Mesir vs Argentina: Duel Sengit Messi dan Salah di Atlanta

Euforia kemenangan dramatis Mesir atas Australia masih terasa ketika fokus publik mulai beralih ke tantangan yang jauh lebih besar. Mohamed Salah, yang menjadi pahlawan lewat penalti krusial di babak adu penalti, kini bersiap menghadapi tim terkuat di dunia: Argentina. Laga Mesir vs Argentina di perempat final Piala Dunia 2025 ini menjadi sorotan utama, terutama karena mempertemukan dua ikon sepak bola modern: Lionel Messi dan Mohamed Salah.

Kepercayaan Diri Mesir Usai Kalahkan Australia

Kemenangan 5-4 melalui adu penalti di Dallas pada Jumat lalu menjadi tonggak sejarah bagi Mesir. Untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, mereka lolos ke perempat final Piala Dunia. Keberhasilan itu tidak lepas dari ketenangan Mohamed Salah yang mengambil tanggung jawab sebagai eksekutor penalti terakhir, meskipun sebelumnya ia gagal dalam dua adu penalti sebelumnya, termasuk play-off kualifikasi Piala Dunia melawan Senegal pada 2022.

Salah mengakui keputusannya di menit terakhir. “Saya lebih berpengalaman dari yang lain dan ingin memberi mereka kepercayaan diri,” ujarnya. “Saya tidak tahu apakah ini Piala Dunia terakhir saya, jadi saya harus melakukannya. Hari ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya.” Pernyataan itu menunjukkan betapa besarnya arti laga Mesir vs Argentina bagi sang kapten.

Sejarah Pertemuan Messi dan Salah

Meskipun sudah menjadi bintang global, Messi dan Salah belum pernah bertemu di level internasional. Keduanya hanya bertemu dua kali di Liga Champions: pertama saat Salah masih membela Roma pada 2015, dan kedua pada semifinal 2019 ketika Liverpool kalah 0-3 di Camp Nou. Sebagian penggemar ingat betul bagaimana Liverpool membalikkan keadaan di leg kedua tanpa Salah yang mengalami cedera gegar otak. Momen itu justru menginspirasi kebangkitan legendaris Liverpool.

Kini, mereka akan beradu taktik di Atlanta. Bagi Salah, ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk mengukur kemampuan melawan sang idola. “Saya ingin bertemu Messi,” katanya sambil tersenyum saat ditanya lawan impian di Piala Dunia terakhirnya.

Mereka Punya Messi, Kami Punya Salah

Direktur tim nasional Mesir, Ibrahim Hassan, menegaskan bahwa timnya tidak gentar. “Kami tidak fokus pada Messi. Kami bilang ke pemain untuk bermain sendiri dan mengabaikan siapa lawan mereka. Mereka mungkin punya Messi, tapi kami punya Mohamed Salah – dan kami punya 26 Messi versi kami sendiri.” Sikap percaya diri ini menjadi modal berharga jelang Mesir vs Argentina.

Kebugaran Pemain Jadi Perhatian Utama

Masalah terbesar Mesir adalah kebugaran Salah. Ia dipulangkan tergesa-gesa dari cedera hamstring yang diderita saat melawan Iran di fase grup. Istirahatnya hanya empat hari setelah pertandingan melawan Australia, sementara Argentina juga mengalami jadwal padat. Mantan penyerang Argentina, Sergio Agüero, mengkhawatirkan hal ini. “Banyak pemain kram, dan sekarang mereka harus melawan Mesir yang fisiknya kuat. Mereka juga punya kualitas lebih di depan daripada Cape Verde,” ujarnya.

Kekhawatiran Agüero beralasan. Cape Verde berhasil merepotkan pertahanan Argentina yang berpengalaman. Mesir bisa memanfaatkan celah itu, apalagi dengan kehadiran Omar Marmoush dari Manchester City yang belum menunjukkan performa terbaiknya, namun tetap dianggap ancaman.

Bintang Muda Mesir: Suksesor Salah

Salah satu cerita menarik adalah munculnya striker remaja Hamza Abdelkarim yang bermain untuk tim B Barcelona. Ia telah menjadi pengganti yang solid di setiap pertandingan dan dianggap sebagai penerus alami Salah. Abdelkarim mengaku belajar banyak dari sang kapten, baik di dalam maupun luar lapangan. Namun saat ditanya soal mimpi bertemu Messi, ia menjawap rendah hati: “Kami bermain melawan Argentina, bukan melawan Messi.”

Kontrak dan Masa Depan Salah

Kabar besar lain bagi penggemar Mesir adalah bahwa Salah dipastikan tetap menjadi kapten hingga Piala Dunia 2030, dengan Hossam Hassan tetap sebagai pelatih. Namun status klub Salah musim depan belum jelas setelah kontraknya di Liverpool berakhir pada 1 Juli lalu. Spekulasi mengarah ke Liga Arab Saudi, namun tidak menutup kemungkinan ia pindah ke klub Eropa lainnya. Pada Mei lalu, Salah mengaku punya banyak opsi bagus.

Cedera dan ketidakcocokan dengan mantan pelatih Liverpool, Arne Slot, sempat mengganggu musim terakhirnya. Namun statistik membuktikan bahwa ia masih menjadi pemain dengan peluang tercipta terbanyak di Piala Dunia ini (16 peluang). Bahkan dalam kondisi setengah fit, Salah tetap berbahaya.

Kesimpulan: Mesir Siap Kejutkan Dunia

Dengan semangat “tidak ada yang hilang” setelah menang di laga knockout pertama, Mesir menjadi lawan yang tidak bisa dianggap remeh oleh Argentina. Salah sendiri masih membutuhkan satu gol lagi untuk menyamai rekor gol nasional pelatihnya Hossam Hassan (69 gol). Jika ia berhasil mencetak gol dalam laga Mesir vs Argentina nanti, bukan tidak mungkin ia memperpanjang karier hingga Piala Dunia berikutnya, mengikuti jejak Messi yang masih bermain di usia 39 tahun.

Satu hal yang pasti: duel di Atlanta ini bukan sekadar pertandingan, melainkan pertemuan dua generasi legenda yang akan dikenang lama.