pada momen perpisahan tersebut. Ia mengaku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati suasana yang ia yakini hanya terjadi sekali seumur hidup. “Saya ingin orang-orang memahami apa yang ia sampaikan di lapangan, kepada rekan setimnya, kepada lawan, dan kepada orang-orang di luar sana. Itulah yang akan paling kami rindukan,” ujarnya.
Rekam Jejak Messi Bersama Timnas Argentina
Sepanjang karier internasionalnya, Messi meninggalkan catatan yang sulit disamai pemain mana pun. Ia mengumpulkan 208 penampilan senior, terbanyak di antara seluruh pemain dalam sejarah timnas Argentina. Selain itu, ia juga menjadi pencetak gol terbanyak Argentina dengan 125 gol.
Di panggung Piala Dunia, kontribusi Messi bahkan lebih menonjol lagi. Ia tercatat sebagai pemain dengan keterlibatan gol terbanyak dalam sejarah turnamen itu, yakni 33 gol yang terdiri dari 21 gol dan 12 assist. Pria berusia 39 tahun tersebut juga menjadi satu-satunya pemain yang menjadi starter dalam tiga final Piala Dunia.
Puncak kariernya bersama Argentina terjadi saat ia membawa negaranya menjuarai Piala Dunia di Qatar empat tahun lalu. Gelar tersebut menjadi pembalasan sekaligus penutup dahaga panjang Argentina di ajang paling bergengsi tersebut. Atas seluruh pencapaian itu, Scaloni menilai Messi pantas mendapatkan sambutan yang setara dengan statusnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa.
Latar Belakang Keputusan Pensiun Messi
Keputusan Messi gantung sepatu dari tim nasional lahir tak lama setelah Argentina menelan kekalahan pahit di final Piala Dunia bulan Juli. Dalam laga yang berjalan hingga babak tambahan waktu, Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol dan puas menyandang status runner-up. Kekalahan itulah yang menjadi titik akhir perjalanan Messi di pentas internasional.
Meski harus menerima hasil tersebut, Argentina menunjukkan respons yang impresif pada jeda internasional setelahnya. Kemenangan 7-0 atas Burkina Faso dan 4-0 atas Bolivia memperlihatkan bahwa tim ini masih memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi. Dua hasil itu juga menjadi sinyal bahwa Argentina tidak sepenuhnya bergantung pada satu nama besar saja.
Bagi para pendukung, perpisahan ini terasa istimewa karena Messi meninggalkan warisan yang jauh melampaui angka-angka statistik. Ia bukan hanya pencetak gol, tetapi juga simbol kebangkitan sepak bola Argentina selama lebih dari satu dekade. Karena itu, laga melawan Benin diprediksi akan berlangsung dalam atmosfer penuh haru, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Argentina Mulai Masuk Era Pascamessi
Terlepas dari besarnya kehilangan sosok Messi, Argentina tampaknya sudah menyiapkan generasi penerusnya. Sejumlah pemain muda menunjukkan performa menjanjikan dalam beberapa pertandingan terakhir, di antaranya Nico Paz dan Franco Mastantuono. Kehadiran mereka memberi gambaran bahwa proses regenerasi berjalan sesuai rencana.
Scaloni menegaskan bahwa laga melawan Benin juga menjadi hari istimewa bagi para pemain lain. Ia menyebut mereka turut berjasa karena telah menghadirkan kebahagiaan terbesar dalam karier sepak bola Messi. Dengan kata lain, perpisahan ini sekaligus menjadi jembatan antara generasi emas yang baru saja berakhir dan angkatan baru yang siap mengambil alih.
Bagi Argentina, transisi semacam ini bukan perkara sederhana. Tim harus menemukan kembali identitas permainannya tanpa sosok yang selama ini menjadi poros serangan. Namun, hasil-hasil positif di jeda internasional memberi optimisme bahwa Albiceleste masih mampu bersaing di turnamen-turnamen besar mendatang.
Masa Depan Scaloni dan Arah Baru Albiceleste
Di tengah pergantian pemain, Argentina setidaknya memiliki kesinambungan di bangku pelatih. Scaloni diperkirakan akan memperpanjang kontraknya hingga setidaknya Copa America 2028, dengan kemungkinan berlanjut sampai Piala Dunia 2030. Kabar itu tentu menjadi angin segar bagi skuad yang masih membutuhkan sosok pemersatu.
Gelandang Enzo Fernandez menegaskan betapa pentingnya keberlanjutan tersebut bagi tim. Menurutnya, Scaloni adalah sosok yang membangun fondasi permainan Argentina saat ini. “Akan sangat penting bagi kami jika ia melanjutkan, dialah yang menyusun semua ini. Kami harus terus bersaing di level tertinggi,” ujar Fernandez.
Fernandez juga menekankan bahwa timnya kini harus bisa memproses kepergian Messi dengan tenang. Ia berharap Argentina tetap berjalan di jalur yang sama seperti yang telah dirintis selama ini. Sementara itu, saat ditanya bagaimana ia menjaga gairah setelah delapan tahun menangani Argentina, Scaloni mengaku selalu berusaha menikmati setiap prosesnya dan tidak mau hanya terkurung di ruang kerja sepak bola.
Semua itu membuat laga melawan Benin lebih dari sekadar pertandingan biasa. Ini adalah titik temu antara penghormatan atas masa lalu dan persiapan menuju masa depan. Argentina boleh kehilangan pemain terbaiknya, tetapi fondasi yang dibangun selama bertahun-tahun diharapkan tetap kokoh.
Perpisahan Lionel Messi melawan Benin akan menjadi penutup manis sekaligus momen penuh emosi bagi sepak bola Argentina. Dengan 208 penampilan, 125 gol, dan sederet rekor lain, Messi meninggalkan warisan yang nyaris mustahil diulang. Kini tugas Argentina adalah membuktikan bahwa mereka mampu melangkah maju, dengan Scaloni sebagai kompas dan generasi muda sebagai tenaga baru.
