Melepas Bayang-Bayang Guardiola
Pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab Enzo Maresca sebagai pelatih baru Manchester City adalah bagaimana ia mampu keluar dari bayang-bayang Pep Guardiola. Selama satu dekade, Guardiola membawa City meraih 20 trofi, termasuk tiga Community Shield. Maresca sendiri merupakan bagian dari staf kepelatihan saat City memenangkan treble Premier League, FA Cup, dan Liga Champions pada musim 2022-2023. Ini menjadi salah satu modal penting untuk meyakinkan para pemain agar mengikuti arahannya.
Namun, Maresca tidak hanya bergantung pada masa lalunya sebagai asisten. Ia pernah menukangi tim pengembangan elite City dan meraih gelar Premier League 2 pada 2020-2021. Pengalaman memimpin Leicester City promosi ke Premier League pada 2024, serta membawa Chelsea menjuarai Conference League 2025 dan Piala Dunia Antarklub dengan mengalahkan PSG 3-0 di final, menjadi bukti lain bahwa ia punya kemampuan sendiri. Kini, semua mata tertuju padanya untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar bayangan Guardiola.
Anderson Masuk, Rodri Keluar?
Rodri selama ini menjadi sosok pengatur ritme lini tengah City yang mulus. Namun, jelang akhir bursa musim panas, masa depannya mulai dipertanyakan. Pemain berusia 29 tahun itu kerap memberikan sinyal ambigu soal keinginannya bertahan, terutama saat sesi internasional dan Piala Dunia. Ia mengakui bahwa jika tidak ada Piala Dunia, situasinya mungkin akan berbeda. Kontraknya masih berlaku hingga 2027, tapi ketidakpastian ini membuat spekulasi menguat.
Cedera lutut parah yang dialami Rodri pada September 2024 membuatnya kesulitan mengembalikan performa terbaik yang mengantarkannya meraih Ballon d’Or 2024. Penjualan dirinya bisa menjadi langkah bijak bagi kedua belah pihak, terutama karena dana yang diperoleh bisa digunakan untuk mendatangkan pengganti: Elliot Anderson dari Nottingham Forest, yang kabarnya akan ditebus dengan harga £116 juta. Anderson baru berusia 23 tahun dan menjadi andalan Thomas Tuchel di lini tengah timnas Inggris selama kampanye Piala Dunia.
Menutup Jarak dengan Arsenal
Musim lalu Manchester City finis sebagai runner-up dengan selisih tujuh poin dari Arsenal. Gelar juara baru dipastikan pada laga kedua terakhir, saat hasil imbang 1-1 melawan Bournemouth memberikan mahkota kepada The Gunners. Selisih ini terbilang besar, tetapi masih mungkin dikejar. Maresca harus mampu mendekatkan timnya, atau setidaknya menjaga peluang juara hingga akhir musim—seperti moto Guardiola, “tetap di sana” (still there) di saat-saat krusial.
Masalah terbesar Maresca adalah jika tim mengalami masa sulit, terutama di awal kepemimpinannya. Ia bisa dicap sebagai “David Moyes”-nya City: penerus legenda yang gagal memenuhi ekspektasi, seperti yang dialami Moyes setelah menggantikan Sir Alex Ferguson di Manchester United. Untuk menghindari nasib serupa, ia harus memulai dengan hasil positif dan membangun kepercayaan sejak dini.
Berharap Dukungan Nyata dari Petinggi Klub
Prinsip utama klub, seperti yang selalu ditekankan ketua Khaldoon al-Mubarak, adalah bahwa manajer tidak boleh lebih penting dari klub. Namun, sejarah menunjukkan bahwa ketika Ferran Soriano dan Txiki Begiristain dipekerjakan sebagai CEO dan direktur olahraga pada 2012, mereka membangun struktur ala Barcelona di Manchester untuk menyambut kedatangan Guardiola. Keduanya memegang posisi serupa di Barcelona saat Guardiola berjaya (2008-2012).
Begiristain sudah hengkang musim panas lalu, digantikan Hugo Viana, sebagai bagian dari transisi era pasca-Guardiola. Kini kita akan melihat apakah al-Mubarak dan jajarannya mampu menerapkan doktrin yang sama di era baru. Agar sukses, tiga faktor harus berjalan sinergis: pertama, tim manajemen harus yakin bahwa Maresca adalah orang yang tepat; kedua, para pemain harus diyakinkan; dan ketiga—yang paling krusial—al-Mubarak, Soriano, dan Viana harus tetap mendukung Maresca ketika performa tim menurun dan kritik bertubi-tubi datang.
Mencari Opsi Mencetak Gol Lain
Sejak kedatangan Erling Haaland pada musim panas 2022, City menjadi tim yang dibangun Guardiola di sekitar nomor 9 fenomenal tersebut. Trofi treble, Piala Super, Piala Dunia Antarklub, gelar keempat berturut-turut, serta double Carabao Cup dan FA Cup musim lalu membuktikan strategi ini jitu. Namun, masalah muncul ketika Haaland cedera atau sedang mandul dalam waktu lama.
Meski Haaland meraih Sepatu Emas Premier League di tiga dari empat musimnya, musim lalu ia “hanya” mencetak 22 gol di liga—peringkat ketiga di bawah Mohamed Salah—dan delapan gol tambahan di kompetisi lain. Akibatnya, City menjalani satu-satunya musim tanpa trofi sejak Haaland bergabung. Maresca perlu mengembangkan opsi serangan alternatif agar tim tidak terlalu bergantung pada satu pemain. Ini termasuk memaksimalkan peran pemain sayap, gelandang ofensif, atau bahkan striker cadangan untuk mengambil alih beban mencetak gol saat Haaland tidak dalam performa terbaiknya.
Kesimpulan: Langkah Awal yang Penuh Tantangan
Tantangan Enzo Maresca di Manchester City tidak ringan. Ia harus mampu melepaskan diri dari bayang-bayang Guardiola, mengelola situasi kontrak Rodri, mengejar ketertinggalan dari Arsenal, mendapatkan dukungan penuh dari petinggi klub, dan menciptakan variasi serangan di luar Haaland. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemampuannya membangun sistem sendiri tanpa kehilangan identitas tim yang sudah terbentuk. Jika ia bisa melewati masa-masa sulit di awal dan tetap didukung penuh oleh manajemen, bukan tidak mungkin Maresca akan menuliskan babak baru dalam sejarah City.
