Pochettino Tuntut Gelar Premier League untuk Tottenham

Mauricio Pochettino menilai Chelsea seharusnya dicabut gelar Premier League musim 2016-17 dan trofi itu diberikan kepada Tottenham Hotspur, tim yang ia asuh saat finis sebagai runner-up. Menurutnya, pelanggaran aturan kompetisi yang diakui Chelsea membuat persaingan musim tersebut berjalan tanpa aturan main yang setara. Karena itu, ia menyebut gelar juara semestinya berpindah ke tim yang berada di peringkat kedua.

Pernyataan tersebut muncul setelah Chelsea dijatuhi denda total £10,75 juta pada Maret lalu akibat pelanggaran historis aturan kompetisi. Chelsea juga sempat menerima pengurangan enam poin yang “dikesampingkan” dalam proses banding. Kasus ini mencuat setelah pemilik baru klub, Todd Boehly dan Clearlake Capital, melaporkan sendiri 74 pelanggaran aturan Asosiasi Sepak Bola (FA) saat mengakuisisi Chelsea pada 2022.

Isi Tuntutan Pochettino soal Gelar Premier League

Bagi Pochettino, tuntutan ini bukan sekadar soal rasa kecewa karena kalah bersaing. Ia menegaskan bahwa timnya tidak pernah memulai musim dengan kondisi yang sama dengan Chelsea, sehingga capaian finis di posisi kedua tidak mencerminkan kekuatan sesungguhnya kedua tim. Argumen itulah yang ia pakai untuk menyimpulkan bahwa gelar 2016-17 layak dialihkan kepada Tottenham.

Berikut poin-poin pernyataan yang ia sampaikan, seperti dikutip dari wawancaranya:

  • “Kita seharusnya memenangi satu gelar, satu Premier League. Kita seharusnya diberi gelar itu.”
  • “[Chelsea] dihukum, mereka mengakui, jadi hanya sampai di situ? Gelar itu seharusnya untuk tim yang finis di posisi kedua.”
  • “Benar bahwa kami tidak berkompetisi dengan aturan yang sama. Sepenuhnya adil untuk mengatakan bahwa kami tidak memulai musim dengan kartu yang sama.”
  • “Mungkin dengan aturan yang sama, jika kami menerapkan hal yang sama, mungkin kami bisa mendatangkan beberapa pemain yang membuat tim lebih baik atau mencetak lebih banyak gol.”
  • “Ini bukan saya yang mengeluh — ini kenyataan. Jika mereka mengakui melanggar aturan, gelar Premier League adalah untuk tim terbaik kedua.”
  • “Saya tidak takut mengatakan kebenaran. Fans Chelsea akan kesal kepada saya karena mengatakan ini, tapi jika kami di Tottenham yang melanggar aturan, saya akan mengakui hal yang sama.”

Ia juga menyadari bahwa sikapnya berpotensi memicu reaksi keras dari pendukung Chelsea, terutama karena ia pernah menjadi pelatih klub London barat itu pada musim 2023-24. Meski demikian, ia tetap memilih menyampaikan pandangannya secara terbuka.

Kronologi Pelanggaran Chelsea 2011-2018

Akar persoalan ini adalah pengungkapan diri yang dilakukan pemilik baru Chelsea pada 2022. Setelah melaporkan potensi pelanggaran aturan, Chelsea menyatakan bahwa pihaknya “menangani persoalan ini dengan sangat serius dan memberikan kerja sama penuh kepada semua regulator terkait”. Laporan itu kemudian berkembang menjadi investigasi resmi Premier League.

Hasil investigasi menemukan adanya pembayaran oleh pihak ketiga yang berafiliasi dengan Chelsea kepada para pemain, agen tidak terdaftar, dan pihak ketiga lainnya. Pembayaran tersebut tidak diungkapkan kepada otoritas regulasi pada saat transaksi berlangsung. Chelsea sendiri mengakui adanya pembayaran rahasia senilai £47 juta kepada agen tidak terdaftar dan pihak ketiga sepanjang periode transfer 2011 hingga 2018.

Transaksi yang Disebut dalam Laporan

Laporan Premier League menyebut sejumlah transfer yang berkaitan dengan pembayaran tersebut, termasuk nama-nama seperti Eden Hazard, Samuel Eto’o, Willian, Ramires, David Luiz, Andre Schurrle, dan Nemanja Matic. Tidak ada indikasi adanya kesalahan dari para pemain yang namanya tercantum. Empat di antara mereka — Hazard, Willian, Matic, dan David Luiz — turut memperkuat Chelsea pada musim 2016-17 yang kini dipersoalkan Pochettino.

Mengapa Chelsea Tidak Kena Pengurangan Poin

Premier League melakukan serangkaian penghitungan ulang atas laporan keuangan historis klub dengan memasukkan pembayaran yang sebelumnya tidak diungkapkan. Dari perhitungan itu, liga menyimpulkan bahwa Chelsea tidak akan melanggar aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) seandainya pembayaran tersebut tercatat resmi pada waktunya.

Kesimpulan inilah yang membuat Premier League menilai pengurangan poin bukan hukuman yang tepat. Denda sebesar £10 juta seharusnya bernilai £20 juta, tetapi dipotong 50 persen karena Chelsea melaporkan sendiri pelanggaran itu secara proaktif dan kooperatif selama proses berjalan. Denda tambahan £750.000 pada Maret lalu diberikan terkait pendaftaran pemain akademi antara 2019 dan 2022, yang juga berujung pada larangan transfer akademi selama sembilan bulan secara langsung.

Dampak Tuntutan bagi Chelsea dan Tottenham

Secara praktis, permintaan Pochettino tidak memiliki jalur resmi yang sederhana. Gelar Premier League 2016-17 sudah tercatat sebagai milik Chelsea, dan sanksi yang dijatuhkan liga tidak mencakup pencabutan trofi. Artinya, tuntutan ini lebih berfungsi sebagai tekanan opini publik dan penegasan posisi moral dibanding langkah hukum yang bisa langsung mengubah catatan sejarah kompetisi.

Namun, pernyataan itu tetap berdampak pada cara publik memandang musim 2016-17. Chelsea saat itu finis tujuh poin di atas Tottenham asuhan Pochettino, sebuah selisih yang dalam narasi Pochettino menjadi tidak sepenuhnya sah karena dibangun di atas aturan yang berbeda. Bagi Tottenham, klaim ini menghidupkan kembali perdebatan lama tentang satu-satunya musim di mana mereka benar-benar menempel ketat di puncak klasemen.

Jejak Pochettino di Tottenham dan Chelsea

Pochettino menangani Tottenham dari 2014 hingga 2019 dan membawa klub itu ke final Liga Champions 2019. Meski tidak mempersembahkan trofi selama lima tahun di sana, finis runner-up Premier League 2017 menjadi pencapaian terbaiknya di kompetisi domestik.

Kegagalan meraih gelar bersama Spurs inilah yang membuat tuntutannya kali ini terasa personal. Ia menyebut bahwa dengan aturan yang setara, Tottenham mungkin bisa mendatangkan pemain yang membuat tim lebih tajam dan mencetak lebih banyak gol. Setelah meninggalkan Tottenham, ia justru sempat menangani Chelsea pada musim 2023-24, sehingga kritiknya terhadap klub berjuluk The Blues itu memiliki dimensi tersendiri.

Konteks Lebih Luas: Preseden Sanksi dan Masa Depan

Kasus Chelsea ini menjadi bagian dari tren yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir, di mana liga semakin ketat menelusuri pelanggaran aturan finansial dan registrasi pemain. Model pelaporan diri seperti yang dilakukan pemilik baru Chelsea, Todd Boehly dan Clearlake Capital, memang lazim menghasilkan keringanan hukuman karena dianggap membantu proses investigasi.

Konsekuensinya, muncul pertanyaan etis yang lebih luas: seberapa jauh keringanan bagi pihak yang mengakui kesalahan bisa diterima, terutama ketika pelanggaran itu terjadi pada musim-musim yang sudah berlalu. Karena sanksi tidak menyentuh capaian olahraga di lapangan, pihak yang merasa dirugikan secara kompetitif akan terus mempertanyakan keadilan hasil akhirnya.

Ke depan, perdebatan semacam ini berpotensi mendorong desakan agar sanksi pelanggaran historis turut mempertimbangkan dampak kompetitif, bukan hanya perhitungan finansial. Tanpa perubahan kerangka aturan, gelar-gelar yang sudah diraih tetap aman secara administratif, meski legitimasinya bisa terus menjadi bahan sengketa di ruang publik.

Penutup

Tuntutan Pochettino menempatkan kembali kasus pelanggaran historis Chelsea sebagai sorotan, dengan argumen utama bahwa tim peringkat kedua seharusnya mewarisi gelar ketika juaranya terbukti melanggar aturan. Fakta yang tersedia — denda £10,75 juta, pengakuan pembayaran rahasia £47 juta, serta keputusan liga yang tidak menjatuhkan pengurangan poin — menjadi dasar tuntutan sekaligus alasan mengapa permintaan itu sulit diwujudkan secara formal.

Terlepas dari apakah gelar 2016-17 akan pernah berpindah tangan, pernyataan ini menegaskan satu hal: bagi Pochettino, nilai sebuah trofi tidak hanya ditentukan oleh jumlah poin di akhir musim, tetapi juga oleh aturan main yang berlaku sejak pekan pertama.