Celtic dan Rangers resmi dijatuhi hukuman untuk bermain tanpa penonton pada laga kandang berikutnya di Piala Skotlandia. Sanksi ini merupakan konsekuensi langsung dari kerusuhan suporter yang mencoreng laga perempat final Old Firm musim lalu. Kedua klub juga diwajibkan membayar kompensasi sebesar £100.000 kepada tim lawan yang akan mereka hadapi pada pertandingan tersebut.
Keputusan ini diambil setelah melalui proses panjang di panel peradilan independen yang dibentuk Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA). Kerusuhan yang terjadi pada Maret lalu itu dinilai nyaris berubah menjadi konfrontasi massal yang jauh lebih berbahaya. Tak heran, sanksi ini pun disebut-sebut sebagai sinyal perubahan pendekatan SFA dalam menangani ulah suporter nakal.
Sanksi Berat untuk Celtic dan Rangers
Berdasarkan putusan panel, kedua klub raksasa Glasgow itu sama-sama wajib menggelar laga kandang berikutnya di Piala Skotlandia tanpa kehadiran penonton. Selain itu, masing-masing klub harus membayar kompensasi sebesar £100.000 kepada tim yang menjadi lawan mereka pada pertandingan tersebut. Sanksi ini diperkirakan mulai berlaku pada Januari, saat keduanya resmi memasuki putaran Piala Skotlandia musim ini.
Secara ringkas, berikut poin-poin hukuman yang dijatuhkan kepada Celtic dan Rangers:
- Bermain tanpa penonton untuk satu laga kandang di Piala Skotlandia.
- Membayar kompensasi £100.000 kepada lawan yang dihadapi pada laga tersebut.
- Ancaman hukuman satu laga kandang tanpa penonton tambahan jika suporter kembali melakukan perilaku tidak dapat diterima.
Kedua klub juga harus lebih ekstra waspada pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Jika insiden serupa kembali terjadi di ajang Piala Skotlandia, mereka berpotensi kehilangan hak bermain di kandang untuk satu pertandingan lagi. Dengan begitu, tekanan untuk mengendalikan perilaku suporter kini berada di pundak kedua klub.
Kronologi Kerusuhan yang Berujung Sanksi
Kerusuhan bermula setelah Celtic memastikan kemenangan atas Rangers melalui adu penalti di Ibrox pada laga perempat final Piala Skotlandia, 8 Maret. Momen euforia tersebut memicu suporter dari kedua kubu untuk turun membanjiri lapangan. Laporan di lapangan menyebutkan kembang api dan sejumlah benda lain dilemparkan ke area pertandingan, beberapa petugas polisi mengalami cedera, dan sejumlah orang pun diamankan.
Setelah kejadian utama itu, pihak kepolisian kembali melakukan tiga penangkapan tambahan yang masih berkaitan dengan kerusuhan Old Firm tersebut. Kedua klub kemudian didakwa melanggar aturan disiplin 37 SFA yang mengatur tentang perilaku tidak dapat diterima dalam pertandingan. Proses persidangan pun berlangsung di depan panel peradilan independen dengan menghadirkan keterangan dari kedua klub.
Reaksi Celtic dan Rangers terhadap Putusan
Celtic Sebut Hukuman Tidak Proporsional
Celtic menjadi pihak yang paling vokal dalam menyuarakan keberatannya. Klub asal Glasgow Timur itu mengaku kaget dan menilai hukuman yang dijatuhkan tidak proporsional dibandingkan insiden yang sebenarnya terjadi. Mereka menyebut kemunculan suporter ke lapangan pada momen emosi dan perayaan tersebut merupakan insiden berskala kecil.
Dalam pernyataan resminya, Celtic menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah membela suporter yang masuk ke area lapangan dan selalu mengambil tindakan tegas ketika hal itu terjadi. Celtic juga menyoroti fakta bahwa mereka bukan klub tuan rumah pada laga tersebut, sehingga tidak bertanggung jawab atas pengaturan keamanan stadion. Klub berencana mempelajari laporan panel secara menyeluruh sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
Rangers Pertimbangkan Langkah
Berbeda dengan Celtic, Rangers merespons putusan ini dengan pernyataan yang lebih singkat dan hati-hati. Klub asal Ibrox itu menyatakan akan mempertimbangkan hasil putusan SFA secara penuh, termasuk seluruh implikasinya, sebelum menentukan langkah berikutnya. Hingga kini, belum ada kepastian apakah Rangers akan mengajukan banding atau menerima sanksi tersebut.
Sinyal Perubahan Sikap SFA
Sanksi berat ini dinilai sebagai titik balik dalam pendekatan SFA terhadap masalah kerusuhan suporter. Sebelumnya, SFA dan Liga Profesional Skotlandia (SPFL) lebih sering menjatuhkan hukuman berupa denda atau pengurangan alokasi tiket untuk pelanggaran serupa, seperti penggunaan kembang api di tribun. Namun, tingkat keparahan sanksi kali ini menunjukkan bahwa otoritas sepak bola Skotlandia mulai mengambil sikap yang jauh lebih tegas.
Perubahan ini tidak lepas dari hasil review independen yang dipimpin Mark Blackbourne. Laporan yang dirilis bulan lalu tersebut menyimpulkan bahwa insiden Old Firm pada Maret lalu berada dalam “jarak yang sangat tipis” dari konfrontasi massal yang berpotensi meledak menjadi kekerasan besar. Review itu juga mengidentifikasi kelemahan dari kedua klub sekaligus mengkritik SFA yang dinilai kurang keras dalam menangani kerusuhan penonton.
Meski SFA sempat menjadi sasaran kritik, laporan panel justru memberikan ruang bagi SFA untuk bertindak lebih tegas. Ketika semua proses ini selesai, SFA berharap sanksi tersebut mampu mengirim pesan yang jelas bahwa perilaku tidak dapat diterima tidak akan lagi ditoleransi. Langkah kedua klub yang cenderung membela diri pun sudah diduga sejak awal oleh banyak pengamat.
Dampak Sanksi dan Konteks yang Lebih Luas
Bermain tanpa penonton tentu menjadi pukulan telak bagi kedua klub, terutama dari sisi finansial. Pendapatan tiket yang biasanya menjadi salah satu sumber pemasukan utama akan hilang pada laga kandang Piala Skotlandia mereka. Di luar itu, atmosfer pertandingan yang biasanya panas dan penuh tekanan dari tribun juga dipastikan akan sangat berbeda tanpa kehadiran suporter.
Di tengah hiruk-pikuk sanksi ini, Rangers tetap mengumumkan akan memberikan 300 tiket kepada Celtic untuk laga perempat final Piala Liga Skotlandia di Ibrox bulan depan. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan alokasi 8.000 tiket yang pernah diberikan kepada Celtic pada laga Piala Skotlandia 8 Maret lalu. Hal ini menjadi sorotan tersendiri karena menunjukkan bagaimana dinamika antara kedua klub tengah berubah di luar lapangan.
Ke depannya, semua mata akan tertuju pada bagaimana Celtic dan Rangers menjalani sisa musim ini. Kedua klub masih punya waktu untuk menyiapkan diri sebelum sanksi resmi berlaku pada Januari. Yang jelas, keputusan ini menjadi pengingat bahwa menjaga ketertiban suporter sama pentingnya dengan meraih kemenangan di lapangan.
