Joy-Lance Mickels Siap Cetak Sejarah di Liga Champions

Penyerang tim nasional Rwanda, Joy-Lance Mickels, bersiap mewujudkan mimpi masa kecilnya ketika Sabah bertandang ke markas Manchester United pada laga pembuka fase liga Liga Champions, Kamis pukul 20.00 waktu setempat (BST). Pemain berusia 32 tahun itu diperkirakan tampil sebagai starter di lini depan klub asal Azerbaijan tersebut. Laga di Old Trafford ini bukan sekadar pertandingan pembuka biasa, melainkan momen bersejarah bagi Sabah yang baru pertama kali menembus kompetisi elite Eropa.

Mickels mengaku telah menjadi pendukung Manchester United sejak kecil, sehingga undian yang mempertemukannya dengan Setan Merah terasa seperti hasil terbaik. Ia juga berpeluang menjadi pesepak bola pertama asal Rwanda yang bermain di fase utama Liga Champions. Sementara itu, Sabah adalah klub yang baru berdiri sembilan tahun lalu dan kini harus menghadapi deretan raksasa Eropa, mulai dari Manchester United, Barcelona, Borussia Dortmund, hingga Arsenal.

Profil Joy-Lance Mickels dan Mimpinya di Old Trafford

Bagi Mickels, bermain di Old Trafford terasa seperti menutup lingkaran perjalanan kariernya. Ia mengaku menyempatkan diri menonton setiap pertandingan Manchester United bila ada kesempatan. Karena itu, ia menyebut laga ini sebagai momen yang membanggakan, apalagi Setan Merah dikenal sebagai salah satu klub terbesar di dunia.

Ia bahkan menyebut hasil undian ini sebagai skenario terbaik yang bisa didapat Sabah. Menurutnya, bermain di stadion bersejarah milik Manchester United membuat laga pembuka fase liga terasa jauh lebih istimewa. Berikut sejumlah fakta singkat tentang Mickels menjelang laga tersebut:

  • Berusia 32 tahun dan berposisi sebagai penyerang.
  • Sedang menjalani periode kedua bersama Sabah, setelah sebelumnya memperkuat klub itu pada 2021–2023.
  • Kembali ke Bank Respublika Arena dua tahun lalu.
  • Klubnya berbasis di Kota Masazir, sekitar 16 km (10 mil) di barat laut Baku, ibu kota Azerbaijan.

Statusnya sebagai pemain yang sudah dua kali memperkuat Sabah membuat Mickels bukan sosok asing di ruang ganti. Ia memahami betul karakter klub maupun tuntutan kompetisi di Azerbaijan. Pengalaman itu dinilai penting ketika Sabah harus menghadapi lawan-lawan dengan kualitas jauh di atas rata-rata.

Perjalanan Sabah Menembus Fase Liga Liga Champions

Sabah melangkah ke fase liga sebagai juara Liga Premier Azerbaijan, sebuah pencapaian yang membuat mereka tampil di Liga Champions untuk pertama kalinya. Untuk sampai ke sana, klub yang baru berdiri sembilan tahun silam itu harus melewati empat babak kualifikasi yang masing-masing dimainkan dalam format dua leg. Mickels menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut dengan menyumbang empat gol.

Gol Krusial Melawan Hapoel Be’er Sheva

Salah satu gol Mickels menjadi penentu lolosnya Sabah ke fase utama. Dalam laga play-off melawan klub Israel, Hapoel Be’er Sheva, Sabah akhirnya menang dengan agregat 6-4. Hasil itu tercipta setelah sebuah gol pada menit ke-94 memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu, dan gol Mickels memastikan langkah mereka tidak terhenti.

Mickels menyebut capaian ini sebagai prestasi bersejarah bagi Sabah. Menurutnya, memulai fase liga di Old Trafford menambah keseruan tersendiri. Namun ia menegaskan bahwa timnya tidak datang hanya untuk menikmati suasana, melainkan untuk bersaing dan membuktikan bahwa Sabah layak berada di kompetisi ini, baik atas nama klub maupun Azerbaijan.

Jejak Sejarah bagi Rwanda

Perjalanan karier Mickels tidak selalu mulus. Ia menghabiskan paruh awal kariernya di liga-liga bawah Jerman, negara tempat ia lahir dan dibesarkan, sebelum kemudian mencoba peruntungan di Belanda dan Arab Saudi. Menurutnya, setiap pengalaman di level dan negara berbeda telah membantunya tumbuh, baik sebagai pesepak bola maupun sebagai pribadi.

Mickels berhak memperkuat Rwanda melalui garis keturunan orang tuanya. Ia menjalani debut bersama tim nasional Rwanda pada Maret lalu, dan kini berada di ambang menjadi pemain pertama dari negara Afrika Timur itu yang tampil di fase utama Liga Champions. Pencapaian tersebut ia anggap sangat istimewa karena berjalan beriringan dengan kebanggaannya terhadap akar Rwanda.

Ia berharap perjalanannya bisa menginspirasi pesepak bola muda Rwanda. Menurutnya, dengan keyakinan, kerja keras, dan kesabaran, bukan hal mustahil bagi pemain dari negara kecil untuk mencapai puncak karier di dunia sepak bola. Pesan itu ia sampaikan sebagai bentuk tanggung jawab moral atas sorotan yang kini mengarah padanya.

Jadwal Berat Sabah dan Peluang Mengejutkan

Setelah membuka kampanye di Old Trafford, Sabah masih harus menghadapi sejumlah laga bergengsi. Mereka dijadwalkan menjamu mantan juara Borussia Dortmund dan Barcelona. Pada laga terakhir fase liga, Sabah kembali harus terbang ke Inggris untuk menghadapi Arsenal, juara bertahan Liga Premier.

Karena stadion mereka tidak memenuhi regulasi UEFA, laga-laga kandang tersebut diperkirakan digelar di Stadion Olimpiade di Baku. Kondisi ini menambah tantangan tersendiri, sebab Sabah kehilangan keuntungan bermain di kandang sendiri yang sesungguhnya. Meski demikian, bermain di stadion besar justru memberi pengalaman berbeda bagi para pemain.

Mickels menilai setiap pertandingan di Liga Champions istimewa karena lawan-lawannya adalah tim dan pemain terbaik Eropa. Ia mengakui Manchester United dan Barcelona langsung mencuri perhatian karena sejarah serta reputasi global keduanya. Bermain di Old Trafford dan menjamu Barcelona di Baku, katanya, adalah jenis laga yang diimpikan setiap pesepak bola.

Kendati demikian, ia menekankan pentingnya menghormati semua lawan. Setiap pertandingan, menurutnya, adalah kesempatan bagi Sabah untuk menguji kemampuan di level tertinggi. Sikap itu menunjukkan bahwa timnya tidak ingin hanya menjadi pelengkap di fase liga.

Modal Sabah dan Cerita Unik Sang Pelatih

Mickels mencetak 19 gol saat Sabah meraih gelar liga pertama dalam sejarah klub musim lalu. Meski menyadari timnya akan berstatus underdog di Liga Champions, ia melihat lolosnya Sabah ke fase liga sebagai peluang bersejarah yang harus dimaksimalkan. Targetnya jelas: tampil kompetitif, memetik pengalaman berharga, menciptakan momen tak terlupakan bagi pendukung, dan mengumpulkan poin sebanyak mungkin.

Di balik bangku cadangan, pelatih Sabah, Valdas Dambrauskas, punya kisah yang tak kalah menarik. Ia disebut memanfaatkan hadiah dari penampilannya di versi Lituania kuis Who Wants to Be a Millionaire? untuk membangun karier di dunia sepak bola. Kisah itu menambah dimensi unik pada perjalanan Sabah di kompetisi ini.

Mickels mengakui tampil di fase utama Liga Champions memberi perasaan istimewa bagi seluruh isi klub. Namun ia menegaskan skuad tetap bertekad memberi dampak nyata, bukan sekadar menjalani laga demi laga. Ambisi itu ia rumuskan dalam satu target sederhana: pulang dengan poin dan mempersulit lawan mana pun untuk meraih poin atas Sabah.

Bagi Sabah, fase liga ini adalah ujian sekaligus hadiah atas kerja keras klub yang usianya masih sangat muda. Menghadapi tim-tim mapan Eropa akan menguji kedalaman skuad dan mental para pemain. Terlepas dari hasilnya, pengalaman ini berpotensi menjadi fondasi penting bagi perkembangan klub dalam beberapa tahun ke depan.

Bagi Joy-Lance Mickels sendiri, laga di Old Trafford menjadi titik pertemuan antara masa kecilnya sebagai penggemar dan kenyataan kariernya saat ini. Ia datang bukan sebagai penonton, melainkan sebagai penyerang yang dipercaya menggedor pertahanan klub idolanya. Jika mampu mencetak sejarah bagi Rwanda dan Sabah sekaligus, malam itu akan dikenang jauh lebih lama daripada sekadar satu pertandingan pembuka.