Trent Alexander-Arnold akhirnya dipercaya tampil sebagai starter untuk timnas Inggris, dan ia langsung membalasnya dengan satu momen kelas dunia. Bek kanan berusia 27 tahun itu mengirim umpan silang menawan yang berbuah assist bagi Anthony Gordon dalam laga Nations League melawan Republik Ceko di Praha. Momen tersebut menjadi penentu kemenangan Inggris sekaligus bukti bahwa pemain Real Madrid ini masih punya tempat di skema permainan Thomas Tuchel.
Penampilan itu terasa penting karena selama ini hubungan antara keduanya diwarnai keraguan. Sejak terakhir kali menjadi starter untuk Inggris pada Oktober 2024, Trent Alexander-Arnold sudah menjuarai Premier League bersama Liverpool lalu pindah ke Real Madrid, namun namanya justru nyaris tak pernah muncul dalam rencana Tuchel. Pemanggilannya kembali ke kamp Nations League empat pertandingan kali ini pun terbilang mengejutkan, mengingat begitu dalamnya ia tersingkir dari daftar pilihan pelatih asal Jerman itu.
Momen Kelas Dunia yang Membuka Kebuntuan
Ceko harus bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-25 setelah Pavel Sulc dikartu merah akibat tekel ceroboh terhadap Elliot Anderson. Meski unggul jumlah pemain, Inggris tetap kesulitan menembus pertahanan rapat lawan dan terlihat sekadar menguasai bola tanpa ancaman berarti. Alexander-Arnold sendiri sempat melakukan sprint sejauh 70 yard untuk menambah opsi serangan, sebuah usaha yang menunjukkan betapa besar keinginannya memberi kontribusi.
Upaya itu akhirnya berbuah dua menit setelah jeda. Ketika serangan sebelumnya gagal, ia merebut kembali bola lalu melepas umpan silang kaki kanan yang melengkung melewati tiga bek Ceko, menyisakan sundulan mudah bagi Anthony Gordon yang menyambutnya dengan gerakan membungkuk. Gordon memang membuat penyelesaian itu terlihat sederhana, padahal kualitas bola yang datang membuat prosesnya jauh lebih sulit daripada yang tampak di layar. Satu sentuhan itu cukup untuk meruntuhkan pertahanan Ceko yang sebelumnya begitu keras kepala.
Perlu dicatat, nama yang tertulis di punggung kausnya kini hanya “Trent”, tetapi peran yang ia mainkan tetap khas pemain yang selama ini dikenal sebagai pengirim bola terbaik di posisinya. Bagi Tuchel, aksi itu adalah bukti konkret dari hal yang tidak pernah ia ragukan soal pemain ini. Pertanyaannya kemudian, apakah bukti tersebut cukup untuk mengubah cara pandangnya?
Perjalanan Trent Alexander-Arnold di Timnas Inggris
Untuk memahami kenapa penampilan ini terasa begitu berarti, kita perlu melihat kembali kronologi penyingkiran yang dialaminya. Penampilan terakhirnya sebagai starter untuk Inggris terjadi saat Lee Carsley masih menjabat pelatih interim, ketika Alexander-Arnold dipasang sebagai bek kiri dan mencetak gol dalam kemenangan 3-1 di Finlandia pada Oktober 2024. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi dipercaya dari menit pertama oleh Tuchel.
Puncaknya, ia diabaikan dari skuad Inggris untuk Piala Dunia pada musim panas lalu. Fakta ini terasa ironis karena posisi bek kanan justru menjadi peran yang bermasalah bagi Tuchel, seolah apa pun pertanyaan sang pelatih tentang pos itu, Alexander-Arnold tidak akan pernah masuk dalam jawabannya. Situasi makin menegaskan statusnya sebagai opsi yang diasingkan, bukan sekadar pemain pelapis biasa.
Ketika akhirnya diberi kesempatan menjadi starter melawan Ceko, ia mencatatkan diri sebagai bek kanan kesembilan yang dipakai Tuchel dalam 24 pertandingan. Angka itu menggambarkan betapa seringnya sang pelatih mencoba pemain berbeda di posisi tersebut tanpa menemukan sosok yang benar-benar pas. Laga di Praha dimainkan Inggris dengan latar kebutuhan bangkit setelah kalah 3-2 dari Spanyol, juara Piala Dunia, di Wembley.
Respons Tuchel dan Pujian dari Rekan Setim
Tuchel tidak menyembunyikan kepuasannya atas kontribusi Alexander-Arnold dalam laga itu. Kepada BBC Radio 5 Live ia menyebut pemainnya bermain sangat baik dan menghasilkan assist yang luar biasa. Menurutnya, secara keseluruhan ia tampil profesional dengan sikap yang bagus serta satu aksi yang benar-benar menentukan hasil pertandingan.
Sang pelatih juga menyinggung soal posisi bermain yang berpengaruh pada performa anak asuhnya. Ia menilai posisi yang lebih dalam di babak kedua lebih cocok untuk Alexander-Arnold dibanding posisi tinggi yang ia tempati di babak pertama. Tuchel menambahkan bahwa kartu merah cepat selalu memberi pengaruh besar pada jalannya pertandingan, termasuk membuat tugas Inggris kadang terasa lebih rumit secara psikologis.
Dari sisi penerima umpan, Anthony Gordon memberi pujian yang tak kalah tegas. Ia mengaku berkali-kali melakukan lari yang sama dan hanya segelintir pemain yang punya kemampuan, teknik, serta keberanian untuk mengambil risiko umpan seperti itu. Gordon bahkan menyebut dirinya sudah lama menantikan kesempatan bermain bersama Alexander-Arnold karena alasan tersebut.
Gordon juga menyinggung perjalanan Alexander-Arnold bersama timnas Inggris. Menurutnya, pemain itu pasti ingin tampil lebih sering, tetapi selama kamp latihan ia menunjukkan karakter yang hebat dan menyenangkan untuk berada di sekitarnya.
Analisis: Apa Arti Penampilan Ini bagi Inggris?
Secara statistik, kontribusi Alexander-Arnold dalam laga itu memang menonjol. Hanya Elliot Anderson yang mencatat lebih banyak umpan di sepertiga akhir dibanding dirinya, dan hanya Gordon yang menciptakan lebih banyak peluang daripada tiga peluang yang ia hasilkan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ia bukan hanya bek yang bertahan, melainkan sumber kreativitas yang bisa mengubah tempo permainan.
Keraguan yang selama ini melekat padanya lebih banyak berkaitan dengan kemampuan bertahan. Dalam pertandingan melawan Ceko, aspek itu memang tidak benar-benar diuji karena lawan tampil dengan sepuluh pemain dan lebih banyak bertahan. Artinya, pertanyaan soal pertahanan masih menunggu jawaban di laga lain, dan jawaban itulah yang tampaknya akan menentukan arah pemikiran Tuchel serta masa depan Alexander-Arnold di timnas.
Namun setidaknya, beberapa detik di Praha sudah cukup memperlihatkan nilai jual unik yang selama ini ia perjuangkan. Jika seorang pelatih menilai pemain berdasarkan apa yang bisa ia lakukan dan bukan apa yang tidak bisa, kontribusi seperti ini sulit untuk diabaikan. Inggris pun berhak mempertimbangkan apakah mereka mampu membuang kreativitas sekaliber itu di turnamen besar.
Ujian Berikutnya dan Bayang-bayang Masa Lalu
Tuchel sebenarnya bukan satu-satunya pelatih yang pernah meragukan Alexander-Arnold. Gareth Southgate pernah mencoba memainkannya sebagai gelandang di Euro 2024, tetapi eksperimen itu ditinggalkan setelah 54 menit di laga kedua melawan Denmark dan tak pernah diulang lagi. Kenangan tersebut menjadi pengingat bahwa memaksakan pemain bertalenta besar ke peran yang tidak sesuai bisa berakhir sia-sia.
Jika Tuchel tetap memainkan Alexander-Arnold saat melawan Kroasia di Rijeka pada Sabtu dalam laga tertutup, akan ada lebih banyak hal yang terungkap tentang arah kebijakannya. Momen ini terasa mendekati titik penentuan bagi pemain yang akan berusia 28 tahun pada 7 Oktober tersebut. Bila ia tidak mampu meyakinkan sang pelatih di kamp kali ini, setelah satu aksi pengubah permainan seperti itu, sulit membayangkan kesempatan serupa akan datang lagi.
Alexander-Arnold sendiri menyambut penampilannya dengan nada syukur dan keyakinan. Ia menyebut laga itu luar biasa dan menegaskan bahwa mewakili negaranya selalu menjadi kehormatan. Ia mengaku selalu percaya bisa bermain untuk Inggris, dan tantangannya adalah membuktikannya di level klub sebelum akhirnya mendapat kesempatan dari sang pelatih.
Ia berharap Tuchel senang dengan cara ia bermain, meski seberapa senang sang pelatih masih harus dibuktikan waktu. Yang jelas, ia tidak bisa berbuat lebih banyak lagi di laga itu. Inggris menutup kemenangan melalui gol ke-87 Harry Kane dalam penampilan internasional ke-123, sekaligus membuka perjalanan mereka di kampanye Nations League ini.
Kesimpulan
Penampilan Trent Alexander-Arnold melawan Republik Ceko menjadi jawaban paling jelas atas keraguan yang selama ini menyelimutinya di timnas Inggris. Ia menunjukkan bahwa kualitas umpan dan keberanian mengambil risiko adalah aset yang tidak dimiliki semua bek kanan, termasuk mereka yang sempat dipilih Tuchel sebelumnya. Satu assist tidak menghapus semua pertanyaan soal pertahanan, tetapi ia setidaknya layak mendapat kesempatan untuk menjawabnya.
Yang tersisa kini adalah keputusan Tuchel: terus menilai pemain ini dari kelemahannya, atau mulai membangun permainan Inggris di sekitar kekuatannya. Laga melawan Kroasia akan menjadi indikator awal, dan bagi Alexander-Arnold sendiri, inilah momen yang menentukan apakah kepercayaan itu akhirnya benar-benar datang atau kembali menguap seperti sebelumnya.
