Manchester City Dinyatakan Bersalah, Fans Hadapi Kenyataan

Manchester City dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 pelanggaran aturan keuangan yang didakwakan kepada mereka. Putusan tersebut disebut muncul pada Jumat dan langsung memicu guncangan besar di sepak bola Inggris. Kabar ini menjadi babak baru dalam salah satu perkara paling pelik yang pernah dihadapi sebuah klub Liga Primer.

Dakwaan awalnya sendiri sudah diajukan sejak Februari 2023 dan berkaitan dengan aturan finansial Liga Primer, dengan perkara dilimpahkan ke komisi independen. Sepanjang proses tersebut, City tidak pernah mengakui melakukan kesalahan, dan BBC Sport diberitahu bahwa klub akan mengajukan banding bila dinyatakan bersalah. Namun bagi para pendukungnya, apa pun hasil akhirnya, keputusan ini memaksa mereka menghadapi kenyataan yang tidak sederhana.

Reaksi Suporter Manchester City: “Syok dan Tertegun”

Bagi pendukung setia City, kabar ini terasa seperti pukulan yang sulit dicerna. David Mooney, salah satu penggagas podcast Blue Moon, mengaku belum sepenuhnya bisa mengolah informasi tersebut saat berbicara kepada BBC Radio 5 Live. Ia menyebut dirinya masih terkejut dan tertegun dengan situasi yang sedang berjalan.

Mooney memperkirakan bahwa perasaan tersebut perlahan akan bergeser menjadi kekecewaan. Menurutnya, ini pengalaman yang aneh karena sepuluh tahun terakhir justru menjadi masa terbaik bagi City, sehingga muncul pertanyaan tentang bagaimana ia harus memaknai semua yang pernah ia saksikan. Ia menggambarkan ada dua sisi yang sulit didamaikan dalam perasaannya sebagai penggemar.

Di satu sisi, ia menikmati kesuksesan luar biasa dari tim yang ia dukung sepanjang hidup, dengan permainan yang menurutnya belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun di sisi lain, ia terus dibayangi anggapan orang lain bahwa semua itu diraih dengan cara curang dan tidak dicapai secara adil. Jika City memang terbukti bersalah, Mooney menilai para pendukung juga menjadi pihak yang dirugikan dalam perkara ini.

Latar Belakang Dakwaan: Pelanggaran 2009-2018

Tiga tahun lalu, City didakwa dan dirujuk ke komisi independen atas dugaan pelanggaran yang disebut terjadi antara 2009 dan 2018. Rentang waktu itu mencakup periode ketika klub bertransformasi menjadi kekuatan utama di Inggris, jauh sebelum era kepelatihan Pep Guardiola berjalan sepenuhnya. Dakwaan inilah yang kemudian berkembang menjadi perkara 115 pelanggaran yang kini menjadi pusat perhatian.

Selama periode yang disorot tersebut, City meraih tiga gelar Liga Primer, termasuk titel pertama mereka pada musim 2011-12. Klub juga mengoleksi satu Piala FA dan tiga Piala EFL dalam kurun yang sama. Deretan trofi itu kini menjadi bagian dari pertanyaan besar, karena prestasi di lapangan tidak bisa lagi dipisahkan dari proses hukum yang berjalan.

City sendiri menyatakan akan mengajukan banding jika benar dinyatakan bersalah, sehingga perkara ini belum tentu berakhir di meja komisi. Proses banding berpotensi memakan waktu panjang dan menambah ketidakpastian, terutama bagi para suporter yang menunggu kejelasan. Sampai ada keputusan final, status klub maupun trofi yang pernah diraih masih menyisakan tanda tanya.

Dampak yang Mungkin Dihadapi City dan Suporternya

Sanksi yang membayangi City cukup beragam, mulai dari pengurangan poin, hukuman finansial, hingga kemungkinan dikeluarkan dari Liga Primer. Skala hukuman itu membuat perkara ini berbeda dari sengketa aturan keuangan biasa. Bagi klub, konsekuensinya tidak hanya menyangkut kompetisi musim ini, tetapi juga reputasi jangka panjang dan daya tariknya di pasar transfer.

Bagi para penggemar, dampaknya lebih bersifat personal. Mooney menyebut bahwa satu dekade penuh kebahagiaan kini berbenturan dengan kenyataan yang harus diterima. Ia menilai, jika klub terbukti bersalah, perasaan para pendukung pun seolah ikut dimanfaatkan dalam perjalanan kesuksesan tersebut.

Pertanyaan yang kini menggantung adalah seberapa besar pengaruh keputusan ini terhadap persaingan di Liga Primer. Jika hukuman berat dijatuhkan, peta kekuatan di papan atas bisa berubah cukup signifikan. Sebaliknya, jika banding berjalan lama, ketidakpastian justru bisa mengganggu klub, pemain, dan rival-rival mereka.

Dari Divisi Dua ke Puncak Liga Primer

Generasi suporter City saat ini hanya mengenal masa-masa kejayaan, tetapi angkatan sebelumnya akrab dengan kenyataan yang jauh berbeda. Mereka pernah menyaksikan klub bermain di Divisi Dua lama, bersaing dengan tim seperti York City, Oldham Athletic, dan Chesterfield. Promosi lewat babak play-off pada akhir musim 1998-99 menjadi salah satu momen bersejarah yang melekat di ingatan mereka.

Hampir tiga dekade kemudian, situasinya berbalik total. City kini memiliki salah satu penyerang terbaik dunia, Erling Haaland, yang mencapai 100 gol Liga Primer lebih cepat daripada pemain mana pun dalam sejarah kompetisi. Klub juga memuncaki klasemen setelah memenangi lima pertandingan liga pertamanya, dan laga berikutnya setelah jeda internasional adalah lawatan ke Anfield menghadapi Liverpool.

Seorang penggemar bernama Matt mengaku situasi ini membuatnya seperti butuh terapi, karena kabar tersebut berkembang begitu cepat dalam beberapa jam terakhir. Ia mengenang masa ketika Paul Dickov mencetak gol di Divisi Dua dan mereka merayakan keberhasilan yang berujung pada pencapaian luar biasa. Ia menegaskan, jika gelar dicabut atau poin dikurangi sampai klub keluar dari liga, mereka akan tetap bertarung, dan ia bahkan tidak sabar menantikan Haaland mencetak hat-trick ke gawang Grimsby.

Matt juga menyoroti pentingnya laga melawan Liverpool sebagai ujian bagaimana para pendukung akan bereaksi. Ia mengingat kebiasaan suporter City yang mengejek lagu Liga Champions, lalu mempertanyakan bagaimana sikap mereka terhadap Liga Primer. Bagi banyak penggemar, perjalanan naik-turun bersama klub sudah biasa, dan tantangan kali ini dianggap sebagai bagian dari perjalanan itu.

Istanbul dan Kenangan yang Tak Bisa Dihapus

Perjalanan City di Eropa juga menjadi bagian dari kisah yang sulit dipisahkan dari para pendukungnya. Setelah gagal di final Liga Champions 2021 melawan Chelsea, klub akhirnya meraih gelar paling bergengsi di sepak bola klub Eropa pada 2023 dengan mengalahkan Inter Milan. Bagi banyak orang, malam itu adalah momen “saya ada di sana”.

Seorang pemegang tiket musiman bernama John mengenang pengalaman berada di Istanbul untuk final tersebut. Ia menegaskan bahwa apa yang ia rasakan saat itu, mulai dari persiapan pertandingan, jalannya laga, hingga hari sesudahnya, tidak akan pernah bisa diambil darinya. Menurutnya, hal itu tetap berlaku terlepas dari apa pun yang diputuskan di pengadilan atau di Liga Primer.

Pendukung lain, David Wilson, menyampaikan hal serupa kepada BBC News. Ia menilai seluruh kenangan dan trofi yang telah diraih tidak akan hilang dari ingatan para fans City, dan akan tetap hidup apa pun yang terjadi dalam beberapa pekan, bulan, hingga tahun ke depan. Ia juga menyebut banyak penggemar yang sudah ada sejak klub berada di divisi bawah, dan mereka akan tetap setia.

Harapan yang disampaikan Wilson adalah adanya penjelasan dari klub. Jika terbukti bersalah, ia ingin tahu mengapa proses ini berlangsung begitu lama dan apa konteks di baliknya. Ia yakin para penggemar sejati akan tetap mencintai klub, terlepas dari apa yang dikatakan orang lain.

Penutup

Keputusan atas perkara 115 pelanggaran ini membawa Manchester City ke titik yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Sanksi seperti pengurangan poin, denda, bahkan kemungkinan keluar dari Liga Primer masih menjadi bayangan, sementara rencana banding menambah panjang ketidakpastian. Di tengah semua itu, pengalaman satu dekade penuh trofi kini harus dimaknai ulang oleh para pendukung.

Yang tersisa untuk saat ini adalah perjalanan yang tetap berjalan di lapangan, termasuk lawatan ke Anfield setelah jeda internasional. Bagi para suporter, kenangan seperti malam di Istanbul dan gol-gol Haaland tetap menjadi milik mereka, apa pun putusan akhirnya. Peluit akhir dalam perkara ini belum benar-benar berbunyi, dan semua pihak masih menunggu babak berikutnya.