Kebiasaan Makan Maddy Cusack Berubah Usai Komentar Manajer, Pacar Bersaksi di Sidang

Pacar Maddy Cusack Ungkap Dampak Komentar Manajer

Pacar mendiang pemain Sheffield United, Maddy Cusack, memberikan kesaksian di pengadilan pada Selasa (10/12). Grace Riglar mengungkap bahwa manajer lama Cusack, Jonathan Morgan, pernah memanggilnya dengan sebutan “psiko”. Lebih dari itu, Riglar juga menyebut kebiasaan makan Cusack berubah setelah Morgan diduga melontarkan komentar soal berat badannya.

Riglar sendiri merupakan mantan rekan setim Cusack di Sheffield United selama satu musim. Dalam sidang yang digelar di pengadilan koroner Chesterfield, ia beberapa kali menahan air mata saat memberikan keterangan emosional. Bahkan, ia sempat meminta jeda saat dihadapkan dengan pengacara dari pihak Sheffield United.

Pertemuan dengan Manajer Baru yang Membuat Tidak Nyaman

Menurut Riglar, setelah Morgan bergabung dengan Sheffield United pada Februari 2023, ia memanggil semua pemain yang memiliki hubungan asmara untuk rapat. Dalam pertemuan itu, Morgan mengeluarkan aturan khusus, termasuk larangan menyimpan dendam jika salah satu dari mereka membuatnya marah. Riglar mengatakan pertemuan itu membuat Cusack merasa “tidak nyaman”.

Morgan sendiri dijadwalkan memberikan kesaksian pada hari Senin. Ia mewakili dirinya sendiri dan sempat melontarkan pertanyaan langsung kepada Riglar saat persidangan. Keduanya berbeda pendapat soal cedera yang diduga dialami Cusack, yang menurut Morgan membuatnya tidak bisa dimainkan di laga pertamanya. Riglar menyebut Cusack menganggap keputusan Morgan untuk tidak menurunkannya sebagai “serangan pribadi”.

Perubahan Pola Makan dan Kecemasan yang Meningkat

Cusack ditemukan meninggal di rumah keluarganya di Derbyshire pada 20 September 2023, dalam usia 27 tahun. Riglar mengaku melihat perubahan perilaku Cusack saat mereka bepergian bersama ke Matlock awal bulan itu. “Dia gelisah, sangat tidak tenang, sibuk mencari lowongan kerja di Indeed,” kenang Riglar. Namun, Riglar tidak yakin saat itu ia sudah tahu bahwa Cusack baru saja mendapatkan resep obat anti-kecemasan.

Riglar yang kini bermain untuk Norwich City menceritakan pengalamannya selama satu musim di Sheffield United (2022-23). Ia mengaku tidak tahu harus ke mana jika mengalami masalah saat di Sheffield. Pihak klub kemudian menyanggah hal ini dan menyatakan Riglar seharusnya tahu siapa petugas perlindungan. Riglar mengaku tidak ingat.

Di akhir musim 2022-23, Riglar tidak mendapat kontrak baru, sementara Cusack mendapat kontrak penuh waktu. Riglar pun pindah ke Lewes pada musim panas 2023. Ia mengaku tidak yakin apakah kepergiannya membuat Cusack kesepian, namun ia menangis saat ditanya soal perasaan Cusack yang mungkin merasa terisolasi.

Komentar Morgan yang Mempengaruhi Kebugaran dan Pola Makan

Riglar menuturkan bahwa Cusack pernah mengaku cemas mendengar Morgan akan menjadi manajer. Sebelumnya, di bawah manajer Neil Redfearn, suasana tim sangat mendukung. Riglar juga mengingat saat Cusack pernah dipanggil “psiko” oleh Morgan dari pinggir lapangan saat bertanding melawan klub lamanya. “Dia pribadi yang tangguh, tapi komentar seperti itu tetap membuatnya tidak nyaman,” kata Riglar.

Lebih lanjut, Riglar mengaku Cusack pernah bercerita bahwa Morgan melontarkan komentar tentang berat badannya. “Setelah satu sesi latihan, dia bilang Mr Morgan membuat komentar tentang kebugaran atau berat badannya. Saya tidak ingat persisnya, tapi setelah itu kebiasaan makannya berubah. Ada perubahan kecil yang tidak terlalu sehat,” ujar Riglar.

Saat ditanya Morgan apakah ia yakin dengan komentar tersebut karena tidak mendengarnya langsung, Riglar menjawab tidak yakin. Morgan kemudian bertanya, “Jadi, Anda tidak ingat saya memanggil Maddy ‘gendut’?” Riglar menjawab, “Tidak.”

Ketika ditanya faktor apa yang menyebabkan kematian Cusack, Riglar menjawab bahwa kedatangan Morgan menjadi “bagian besar”. “Kamu tidak bisa menyalahkan satu orang, tapi saya pikir itu alasan utamanya,” tegasnya.

Saksi Lain: Manajer Sempat Khawatir dengan Kondisi Cusack

Persidangan hari itu juga mendengar keterangan dari Eoin Doyle, atasan langsung Cusack di bagian pemasaran klub. Cusack bekerja dua peran dengan total gaji £38.000 per tahun untuk sekitar 50 jam per minggu. Doyle menggambarkan Cusack sebagai karyawan yang baik dan dapat dipercaya. Ia ingat percakapan pada Agustus 2023 di mana Cusack tampak “terpuruk”. Ketika Cusack meminta cuti pada September 2023, Doyle mengatakan “ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan”. Doyle juga menyebut Morgan sempat “menyatakan keprihatinan” tentang perubahan sikap Cusack beberapa minggu sebelum kematiannya.

Sidang masih akan berlanjut pada Rabu (11/12).

Mengatasi Bayang-Bayang Guardiola: Tantangan Enzo Maresca di Manchester City

Melepas Bayang-Bayang Guardiola

Pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab Enzo Maresca sebagai pelatih baru Manchester City adalah bagaimana ia mampu keluar dari bayang-bayang Pep Guardiola. Selama satu dekade, Guardiola membawa City meraih 20 trofi, termasuk tiga Community Shield. Maresca sendiri merupakan bagian dari staf kepelatihan saat City memenangkan treble Premier League, FA Cup, dan Liga Champions pada musim 2022-2023. Ini menjadi salah satu modal penting untuk meyakinkan para pemain agar mengikuti arahannya.

Namun, Maresca tidak hanya bergantung pada masa lalunya sebagai asisten. Ia pernah menukangi tim pengembangan elite City dan meraih gelar Premier League 2 pada 2020-2021. Pengalaman memimpin Leicester City promosi ke Premier League pada 2024, serta membawa Chelsea menjuarai Conference League 2025 dan Piala Dunia Antarklub dengan mengalahkan PSG 3-0 di final, menjadi bukti lain bahwa ia punya kemampuan sendiri. Kini, semua mata tertuju padanya untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar bayangan Guardiola.

Anderson Masuk, Rodri Keluar?

Rodri selama ini menjadi sosok pengatur ritme lini tengah City yang mulus. Namun, jelang akhir bursa musim panas, masa depannya mulai dipertanyakan. Pemain berusia 29 tahun itu kerap memberikan sinyal ambigu soal keinginannya bertahan, terutama saat sesi internasional dan Piala Dunia. Ia mengakui bahwa jika tidak ada Piala Dunia, situasinya mungkin akan berbeda. Kontraknya masih berlaku hingga 2027, tapi ketidakpastian ini membuat spekulasi menguat.

Cedera lutut parah yang dialami Rodri pada September 2024 membuatnya kesulitan mengembalikan performa terbaik yang mengantarkannya meraih Ballon d’Or 2024. Penjualan dirinya bisa menjadi langkah bijak bagi kedua belah pihak, terutama karena dana yang diperoleh bisa digunakan untuk mendatangkan pengganti: Elliot Anderson dari Nottingham Forest, yang kabarnya akan ditebus dengan harga £116 juta. Anderson baru berusia 23 tahun dan menjadi andalan Thomas Tuchel di lini tengah timnas Inggris selama kampanye Piala Dunia.

Menutup Jarak dengan Arsenal

Musim lalu Manchester City finis sebagai runner-up dengan selisih tujuh poin dari Arsenal. Gelar juara baru dipastikan pada laga kedua terakhir, saat hasil imbang 1-1 melawan Bournemouth memberikan mahkota kepada The Gunners. Selisih ini terbilang besar, tetapi masih mungkin dikejar. Maresca harus mampu mendekatkan timnya, atau setidaknya menjaga peluang juara hingga akhir musim—seperti moto Guardiola, “tetap di sana” (still there) di saat-saat krusial.

Masalah terbesar Maresca adalah jika tim mengalami masa sulit, terutama di awal kepemimpinannya. Ia bisa dicap sebagai “David Moyes”-nya City: penerus legenda yang gagal memenuhi ekspektasi, seperti yang dialami Moyes setelah menggantikan Sir Alex Ferguson di Manchester United. Untuk menghindari nasib serupa, ia harus memulai dengan hasil positif dan membangun kepercayaan sejak dini.

Berharap Dukungan Nyata dari Petinggi Klub

Prinsip utama klub, seperti yang selalu ditekankan ketua Khaldoon al-Mubarak, adalah bahwa manajer tidak boleh lebih penting dari klub. Namun, sejarah menunjukkan bahwa ketika Ferran Soriano dan Txiki Begiristain dipekerjakan sebagai CEO dan direktur olahraga pada 2012, mereka membangun struktur ala Barcelona di Manchester untuk menyambut kedatangan Guardiola. Keduanya memegang posisi serupa di Barcelona saat Guardiola berjaya (2008-2012).

Begiristain sudah hengkang musim panas lalu, digantikan Hugo Viana, sebagai bagian dari transisi era pasca-Guardiola. Kini kita akan melihat apakah al-Mubarak dan jajarannya mampu menerapkan doktrin yang sama di era baru. Agar sukses, tiga faktor harus berjalan sinergis: pertama, tim manajemen harus yakin bahwa Maresca adalah orang yang tepat; kedua, para pemain harus diyakinkan; dan ketiga—yang paling krusial—al-Mubarak, Soriano, dan Viana harus tetap mendukung Maresca ketika performa tim menurun dan kritik bertubi-tubi datang.

Mencari Opsi Mencetak Gol Lain

Sejak kedatangan Erling Haaland pada musim panas 2022, City menjadi tim yang dibangun Guardiola di sekitar nomor 9 fenomenal tersebut. Trofi treble, Piala Super, Piala Dunia Antarklub, gelar keempat berturut-turut, serta double Carabao Cup dan FA Cup musim lalu membuktikan strategi ini jitu. Namun, masalah muncul ketika Haaland cedera atau sedang mandul dalam waktu lama.

Meski Haaland meraih Sepatu Emas Premier League di tiga dari empat musimnya, musim lalu ia “hanya” mencetak 22 gol di liga—peringkat ketiga di bawah Mohamed Salah—dan delapan gol tambahan di kompetisi lain. Akibatnya, City menjalani satu-satunya musim tanpa trofi sejak Haaland bergabung. Maresca perlu mengembangkan opsi serangan alternatif agar tim tidak terlalu bergantung pada satu pemain. Ini termasuk memaksimalkan peran pemain sayap, gelandang ofensif, atau bahkan striker cadangan untuk mengambil alih beban mencetak gol saat Haaland tidak dalam performa terbaiknya.

Kesimpulan: Langkah Awal yang Penuh Tantangan

Tantangan Enzo Maresca di Manchester City tidak ringan. Ia harus mampu melepaskan diri dari bayang-bayang Guardiola, mengelola situasi kontrak Rodri, mengejar ketertinggalan dari Arsenal, mendapatkan dukungan penuh dari petinggi klub, dan menciptakan variasi serangan di luar Haaland. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemampuannya membangun sistem sendiri tanpa kehilangan identitas tim yang sudah terbentuk. Jika ia bisa melewati masa-masa sulit di awal dan tetap didukung penuh oleh manajemen, bukan tidak mungkin Maresca akan menuliskan babak baru dalam sejarah City.

Hong Myung-bo Mundur Usai Korea Selatan Tersingkir, Presiden Kecam ‘Orang Tak Kompeten’

Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo, resmi mengundurkan diri pada Minggu (15/6/2025) sehari setelah timnya gagal melaju ke babak 16 besar Piala Dunia. Keputusan ini diambil setelah mendapatkan kecaman keras dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, yang menyebut ada “orang-orang tak kompeten” di balik kegagalan tersebut.

Hong, yang sebelumnya juga menjadi kapten tim nasional, menjalani masa jabatan keduanya sebagai pelatih. Sayangnya, ia kembali mencatatkan kegagalan di Piala Dunia setelah sebelumnya juga tersisih di babak grup pada 2014. Padahal, publik dan media Korea Selatan menaruh harapan besar karena timnya tergabung di Grup A yang relatif ringan bersama tuan rumah Meksiko, Afrika Selatan, dan Ceko.

Kinerja Tim di Piala Dunia

Korea Selatan tampil mengecewakan dengan hanya meraih satu kemenangan dan dua kekalahan. Mereka kalah 1-0 dari Afrika Selatan dan Meksiko, sementara satu-satunya kemenangan diraih saat mengalahkan Ceko 2-1. Hasil itu membuat mereka finis di posisi ketiga klasemen grup dengan tiga poin, di bawah Meksiko dan Afrika Selatan yang lolos ke fase gugur.

Kegagalan ini sangat kontras dengan ekspektasi sebelumnya. Banyak pengamat sepak bola Asia meyakini Korea Selatan setidaknya bisa melaju ke babak 16 besar, apalagi dengan skuad yang dihuni beberapa pemain bintang seperti Son Heung-min. Namun, strategi dan penampilan tim selama turnamen dinilai tidak maksimal.

Kritik Tajam Presiden Lee Jae Myung

Kemarahan publik mencapai puncak ketika Presiden Lee Jae Myung melontarkan kritik pedas melalui akun media sosialnya. Dalam pernyataannya, ia menyalahkan “orang-orang tak kompeten” yang duduk di posisi kepemimpinan sebagai akar masalah.

“Ketika loyalitas dan primordialisme lebih dihargai daripada kompetensi, dan orang-orang tak kompeten diangkat ke posisi kepemimpinan, hasilnya sudah bisa ditebak,” tulis Lee di X. “Saya menyampaikan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya kepada publik atas kekecewaan besar akibat hasil yang tidak bisa diterima ini. Kami akan segera melakukan reformasi tata kelola olahraga agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tambahnya.

Pernyataan presiden itu langsung menjadi sorotan media dan warganet Korea Selatan. Banyak yang mendukung sikap tegas Lee, namun ada juga yang menganggapnya terlalu frontal. Meski demikian, tekanan terhadap Hong Myung-bo sudah terasa sejak sebelum turnamen dimulai.

Keputusan Kontroversial Hong Myung-bo

Hong memang sudah menjadi sosok yang tidak populer di mata fans dan media Korea Selatan sejak awal penunjukannya pada Juli 2024. Ia kerap mendapat cemoohan saat memimpin tim di laga kandang. Salah satu keputusan paling kontroversial adalah ketika ia mencadangkan kapten veteran Son Heung-min pada laga melawan Afrika Selatan — laga yang sebenarnya hanya membutuhkan hasil imbang untuk lolos. Sayangnya, langkah berani itu justru menjadi bumerang karena tim justru kalah.

Dalam konferensi pers setelah pengunduran dirinya, Hong mengaku telah melakukan yang terbaik untuk sepak bola Korea. “Selama dua tahun terakhir, saya selalu bertanya pada diri sendiri sebelum setiap keputusan penting, pemilihan pemain, atau persiapan latihan: ‘Apakah ini pilihan yang tepat untuk sepak bola Korea?'” ujarnya dikutip Yonhap News Agency. “Saya tidak bisa mengatakan setiap keputusan saya benar, tapi saya bisa mengatakan bahwa semua keputusan saya demi kepentingan sepak bola Korea.”

Akhir Perjalanan Hong Myung-bo

Setelah resmi mundur, Hong menyatakan akan tetap menjadi pendukung setia tim nasional. “Saya akan bersorak untuk tim nasional dari lubuk hati yang paling dalam, dan berharap tim ini kembali dipercaya dan dicintai oleh rakyat,” katanya.

Pengunduran diri ini menandai babak baru bagi sepak bola Korea Selatan. Kini, federasi sepak bola setempat harus bergerak cepat mencari pengganti dan menjalankan reformasi yang dijanjikan presiden. Publik pun menanti apakah langkah evaluasi ini benar-benar akan membawa perubahan berarti bagi masa depan sepak bola Negeri Ginseng.

Kembalinya Alphonso Davies, Momen Penentu Perjalanan Kanada di Piala Dunia

Alphonso Davies Siap Tampil Lagi untuk Kanada

Setelah absen cukup lama karena cedera, Alphonso Davies akhirnya siap kembali memperkuat Timnas Kanada. Bek kiri Bayern Munich ini muncul dalam sesi media pertamanya selama Piala Dunia di Los Angeles, dan menjanjikan bahwa laga babak 16 besar akan menjadi panggung kebangkitannya. Bagi Kanada, yang akan berhadapan dengan Afrika Selatan, kembalinya Alphonso Davies datang di saat yang paling krusial.

Momen Penting bagi Kanada dan Pelatih Jesse Marsch

Pelatih Jesse Marsch juga sangat diuntungkan dengan pulihnya Davies. Sebelumnya, Marsch semap menggunakan isu kebugaran Davies sebagai taktik pengalihan saat melawan Swiss di Vancouver, namun trik itu tidak berhasil. Kanada justru menelan kekalahan pertama mereka di Piala Dunia dan harus turun posisi. Kini, menghadapi salah satu tim dengan peringkat terendah yang lolos dari fase grup, Davies dan Marsch punya peluang mencatat sejarah baru—sekaligus menyembuhkan luka lama.

Cedera di SoFi Stadium yang Mengubah Segalanya

SoFi Stadium, yang dulu bernama lebih tradisional, adalah tempat di mana Davies mengalami cedera ACL yang memulai mimpi buruk cederanya. Stadion inilah yang menjadi saksi hubungan rumit antara pemain, pelatih, klub Bayern Munich, dan tim nasional. Kini, kembali ke tempat yang sama, Davies merasa bisa menyelesaikan apa yang sempat terhenti. “Kembali ke stadion ini seperti menyelesaikan sesuatu yang saya mulai setahun lalu,” ujarnya.

Peran Vital Davies: Bukan Sekadar Pemain Biasa

Davies mengaku rasanya “menyakitkan” hanya bisa menonton dari bangku cadangan selama fase grup. Dalam konferensi pers, ia sempat bercanda saat seorang jurnalis Jerman bertanya apakah ia akan langsung menjadi starter. “Start!?” sahut Davies setengah tak percaya. Meski begitu, ia adalah satu dari dua pemain terbaik Kanada yang kembali—bersama Moïse Bombito—di saat turnamen memasuki fase paling menentukan.

Marsch menambahkan, “Sekarang Alphonso kembali sehat dan siap tampil, ini momen besar bagi tim. Kehadirannya mengubah potensi tim dan apa yang bisa kami capai.” Ide utamanya adalah membuat tim semakin kuat seiring berjalannya turnamen, tepat saat lawan semakin tangguh dan momen semakin besar.

Pengaruh Bombito dan Kunci Lini Belakang

Jika kondisi memungkinkan, Bombito layak menjadi starter. Kecepatannya sangat dibutuhkan untuk menghadapi serangan balik cepat Afrika Selatan, yang sudah beberapa kali merepotkan Korea Selatan. Meski peringkat FIFA memisahkan kedua tim sebanyak 30 tingkat, Afrika Selatan datang dengan momentum lebih. Mereka juga akan diperkuat kembali gelandang andalan Teboho Mokoena yang sudah bebas sanksi.

Tantangan dari Afrika Selatan

Pelatih veteran Afrika Selatan, Hugo Broos, mengakui bahwa Piala Dunia sudah sukses bagi mereka, tapi itu tidak berarti akan berpuas diri. “Kami ingin lebih. Kami harus tampil di level terbaik. Jika bisa melangkah ke babak ketiga, itu akan menjadi keajaiban,” katanya. Mokoena kemungkinan akan berduet dengan Yaya Sithole yang menjalani pembalasan luar biasa setelah kartu merah di laga perdana.

Di sisi lain, kembalinya Alphonso Davies juga berdampak pada status wakil kapten Stephen Eustáquio. Gelandang Porto itu dilaporkan mengalami kelelahan otot dan hanya bermain 30 menit saat melawan Swiss. Absennya Eustáquio sangat terasa. Setelah kemenangan besar 6-0 atas Qatar, kekalahan dari Swiss menjadi antiklimaks. Kini di Los Angeles, Kanada punya kesempatan mengubah Piala Dunia yang baik menjadi luar biasa.

Kesimpulan: Hidup untuk Momen Besar

Hanya ada satu pertandingan di hari Minggu, dan pemenangnya akan menjadi tim pertama yang lolos ke babak 16 besar. Jesse Marsch menegaskan, “Kami akan mengalami kesulitan, kesuksesan, tantangan. Kuncinya adalah siap bangkit. Saya hidup untuk momen-momen seperti ini. Saya yakin Alphonso juga merasakan hal yang sama—kamu hidup untuk saat di mana kamu diuji dan bisa menunjukkan seberapa hebat dirimu.”

Daftar Pemain yang Tidak Merayakan Gol Lawan Negara Asal atau Keturunan

Pemain yang Tidak Merayakan Gol karena Ikatan Emosional dengan Lawan

Dalam dunia sepak bola internasional, momen mencetak gol sering kali dirayakan dengan penuh suka cita. Namun, ada kalanya seorang pemain memilih untuk tidak merayakan gol yang ia cetak, terutama jika lawan yang dijebol adalah negara asal atau negara yang memiliki ikatan kuat dengannya. Fenomena ini menarik perhatian banyak penggemar, dan beberapa contoh terkenal telah tercatat dalam sejarah.

Michael Pilcher, seorang pembaca, bertanya: “Yasin Ayari dari Swedia memiliki ayah berkebangsaan Tunisia dan memilih tidak merayakan gol pertamanya melawan Tunisia (meski ia tak bisa menahan diri saat mencetak gol kedua). Declan Rice melakukan hal serupa setelah mencetak gol melawan Republik Irlandia pada 2024. Tapi apa contoh paling awal seorang pemain tidak merayakan gol di level internasional karena hubungan dengan lawan?”

Soccer Football – FIFA World Cup 2026 – Group C – Scotland v Morocco – Boston Stadium, Foxborough, Massachusetts, U.S. – June 19, 2026 Morocco’s Ismael Saibari celebrates after the match REUTERS/Peter Cziborra

Filippo Varanini menjawab: “Saya ingat Breel Embolo, pemain Swiss kelahiran Kamerun, yang tidak merayakan golnya melawan Kamerun di Piala Dunia 2022.” Memang, Embolo menunjukkan rasa hormat dengan sikap tenang setelah membobol gawang negara kelahirannya.

Contoh lain datang dari Mesut Özil. Dalam pertandingan kualifikasi Euro 2010, gelandang kreatif asal Jerman ini mencetak gol melawan Turki dalam kemenangan 3-0. Özil, yang lahir di Gelsenkirchen dari orang tua imigran Turki, menahan diri dalam perayaannya. Namun, contoh paling awal yang ditemukan justru berasal dari rekan setim Özil, Lukas Podolski.

Lukas Podolski: Gol Tanpa Perayaan di Euro 2008

Podolski mencetak dua gol untuk Jerman melawan Polandia, negara kelahirannya, di Euro 2008. Ia memilih untuk tidak merayakan gol tersebut. Dalam wawancara dengan FourFourTwo tahun 2022, Podolski mengungkapkan: “Ini adalah pertandingan yang sulit dan emosional bagi saya. Pers Jerman dan Polandia sama-sama menyoroti saya sebelum laga, membangun tekanan, dan ada begitu banyak suporter Polandia di stadion. Saya tidak merayakan, tapi saya seorang profesional dan harus melakukan tugas saya. Di lain kesempatan, saya selalu mendukung Polandia. Emosi saya ada sebelum dan sesudah pertandingan, tetapi selama 90 menit saya hanya fokus bekerja untuk Jerman.”

Podolski menjadi contoh awal dari sikap sportif dan penghormatan terhadap latar belakang pribadi. Sejak itu, banyak pemain lain mengikuti jejak serupa, termasuk Declan Rice pada 2024 yang tidak merayakan gol melawan Republik Irlandia, negara asal kakek-neneknya.

Pelatih dengan Pengalaman Menangani Banyak Tim Nasional

Luke Carruthers mengajukan dua pertanyaan tentang Dick Advocaat, pelatih asal Belanda yang kini menangani Cape Verde: “1) Ia telah melatih delapan tim nasional putra—adakah yang bisa mengalahkan rekor ini? 2) Ia pernah menangani tim nasional putra dan putri Belanda di level senior. Seberapa langka hal ini?”

Untuk pertanyaan pertama, jawabannya jelas: Rudi Gutendorf. Pelatih asal Jerman ini memiliki karier kepelatihan selama 53 tahun dan menangani 17 tim nasional berbeda: Chile, Bolivia, Venezuela, Trinidad dan Tobago, Grenada, Antigua, Botswana, Australia, Kaledonia Baru, Nepal, Tonga, Tanzania, Ghana, Fiji, Zimbabwe, Mauritius, dan Rwanda. Ia juga melatih tim Olimpiade Iran (1988) dan China (1992). Saat ditanya mengapa ia melatih begitu banyak negara, Gutendorf menjawab: “Seseorang tidak bisa menyimpan kegembiraan.”

Namun, pembaca Christoph Arlick memberi catatan: “Beberapa tim yang ia latih tidak memainkan pertandingan resmi selama masa kepelatihannya. Ia tercatat menangani di pinggir lapangan untuk Bermuda, Chile, Botswana, Australia, Nepal, Ghana, Mauritius, Zimbabwe, dan Rwanda dalam 77 laga—masih unggul setidaknya satu negara dari Advocaat.”

Pelatih Lain dengan Rekor Lebih Tinggi

Dan Almond menyebut dua nama yang bisa menyamai atau melampaui Advocaat: Bora Milutinovic (8 tim: Meksiko, Kosta Rika, AS, Nigeria, China, Honduras, Jamaika, Irak) dan Claude Le Roy (9 tim: Kamerun, Senegal, Malaysia, DR Kongo, Ghana, Oman, Suriah, Kongo, Togo). Sementara itu, Tom Reed mengajukan Danny McLennan (10 tim: Filipina, Mauritius, Rhodesia/Zimbabwe, Iran, Bahrain, Irak, Yordania, Malawi, Fiji, Libya).

Daz Pearce menambahkan: “Tom Saintfiet telah mengumpulkan 12 tim nasional (Namibia, Zimbabwe, Ethiopia, Yaman, Malawi, Togo, Bangladesh, Trinidad dan Tobago, Malta, Gambia, Filipina, Mali) di empat federasi. Dia perlu melatih negara di Amerika Selatan dan Oseania untuk melengkapi koleksinya.”

Pelatih Pria dan Wanita di Level Senior

Untuk pertanyaan kedua Carruthers, satu-satunya jawaban yang kami temukan adalah John Herdman. Pria Inggris ini menangani timnas putri Kanada (2011–2018) dan kemudian timnas putra Kanada (2018–2023). Setelah tim putri kalah di semua laga grup Piala Dunia 2011, banyak pemain berpikir pensiun. Emily Zurrer, bek yang sudah pensiun, mengenang: “Kami benar-benar hancur. Beberapa dari kami berpikir untuk menggantung sepatu, lalu datanglah pria ini yang bicara tentang berdiri di podium dan melihat bendera kami berkibar… dan dengan cepat dia menanamkan keyakinan itu pada kami.” Hasilnya, Kanada meraih medali perunggu Olimpiade London 2012 dan mengulanginya di Rio 2016. Herdman kemudian mengambil alih tim putra yang terpecah pada 2018 dan membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022—pertama kali dalam hampir empat dekade.

Jeda Terpanjang Antara Dua Piala Dunia

Alexander Scott bertanya: “Chris Wood dan Tommy Smith dari Selandia Baru bermain di Piala Dunia kedua mereka, 16 tahun setelah yang pertama. Adakah pemain dengan jeda lebih lama?”

Dirk Maas, pakar Knowledge, menjawab: “Tidak, Chris Wood menyamai rekor Faryd Mondragón yang bermain untuk Kolombia di Piala Dunia 1998 dan 2014. Sebelum Mondragón, jeda terlama adalah 12 tahun. Beberapa pemain yang pernah mencatat jeda 12 tahun antara lain: Alfred Bickel (Swiss 1938–1950), Erik Nilsson (Swedia 1938–1950), José Martínez Sánchez ‘Pirri’ (Spanyol 1966–1978), Wilfried Van Moer (Belgia 1970–1982), Michael Laudrup (Denmark 1986–1998), Hernán Medford (Kosta Rika 1990–2002), Niall Quinn (Irlandia 1990–2002), Santiago Cañizares (Spanyol 1994–2006), Lee Dong-gook (Korea Selatan 1998–2010), Daniel Van Buyten (Belgia 2002–2014), dan Aleksandr Kerzhakov (Rusia 2002–2014). Selain itu, Randall Azofeifa (Kosta Rika 2006–2018), Edin Džeko dan Sead Kolašinac (Bosnia 2014–2026), Nabil Bentaleb, Aïssa Mandi, Riyad Mahrez (Aljazair 2014–2026), serta Lucas Digne (Prancis 2014–2026) juga harus menunggu 12 tahun.”

Mitologi Seputar Penalti Italia 90

George Jones pada 2018 bertanya: “Sering dikatakan bahwa saat Inggris kalah adu penalti melawan Jerman Barat di Italia 90, Bobby Robson seharusnya memasukkan Dave Beasant untuk menghadapi penalti. Tapi bukankah Inggris sudah menggunakan semua pemain pengganti?”

Rob Smyth dari The Guardian membantah mitos ini. “Inggris belum menggunakan semua pemain pengganti—mereka hanya mengganti Terry Butcher dengan Trevor Steven (saat itu diperbolehkan dua pergantian). Tapi ini mitos karena pada masa itu, Anda harus mendaftarkan lima pemain cadangan untuk setiap pertandingan. Cadangan Inggris lainnya adalah Chris Woods, Tony Dorigo, Steve McMahon, dan Steve Bull.” Jadi, Beasant tidak ada dalam daftar cadangan hari itu.

Pertanyaan dari Pembaca Lain

Beberapa pertanyaan menarik masih menunggu jawaban:

  • Roger Kirkby: “Dengan Kanada dan Curaçao mendapatkan poin di Piala Dunia (setidaknya satu poin), negara mana saja yang masih nol poin seperti perolehan Inggris di Eurovision?”
  • Rob Davies: “Berapa banyak negara dengan liga yang diakui FIFA yang tidak pernah memiliki pemain di Piala Dunia? Thailand akhirnya memiliki wakil melalui Rebin Sulaka (Irak) yang bermain di Liga Premier Thailand.”
  • Chris Carter: “Kanada meraih kemenangan Piala Dunia pertama mereka dengan mengalahkan Qatar 6-0. Adakah tim yang meraih kemenangan pertama di Piala Dunia atau turnamen besar dengan selisih gol lebih besar?”
  • Tony Marsden: “Belanda memulai laga melawan Jepang tanpa pemain yang bermain di Eredivisie, sementara Jepang menurunkan dua pemain Feyenoord. Pernahkah suatu negara memiliki lebih banyak pemain dari liga negara lawan dibandingkan lawannya sendiri?”
  • Lars Bøgegaard: “Cape Verde memiliki nama ‘hijau’ tapi bendera biru. Mengapa Australia bermain kuning-hijau, Jepang biru-putih, dan Jerman putih-hitam?”

Kami akan membahas lebih lanjut di edisi Knowledge Piala Dunia berikutnya. Kirim pertanyaan dan jawaban Anda ke knowledge@theguardian.com.

Fenomena pemain yang tidak merayakan gol melawan negara asal atau keturunan mencerminkan sisi manusiawi dari sepak bola—rasa hormat, identitas ganda, dan profesionalisme. Dari Podolski hingga Rice, setiap momen mengingatkan kita bahwa di balik jersey tim nasional, ada latar belakang pribadi yang kompleks.

Strategi Thomas Tuchel untuk Lawan Terbaik: Kekhawatiran Inggris vs Ghana

Kekhawatiran Mulai Muncul Setelah Inggris Ditahan Ghana

Tidak semudah yang terlihat, bukan? Setelah tampak memiliki semua jawaban pekan lalu, Thomas Tuchel kini jatuh ke posisi yang sangat akrab bagi Gareth Southgate. Ini adalah momen ketika kecemasan meningkat dan keputusan seleksi pemain mulai dipertanyakan. Tuchel, pendatang baru di sepak bola internasional, harus mengabaikan kebisingan dan mengingat bahwa ini biasanya yang terjadi saat Inggris mengalami kegagalan turnamen tradisional di pertandingan grup kedua mereka.

Respon yang tak terhindarkan dari hasil imbang tanpa gol melawan Ghana pada Selasa lalu adalah orang-orang bertanya mengapa Tuchel meninggalkan pemain favorit mereka dari skuad. Para pundit top meratapi absennya Trent Alexander-Arnold, Phil Foden, Adam Wharton, dan Cole Palmer. Tidak sepenuhnya tidak adil, ada argumen bahwa Inggris memiliki terlalu banyak tipe pemain yang mirip dan membutuhkan seseorang untuk membuka permainan di Boston Stadium.

Perdebatan Lama yang Kembali Menghantui Timnas Inggris

Ini adalah perdebatan yang sudah tidak asing. Southgate dituduh terlalu hati-hati saat memilih untuk tidak menggunakan Jack Grealish, dan banyak manajer Inggris sebelumnya juga dikritik karena tidak memaksimalkan bakat instingtif negara ini. Ketika kita membicarakan Palmer atau Alexander-Arnold, kita sebenarnya bisa membicarakan Glenn Hoddle atau Joe Cole. Dalam kasus Wharton, frustrasi terletak pada minimnya umpan pemecah garis dari lini tengah dalam melawan blok rendah Ghana.

Inggris menguasai 78,8% penguasaan bola, tetapi bermain dalam garis lurus yang bisa ditebak. Mereka melepaskan 19 tembakan, tetapi nyaris tidak mengancam hingga akhir pertandingan. Ada alasan untuk khawatir. Salah satu tantangan yang belum dikuasai Tuchel adalah membongkar pertahanan lawan yang keras kepala. Tim Chelsea-nya pernah tersingkir dari perburuan gelar 2021-22 karena ketidakmampuan mengambil inisiatif melawan lawan yang lebih lemah. Hal serupa juga terlihat saat Inggris kesulitan melawan Andorra, Albania, dan Latvia di babak kualifikasi.

Strategi Thomas Tuchel Hanya untuk Lawan Terbaik

Namun, jika tidak terjadi bencana di pertandingan knock-out melawan tim yang dianggap lemah, Piala Dunia Inggris kemungkinan besar tidak akan ditentukan oleh bagaimana mereka bermain melawan tim negatif seperti Ghana. Ini tentang strategi untuk yang terbaik. Tuchel tahu bahwa pertandingan grup melawan Ghana tidak akan seperti menghadapi Brasil atau Argentina. Selama lebih dari setahun, ia telah memberi tahu kita rencananya. Ia berbicara tentang Inggris harus bermain sesuai kekuatan mereka.

Jika Inggris kekurangan kreativitas, itu sebagian merupakan pilihan sengaja dari Tuchel. Ia ingin Inggris bermain seperti tim Premier League, dan manfaat dari pendekatan itu terlihat jelas saat mereka mengalahkan Kroasia di pertandingan pembuka Grup L. Ghana memberikan tantangan yang berbeda. Meskipun banyak dibicarakan tentang bermain dengan tempo dan intensitas, pertandingan ini mengingatkan pada salah satu pertarungan berat di musim Premier League 2025-26. Itu adalah kontes tabrakan, penghentian, dan negativitas.

Mengapa Tidak Ada Titik untuk Mengandalkan Pemain yang Terlewatkan?

Kompetisi sepak bola kini dipenuhi tim yang tahu cara bertahan—mid-block, deep block. Anthony Barry, asisten Tuchel, pernah berkata bahwa mereka berfokus mempercepat permainan di 24 meter tengah. Tapi itu terbukti mustahil melawan Ghana. Namun, tidak ada gunanya berasumsi bahwa kesulitan historis Inggris dalam menemukan sudut lebih cerdas dan pergerakan tanpa bola bisa diperbaiki oleh satu atau dua individu.

Tuchel tegas saat pengumuman skuad pada Mei. Ia mengatakan membangun tim terbaik tidak berarti mengumpulkan 26 pemain paling berbakat. Pendekatannya jelas dan berhasil melawan Kroasia yang bermain lebih terbuka dan tidak mampu menghadapi serangan tanpa henti serta fisik Inggris setelah babak pertama. Inilah yang ingin Tuchel replikasi di pertandingan knock-out besar. Itu akan lebih sesuai dengan kekuatan Jude Bellingham dan pemain sayap.

Artinya, tidak ada gunanya menganggap pemain yang diabaikan sebagai bahan yang hilang, apalagi kenyataan sering kali gagal memenuhi fantasi. Berapa kali Wharton bermain baik untuk Inggris? Ia tidak meyakinkan saat mendapat kesempatan melawan Albania November lalu. Ia tidak berbuat lebih banyak untuk Inggris daripada Elliot Anderson, yang juga mampu memberikan umpan-umpan mematikan dari lini tengah dan dihargai Manchester City lebih dari £100 juta.

Kesetiaan Tuchel pada Pemain yang Terbukti

Tuchel adalah orang yang setia. Ia sangat mengandalkan mereka yang tampil baik untuknya. Ia memberi kesempatan kepada Foden dan Palmer pada Maret, tetapi keduanya tidak mengesankan. Ada gambaran Foden sebagai playmaker kreatif nomor 10, tetapi ia jarang digunakan seperti itu oleh Pep Guardiola, sering mengecewakan bersama Inggris, dan menjalani musim yang mengecewakan di City. Foden tampak perlu cocok dengan sistem, bukan seperti Bruno Fernandes atau David Silva. Ia belum pernah menunjukkan bisa mengubah suasana untuk Inggris dengan masuk dan menguasai permainan.

Palner berbeda; kecenderungan maverick-nya tampak cocok dengan sifat sepak bola internasional yang spontan. Namun, meskipun penyerang Chelsea itu berpengaruh dari bangku cadangan di Euro 2024, ia kesulitan dengan performa dan kebugaran musim ini, tampak butuh istirahat, dan tidak cukup memaksa Tuchel untuk memilihnya di atas Bellingham, Eberechi Eze, atau Morgan Rogers.

Apakah Ruang untuk Flair Masih Ada?

Masih ada ruang untuk tiga nomor 10. Tuchel telah menemukan ruang untuk bakat. Apakah Bellingham dianggap sebagai pemain kasar? Apakah Eze bukan salah satu pemain paling menyenangkan di Inggris? Dan apakah Rogers, yang baru saja menjalani tahun apik bersama Aston Villa, tidak layak mendapat tempat karena ketidak egoisan dan konektivitasnya? Argumen sebaliknya mungkin Palmer bisa dibawa menggantikan salah satu pemain sayap, tetapi itu mengabaikan seberapa besar kebingungan Inggris di Euro 2024 berasal dari kurangnya kecepatan di sekitar Kane dan para pemain kreatif yang saling menghalangi.

Tuchel telah mempelajari turnamen itu. Ia berusaha menolak keinginan Inggris akan seorang penyelamat. Dengan Noni Madueke yang tidak efektif melawan Ghana, tekanan untuk memainkan Bukayo Saka akan semakin besar. Sayap kanan Arsenal itu adalah upgrade yang jelas dari rekan setimnya di klub dan telah memberikan kilasan positif dari bangku cadangan. Meskipun Saka menunjukkan kemajuan dalam pemulihan dari masalah Achilles, dan bisa dimainkan melawan Panama pada Sabtu, Tuchel bertekad untuk tidak menekannya.

Kesimpulan: Jalan Tuchel Berbeda dengan Southgate

“Saya tidak terlibat dalam itu,” kata Tuchel. “Bukayo kembali bukan berarti semuanya selesai, dan saya tidak ingin membebani punggungnya… Ini bukan saatnya berteriak meminta nama individu untuk membantu kami. Kami masih dalam posisi yang baik.” Pelatih asal Jerman itu berusaha mendinginkan histeria khas Inggris setelah satu hari yang mengecewakan. Sebagai orang luar, Tuchel bisa realistis. Ia tahu Inggris tidak setara secara teknis dengan tim-tim papan atas. Tidak ada gunanya mencoba mengalahkan mereka dengan permainan mereka sendiri.

Inggris harus memanfaatkan identitas mereka. Kekuatan mereka dinetralisir Ghana, tetapi berhasil melawan Kroasia. Inggris bukan tim terbaik di turnamen, tetapi mereka berbahaya. Akan selalu ada peragu. Pada akhirnya, kesalahan terbesar Southgate adalah mencoba menyenangkan penonton dan memasukkan semua pemain menyenangkan. Tuchel akan hancur jika ia mengikuti jalan itu.

Taiwo Awoniyi Resmi Gabung ke Coventry City £9 Juta

Coventry City resmi mengontrak penyerang tim nasional Nigeria, Taiwo Awoniyi, dari Nottingham Forest dengan nilai transfer £9 juta. Pemain berusia 29 tahun itu didatangkan jelang laga pembuka Premier League akhir pekan ini, ketika Coventry kembali ke kasta tertinggi setelah 25 tahun absen. Kehadiran Awoniyi diharapkan menjadi suntikan pengalaman bagi lini serang tim asuhan Frank Lampard.

Bagi Coventry, kedatangan pemain sekelas Awoniyi menjadi sinyal ambisi mereka untuk bertahan lebih lama di Premier League. Klub promosi itu ingin tampil kompetitif sejak awal, dan rekrutan berpengalaman dianggap kunci untuk menambah kedalaman skuad. Apalagi, laga perdana mereka adalah ujian berat melawan juara bertahan Arsenal pada Jumat pekan ini, dan semua mata akan tertuju pada penampilan para pemain anyar.

Perpisahan Mengharukan di Nottingham Forest

Sebelum resmi hengkang, Awoniyi mendapat guard of honour dari para pemain dan staf Forest sebelum babak kedua laga persahabatan terakhir melawan Brest, Minggu. Penghormatan itu menjadi cara klub melepas pemain yang telah menghabiskan empat musim terakhirnya di City Ground. Suasana hangat terlihat jelas, baik dari rekan setim maupun suporter yang hadir di stadion untuk menyaksikan momen perpisahan tersebut.

Manajer Forest, Oliver Glasner, mengaku kehilangan salah satu sosok paling disukai di ruang ganti. “Dia mungkin salah satu orang terbaik yang pernah saya temui, selalu ramah, selalu tersenyum,” ujar Glasner setelah Forest menang 2-0 atas tim Ligue 1 itu. “Semua orang di klub menyukainya, dan saya bisa melihat semua orang di tribun juga menyukainya karena itulah yang semua orang hargai.”

Glasner juga menyoroti dedikasi Awoniyi yang tidak pernah setengah-setengah. “Dia selalu memberikan 100 persen untuk tim, selalu memberikan 100 persen untuk bangku cadangan, dan itulah mengapa dia pantas mendapat perpisahan seperti ini,” lanjutnya. “Saya berharap yang terbaik untuknya di klub barunya, kecuali saat mereka bermain melawan kami.”

Karier Taiwo Awoniyi di Nottingham Forest

Awoniyi bergabung dengan Forest pada 2022 dari Union Berlin dengan nilai transfer £17,2 juta, yang saat itu menjadikannya rekrutan termahal dalam sejarah klub. Selama empat musim, ia mencatatkan 103 pertandingan dan mencetak 23 gol untuk Forest. Namun, posisinya di lini depan makin tergeser seiring ketatnya persaingan di skuad asuhan Glasner.

Musim lalu, Awoniyi hanya menjadi pilihan ketiga di belakang Chris Wood dan Igor Jesus dalam urutan penyerang utama. Ia juga tidak masuk dalam skuad Europa League, yang menandakan perannya semakin terpinggirkan di tim. Alhasil, ia hanya tampil tiga kali sebagai starter dan mencetak empat gol dari 17 penampilan di seluruh kompetisi.

Perjalanan Awoniyi musim lalu juga diwarnai insiden serius pada Mei 2025. Saat melawan Leicester, ia bertabrakan dengan tiang gawang dan mengalami pecah usus, hingga harus ditempatkan dalam koma yang diinduksi secara medis. Meski demikian, ia berhasil pulih dan kembali merumput, membuktikan mentalitas kuat yang dimilikinya dalam menghadapi masa-masa sulit.

Dampak Kehadiran Awoniyi bagi Lini Depan Coventry

Kedatangan Awoniyi memberi Lampard opsi baru di lini depan setelah Haji Wright dipastikan masih dalam pemulihan cedera. Saat ini, pilihan striker yang benar-benar fit hanya Brandon Thomas-Asante dan Ellis Simms jelang laga melawan Arsenal. Keberadaan Awoniyi tentu menjadi alternatif berharga yang bisa langsung dimainkan sejak awal musim berjalan.

Pengalaman bermain di level tertinggi Inggris menjadi nilai jual utama Awoniyi bagi tim promosi seperti Coventry. Ia bisa diandalkan sebagai ujung tombak tunggal maupun bagian dari skema dua penyerang, memberi fleksibilitas taktis bagi Lampard. Selain itu, etos kerjanya yang tinggi dinilai cocok dengan karakter tim yang harus berjuang keras di setiap laga.

Bagi Forest, melepas Awoniyi berarti merampingkan skuad sekaligus mendapatkan dana segar £9 juta. Meski nilainya berada di bawah harga pembelian, langkah ini tampaknya sudah mempertimbangkan minimnya menit bermain yang ia dapatkan musim lalu. Forest pun bisa fokus mempertahankan kekuatan utama di tengah padatnya jadwal kompetisi domestik maupun Eropa.

Coventry Sibuk Berbelanja di Bursa Transfer

Coventry tidak berhenti hanya dengan mendatangkan Awoniyi. Mereka telah merekrut gelandang Gus Hamer dari Sheffield United serta kiper Carl Rushworth, yang sebelumnya menjalani masa pinjaman dari Brighton. Winger Loum Tchaouna juga datang dari Burnley, sementara bek Aurele Amenda didatangkan dari Eintracht Frankfurt dan penyerang asal Ghana, Caleb Yirenkyi, direkrut dari Nordsjaelland.

Pemilik Nottingham Forest, Evangelos Marinakis, menyampaikan penghormatan terakhir untuk Awoniyi. “Taiwo akan selalu memiliki tempat istimewa dalam sejarah Nottingham Forest,” katanya. “Ia telah menjadi salah satu sosok penentu dalam perjalanan kami dan memberikan momen kebahagiaan besar bagi para suporter yang tidak akan pernah terlupakan.”

Dengan banyaknya rekrutan anyar, Coventry tampaknya serius membangun skuad yang kompetitif untuk musim Premier League. Para pemain baru itu diharapkan langsung beradaptasi dengan ritme permainan tim sebelum kompetisi dimulai. Pertandingan melawan Arsenal akan menjadi ujian pertama apakah racikan Lampard bersama para pendatang baru sudah siap bersaing di level tertinggi.

Transfer Taiwo Awoniyi ke Coventry City menjadi salah satu kisah bursa musim panas yang menarik, baik dari nilai kepindahan maupun nuansa perpisahannya. Coventry mendapatkan tambahan pengalaman Premier League yang berharga, sementara Nottingham Forest melepas pemain yang telah menorehkan kenangan manis di City Ground. Kini, seluruh perhatian tertuju pada laga pembuka melawan Arsenal untuk melihat apakah Awoniyi langsung dipercaya mentas memperkuat lini depan tim barunya.

Pocognoli Resmi Ditunjuk sebagai Pelatih Baru Skotlandia

Sebastien Pocognoli resmi ditunjuk sebagai pelatih baru Skotlandia. Federasi Sepak Bola Skotlandia mengumumkan penunjukan pelatih asal Belgia itu dengan durasi kontrak dua tahun pada 16 Agustus 2026. Ia dipercaya menggantikan Steve Clarke yang mundur setelah timnya tersingkir di fase grup Piala Dunia.

Kabar ini menjadi sorotan besar karena Pocognoli adalah pelatih asing kedua dalam sejarah timnas pria Skotlandia, setelah Berti Vogts dari Jerman. Tak hanya itu, ini juga menjadi pengalaman pertamanya menangani tim nasional. Namun, rekam jejaknya di level klub diyakini menjadi alasan utama federasi memberinya kepercayaan.

Profil dan Rekam Jejak Kepelatihan Pocognoli

Pocognoli bukanlah nama baru di sepak bola Eropa, khususnya di Belgia. Sebelum menangani Skotlandia, ia berhasil membawa Union Saint-Gilloise meraih gelar juara Belgian Pro League pada musim 2024-2025. Gelar tersebut menjadi yang pertama bagi klub dalam 90 tahun terakhir, sebuah pencapaian luar biasa untuk ukuran klub sekelas Union SG.

Kesuksesan itu membuat AS Monaco tertarik meminangnya pada Oktober 2025. Di bawah asuhannya, Monaco finis di peringkat ketujuh Ligue 1 musim 2025-2026 dan lolos ke Conference League. Namun, pada akhir musim tersebut Pocognoli justru didepak dari kursi pelatih Monaco.

Catatan pelatih berusia 39 tahun itu di Monaco sebenarnya tidak buruk. Ia memenangi 16 dari 38 pertandingan di semua kompetisi, dengan persentase kemenangan mencapai 42,1 persen. Angka ini menunjukkan bahwa ia mampu bersaing meski menghadapi tekanan besar di salah satu liga terketat di Eropa.

Mengapa Pocognoli Jadi Pelatih Baru Skotlandia?

Dalam pernyataan resminya, Pocognoli mengaku langsung merasa antusias saat pertama kali mendengar adanya ketertarikan dari Skotlandia. Ia juga sudah merasakan atmosfer dukungan publik Skotlandia ketika masih aktif sebagai pemain. Ia pernah menghadapi Skotlandia bersama timnas Belgia pada 2013 dan merasakan langsung betapa fanatiknya para pendukung Tartan Army.

Pocognoli bertekad memberikan tim yang bisa dibanggakan oleh seluruh pendukung Skotlandia. Ia ingin melanjutkan kesuksesan yang telah diraih pendahulunya, Steve Clarke. Sejak negosiasi dimulai, ia mengaku banyak melakukan riset, mengajukan berbagai pertanyaan, dan memetakan area yang perlu ditingkatkan.

Pengumuman ini juga disambut hangat melalui akun resmi media sosial timnas Skotlandia. Pada 16 Agustus 2026, unggahan resmi menyapa kedatangan Pocognoli sebagai kepala pelatih baru. Hal ini menunjukkan bahwa federasi dan para penggemar optimistis menyambut era baru ini.

Tantangan yang Menanti di Timnas Skotlandia

Menjadi pelatih asing kedua di kursi kepelatihan Skotlandia tentu bukan perkara mudah. Pocognoli harus mengikuti jejak Berti Vogts, pelatih asal Jerman yang pernah menangani tim ini sebelumnya. Meski begitu, ia datang dengan pengalaman yang berbeda dan pendekatan yang segar.

Ini juga menjadi pekerjaan pertamanya di level tim internasional. Sejak pensiun sebagai pemain, Pocognoli baru menempati tiga peran sebagai kepala pelatih, dengan Skotlandia sebagai peran ketiganya. Meski minim pengalaman di level tim nasional, ia telah membuktikan diri sebagai pelatih yang mampu membangun tim dari nol bersama Union Saint-Gilloise.

Tekanan akan semakin besar karena Skotlandia baru saja gagal di Piala Dunia. Publik tentu berharap Pocognoli bisa membawa perubahan positif dan memperbaiki performa tim. Kemampuannya meracik strategi dan membangun mental tim akan menjadi kunci suksesnya nanti.

Laga Perdana di Nations League

Pocognoli akan memulai tugasnya dengan menghadapi Slovenia pada 26 September. Laga ini merupakan partai Nations League yang mempertemukan Skotlandia dengan Slovenia, Swiss, dan Makedonia Utara dalam satu grup. Pertandingan perdana ini akan menjadi ujian awal bagi gaya kepelatihan Pocognoli.

Grup yang dihuni Skotlandia tidak mudah karena Swiss dan Slovenia merupakan lawan yang kerap tampil kompetitif di level Eropa. Namun, Skotlandia memiliki modal pengalaman tampil di turnamen besar di bawah arahan Clarke sebelumnya. Kini, publik menantikan bagaimana Pocognoli meramu tim untuk bersaing di level tertinggi.

Jika mampu melewati fase grup Nations League dengan baik, kepercayaan diri skuad Skotlandia tentu akan meningkat. Sebaliknya, hasil buruk bisa menjadi tekanan awal yang berat bagi pelatih asal Belgia tersebut. Karena itu, persiapan matang jelang laga debutnya menjadi hal yang mutlak.

Penunjukan Pocognoli sebagai pelatih baru Skotlandia membuka lembaran baru bagi timnas pria Skotlandia. Dengan rekam jejak sukses di level klub, ia diharapkan mampu membawa Skotlandia bangkit dari keterpurukan di Piala Dunia. Kini, dukungan penuh dari para penggemar dan kesabaran federasi akan sangat menentukan keberhasilannya.

Danny Rohl: Pindah ke Red Bull Salzburg Keputusan Tepat

Danny Rohl menegaskan bahwa keputusan pindah ke Red Bull Salzburg adalah pilihan yang tepat. Pelatih berusia 37 tahun itu mengaku tidak ragu dengan langkah beraninya meninggalkan Rangers, meski banyak yang mempertanyakan alasannya. “Sebagian orang bertanya mengapa, tapi saya merasa ini keputusan yang tepat sekarang. Saya tegaskan, ini langkah yang bagus,” ujarnya kepada BBC Sport.

Kini, dari kantornya yang rapi di pusat latihan klub di Taxham, pinggiran kota Salzburg, dengan latar Pegunungan Alpen Berchtesgaden yang menjulang, Rohl menceritakan 12 bulan yang penuh gejolak. Dalam delapan bulan di Ibrox, ia nyaris membawa Rangers kembali bersaing memperebutkan gelar juara di tengah musim yang kacau. Keputusan pindah ke Austria memang datang di luar rencana, tapi ia tidak menyesalinya.

Keputusan Besar di Tengah Liburan Hawaii

Rohl mengaku sama sekali tidak menyiapkan diri untuk perubahan besar ini. Panggilan telepon soal ketertarikan Salzburg datang ketika ia sedang berlibur di Hawaii pada Juni, dengan perbedaan waktu 12 jam dari Eropa. Ia kerap menerima telepon di dek utama kapal pesiar sekitar pukul lima atau enam pagi sambil merenungkan langkah apa yang harus diambil.

“Saya tidak siap menghadapi perubahan ini musim panas lalu,” kata Rohl. “Saya berada di Hawaii, perbedaan waktunya 12 jam dan saya sering berada di dek utama kapal pesiar sekitar pukul lima atau enam pagi. Saya menerima beberapa panggilan dan memikirkan situasi ini.” Ia mengaku semua situasi itu terus terlintas di kepalanya, apalagi dengan pemandangan laut dan matahari yang indah. “Saya melihat laut yang indah, melihat matahari, lalu berpikir: ‘OK, seperti apa masa depan?'”

Rohl menegaskan dirinya bersikap transparan kepada kedua belah pihak sejak awal. Ia berbicara terbuka dengan Rangers mengenai perasaannya, sekaligus mendengarkan rencana Red Bull Salzburg yang disampaikan langsung oleh direktur olahraga Marcus Mann. “Sejak hari pertama saya katakan kepada keduanya, jika tidak ada kesepakatan maka kami lanjutkan saja, karena saya sangat menghormati Rangers,” katanya. Ia menambahkan bahwa kisahnya bersama Rangers sebenarnya belum selesai, tetapi ia juga melihat peluang bagus untuk memulai dari nol bersama pemain berkualitas di Salzburg.

Kronologi Karier di Rangers

Kisah Rohl di Glasgow dimulai saat Rangers terpuruk di posisi keenam klasemen Scottish Premiership dengan catatan satu kemenangan dalam delapan pertandingan. Ia nyaris membalikkan keadaan secara luar biasa pada musim yang penuh gejolak tersebut. Namun empat kekalahan dalam lima pertandingan terakhir membuat Rangers harus puas finis di posisi ketiga.

Rohl sebenarnya berharap—dan diyakini banyak pihak—akan bertahan di Ibrox. Ketertarikan Salzburg yang datang di luar dugaan akhirnya mengubah arah kariernya, dan ia mengaku tidak menyesali keputusan tersebut. Derek McInnes, pelatih yang nyaris membawa Hearts merebut gelar musim lalu sebelum akhirnya kalah dari Celtic di pekan pamungkas, ditunjuk sebagai penggantinya. Namun McInnes belum meraih satu pun kemenangan dalam empat laga perdananya setelah tersingkir dari Liga Europa oleh Jagiellonia Bialystok.

Berbicara sebelum kekalahan tersebut, Rohl sempat mengomentari kerasnya tuntutan yang ada di Rangers. “Konsistensi adalah hal terpenting,” ujarnya. “Lingkungannya benar-benar menuntut. Semua orang yang ke sana, baik manajer, pemain, atau staf, harus memahami bahwa klub ini menuntut banyak hal, dan ini menciptakan tekanan besar untuk mengambil keputusan yang tepat.” Ia menambahkan bahwa tidak ada yang bisa benar-benar mempersiapkan diri menghadapi tekanan seperti itu, karena Anda harus mengalaminya langsung.

Tantangan Baru di Red Bull Salzburg

Salzburg bukanlah klub yang asing bagi Rohl. Karier kepelatihannya dimulai di RB Leipzig di bawah asuhan Ralph Hassenhuttl, sebelum ia mengikuti Hassenhuttl ke Southampton. Kini ia kembali ke lingkungan Red Bull dengan tugas besar membangkitkan kejayaan Salzburg di kompetisi domestik maupun Eropa.

Tantangannya jelas: Salzburg gagal meraih gelar Austrian Bundesliga dalam tiga musim terakhir, setelah sebelumnya memenangkan liga sepuluh kali berturut-turut. Musim lalu mereka bahkan hanya mampu finis di posisi ketiga. Rohl, yang menyebut penyelamatan Sheffield Wednesday dari degradasi pada 2023-24 sebagai keajaiban, kini ditugaskan mengulang keajaiban serupa di Austria.

“Ini bagian utama dari karakter saya, berani. Dalam tiga tahun terakhir saya selalu mendorong batas,” ujar Rohl. “Saya ingin memenangkan gelar dan setelah musim berakhir saya akan mengukur diri saya dari hasil itu. Ketika Anda mengambil alih tim, hal utama adalah memenangkan gelar, baik piala maupun liga.” Ia menegaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Salzburg belum mampu melakukannya, sehingga itu menjadi tujuan besar yang harus ia wujudkan.

Warisan Akademi Taxham dan Target Eropa

Salah satu

Martin O’Neill Keluar Rumah Sakit, Kapan Kembali ke Celtic?

Martin O’Neill telah keluar rumah sakit setelah menjalani prosedur kecil, tetapi belum ada kepastian kapan manajer Celtic berusia 74 tahun itu akan kembali memimpin tim. Shaun Maloney, asisten manajer Celtic, menegaskan bahwa belum ada timeline atau jadwal pasti untuk pemulihan dan kembalinya O’Neill ke pinggir lapangan. Keputusan terkait keikutsertaan sang manajer pada laga akhir pekan nanti pun masih menggantung.

Kabar ini tentu menjadi perhatian besar bagi pendukung Celtic, terutama dengan laga tandang melawan Kilmarnock yang dijadwalkan berlangsung Minggu. O’Neill sendiri diketahui baru diberikan kontrak satu tahun di awal musim ini setelah sukses membawa Celtic meraih Double liga dan Piala Skotlandia pada musim lalu. Saat itu, ia sempat menjalani dua periode sebagai manajer caretaker sebelum akhirnya diangkat permanen.

Martin O’Neill Keluar Rumah Sakit Setelah Prosedur Kecil

O’Neill diketahui keluar dari rumah sakit pada Kamis setelah menjalani prosedur yang digambarkan sebagai tindakan kecil. Sebelumnya, sang manajer sempat berada di bangku cadangan saat Celtic mengawali musim baru Premiership Skotlandia dengan kemenangan 1-0 atas Dundee pada Senin. Artinya, hanya berselang beberapa hari setelah laga pembuka tersebut, O’Neill harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Meski harus menjalani perawatan, kabar bahwa O’Neill telah diperbolehkan pulang menjadi sinyal positif bagi seluruh skuad Celtic. Prosedur kecil yang dijalaninya tampaknya tidak menimbulkan komplikasi berarti. Kini, perhatian utama tertuju pada proses pemulihan dan kesiapan fisiknya untuk kembali memimpin tim.

Shaun Maloney: Kondisi O’Neill Jauh Lebih Baik

Shaun Maloney mengungkapkan bahwa ia sempat mengunjungi O’Neill pada Kamis malam dan melihat kondisi yang menggembirakan. “Itu sangat positif. Kondisinya dalam keadaan baik, jauh lebih baik daripada Senin dan Selasa,” kata Maloney kepada media. “Mudah-mudahan perasaan positif yang dia miliki ini terus berlanjut.”

Maloney menambahkan bahwa pihaknya akan terus berkomunikasi dengan O’Neill untuk membahas persiapan tim. Pembicaraan tersebut mencakup rencana menghadapi Kilmarnock dan perkembangan terkini dari para pemain. Meski begitu, semua keputusan besar tetap berada di tangan O’Neill sebagai manajer utama.

Keputusan Tampil di Laga Lawan Kilmarnock Ada di Tangan O’Neill

Maloney menjelaskan bahwa situasi kesehatan O’Neill dipantau secara harian. “Bahkan untuk laga akhir pekan ini, semuanya berjalan hari demi hari,” ungkapnya. “Kami menemuinya tadi malam untuk membahas persiapan laga, tetapi hari ini dia tidak hadir di tempat latihan.”

Rencananya, Maloney akan berbicara langsung dengan O’Neill untuk mengetahui perkembangan terbaru. “Saya akan bicara dengannya sore ini, dan dia akan mengambil keputusan untuk besok,” kata Maloney. “Kalau bisa tampil akhir pekan ini, itu bagus. Kalau belum, kami akan menyiapkan tim dengan skenario tersebut.”

Dampak Absennya O’Neill dan Kesiapan Shaun Maloney

Jika O’Neill akhirnya absen di Rugby Park, Maloney akan mengambil alih kendali tim. Pria yang pernah menangani Hibernian dan Wigan ini mengaku situasi tersebut akan terasa aneh. Meski demikian, ia menegaskan siap menjalankan tugasnya demi tim.

“Kami pasti akan kehilangan dia jika dia tidak ada di sana, tetapi kami juga harus menghormati apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir,” ujar Maloney. Ia juga menyanjung pengaruh luar biasa O’Neill sejak bergabung pada Oktober. “Dampak yang dia berikan benar-benar luar biasa, terutama dalam cara dia memperlakukan pemain dan staf,” katanya.

“Kami akan merindukannya, tetapi kami akan tetap siap,” tegas Maloney. “Kami punya pemain senior yang hebat dan kami akan melihat perkembangannya. Kami serahkan keputusan itu kepadanya.”

Bursa Transfer Celtic: Belum Ada Rekrutan Baru Sebelum Laga

Di luar isu kesehatan, Maloney juga buka suara soal bursa transfer. Ia tidak berharap ada pemain baru yang bergabung sebelum laga melawan Kilmarnock, termasuk kabar tawaran untuk winger asal Mesir milik Oviedo, Haissem Hassan. Urusan transfer ini masih sepenuhnya menjadi domain O’Neill dan CEO Celtic, Michael Nicholson.

Soal masa depan pemain, Maloney mengakui ada minat terhadap gelandang Arne Engels dan bek kanan Alistair Johnston. Namun, ia tidak memiliki alasan untuk meyakini bahwa kedua pemain tersebut akan absen saat menghadapi Kilmarnock. Dengan kata lain, skuad inti diperkirakan tetap utuh untuk laga akhir pekan nanti.

Kesimpulan

Kabar Martin O’Neill keluar rumah sakit tentu menjadi kabar baik, tetapi proses pemulihan tetap menjadi prioritas utama. Shaun Maloney siap mengambil alih kendali tim jika sang manajer belum bisa kembali ke bangku cadangan untuk laga melawan Kilmarnock. Seluruh skuad dan staf Celtic pun berharap O’Neill segera pulih dan kembali memimpin tim.

Keputusan akhir tetap berada di tangan O’Neill, dan seluruh pihak di Celtic hanya bisa berharap pemulihannya berjalan lancar. Apapun hasilnya, dukungan penuh dari pemain, staf, dan pendukung akan selalu menyertai manajer legendaris tersebut. Yang jelas, kesehatan tetap nomor satu, dan sepak bola bisa menunggu.