Jeda internasional selama tiga pekan yang baru saja usai sepertinya membawa manfaat lebih besar bagi Chelsea dibandingkan tim mana pun di Premier League. Teori itu setidaknya didukung oleh kemenangan 5-1 atas Bournemouth pada Sabtu, hasil yang muncul setelah sejumlah petinggi klub berbicara sebelum kick-off bahwa masa rehat panjang datang di waktu yang tepat bagi The Blues.
Bagi Chelsea, jeda ini bukan sekadar waktu istirahat. Manajer anyar Xabi Alonso mendapat ruang untuk membenahi sistem yang sebelumnya tampak rapuh, sementara sejumlah pemain kunci kembali pulih dari cedera. Dampaknya langsung terlihat di lapangan, dan kini menjadi pijakan penting bagi perjalanan The Blues pada sisa musim.
Jeda Internasional Chelsea Datang di Waktu yang Tepat
Kemenangan 5-1 atas Bournemouth menjadi bukti paling nyata bahwa masa rehat tiga pekan itu dimanfaatkan dengan baik. Meski ukuran sampelnya masih kecil dan baru satu pertandingan, hasil tersebut memperkuat dugaan bahwa Chelsea adalah tim yang paling diuntungkan oleh kalender internasional kali ini.
Yang menarik, sinyal itu sudah muncul bahkan sebelum peluit awal dibunyikan. Sejumlah petinggi klub menyebut jeda panjang hadir tepat ketika Chelsea membutuhkan waktu untuk membenahi diri, baik dari sisi taktik maupun kebugaran pemain. Pandangan itu sejalan dengan apa yang kemudian terjadi di lapangan.
Bagi Alonso, jeda tersebut memberi ruang bernapas yang berharga. Ia bisa mengevaluasi pertandingan-pertandingan sebelumnya, merancang pendekatan baru, sekaligus mengembalikan pemain yang sebelumnya absen. Kombinasi itu membuat Chelsea tampil jauh lebih rapi saat menghadapi Bournemouth.
Dua Belas Gol Kemasukan dan Kekalahan di Brentford
Sebelum jeda, Chelsea berada dalam situasi yang jauh dari ideal. Alonso masih terlihat mencari jawaban di dalam sistemnya sendiri, termasuk ketika ia beralih ke formasi tiga bek untuk menutupi kelemahan yang ada. Upaya itu belum benar-benar membuahkan kestabilan yang diinginkan.
Catatan statistik memperlihatkan masalahnya dengan jelas: Chelsea menjadi tim dengan jumlah gol kemasukan terbanyak di liga, yaitu 12 gol, sebelum masa rehat. Meski demikian, mereka beberapa kali masih mampu menang lewat kehebatan individu pemain seperti Cole Palmer, Morgan Rogers, dan Joao Pedro. Namun cara bermain seperti itu jelas tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.
Puncak dari persoalan tersebut adalah kekalahan 3-0 di markas Brentford tepat sebelum jeda. Hasil itu menegaskan bahwa penyesuaian besar memang diperlukan, bukan sekadar perbaikan kecil di sana-sini. Dari titik itulah Alonso menyusun sejumlah perubahan yang akhirnya ia terapkan melawan Bournemouth.
Alonso Ubah Cara Bertahan hingga Build-Up
Perubahan yang dilakukan Alonso terlihat pada beberapa aspek sekaligus. Chelsea bertahan lebih dalam, memberi tekanan dengan bentuk yang berbeda dari sebelumnya, dan mengubah pola membangun serangan agar timnya tampil lebih kokoh. Penyesuaian itu membuat The Blues tidak lagi mudah dibongkar lawan.
Perubahan bentuk pressing dan kedalaman garis pertahanan pada dasarnya bertujuan mengurangi ruang yang sebelumnya dieksploitasi lawan. Dengan bertahan lebih dalam, Chelsea bisa menutup celah di belakang dan memaksa Bournemouth bermain di area yang kurang menguntungkan. Sementara itu, variasi dalam build-up membuat serangan Chelsea lebih sulit dibaca.
Hasilnya terlihat dari skor akhir 5-1 yang tidak hanya menunjukkan ketajaman lini depan, tetapi juga keseimbangan tim secara keseluruhan. Chelsea tetap produktif tanpa harus mengorbankan struktur pertahanan seperti yang terjadi pada laga-laga sebelumnya.
Kembalinya Caicedo dan Dua Gol Joao Pedro
Faktor besar di balik penampilan baru Chelsea adalah kembalinya gelandang Moises Caicedo. Pemain asal Ekuador itu sebelumnya hanya bermain 14 menit sebagai pengganti setelah cedera betisnya kambuh saat tampil singkat melawan Brighton. Kualitasnya dalam menguasai bola dan kemampuannya merebut kembali bola membuat perbedaan yang sangat terasa.
Alonso pun tidak menyembunyikan kegembiraannya atas kembalinya Caicedo. Dalam momen yang cukup terbuka seusai menjalankan tugas media di Stamford Bridge, ia berkata, “Wow, saya benar-benar tidak sabar menunggunya kembali karena dengan Moi di lapangan, segalanya terlihat lebih tertata.” Ia menambahkan bahwa Caicedo sangat penting dan kehadirannya di skuad merupakan kabar baik.
Joao Pedro, yang mencetak dua gol dalam laga itu, mengungkapkan hal senada soal jeda panjang. Menurutnya, masa rehat terasa lama dan memberi tim kesempatan untuk memperbaiki kesalahan melawan Brentford, yang berujung pada hasil hebat. Ia sendiri menjadi pemain dengan kontribusi gol terbanyak di Premier League musim ini, yakni delapan gol terlibat langsung melalui lima gol dan tiga assist.
Selain Caicedo dan Joao Pedro, Chelsea juga mendapat kembali Marco Palestra dan Emmanuel Emegha yang keduanya masuk dalam daftar pemain cadangan. Bertambahnya opsi pemain ini memberi Alonso lebih banyak pilihan untuk mengatur komposisi tim.
Palmer, Kontrak Baru, dan Latihan Hampir Kekuatan Penuh
Cole Palmer memilih mundur dari tugas timnas Inggris, sebuah keputusan yang sempat menuai reaksi dari Thomas Tuchel. Namun keputusan itu terbukti tepat karena Palmer mampu bermain penuh 90 menit untuk Chelsea dan tampil dalam kondisi segar. Ia menghabiskan sebagian masa jeda dengan berlibur, seperti mayoritas anggota skuad lainnya, sambil menjalani program rehabilitasi pribadi bersama pelatih kebugaran pribadinya.
Sekembalinya ke klub, Palmer juga meneken kontrak baru yang nilainya meningkat dan masa berlakunya diperpanjang. Tanpa kewajiban bersama Inggris, ia bergabung dengan sekitar 16 pemain senior Chelsea, ditambah sejumlah prospek akademi, dalam sesi latihan yang hampir mendekati kekuatan penuh.
Ada pula momen yang sempat menjadi bahan cemoohan, yaitu kekalahan 2-0 dari klub Championship, Portsmouth, dalam laga uji coba tertutup. Namun pertandingan itu dinilai lebih sebagai sesi latihan internal. Laga tersebut menampilkan Caicedo dan pemain yang baru pulih dengan menit bermain terbatas, disertai sejumlah pemain akademi, sementara pelatih terus melakukan eksperimen taktik di sepanjang pertandingan sehingga hasil akhir bukan fokus utama.
Alonso sendiri menyebut dirinya menghabiskan banyak waktu untuk “kerja kantor”, yang menurut sejumlah sumber internal mencakup analisis taktik pertandingan sebelumnya serta persiapan menghadapi lawan berikutnya. Upaya itu juga melibatkan pelatih bola mati baru, Austin MacPhee. Gol kelima Chelsea saat melawan Bournemouth, sebuah rutin tendangan bebas di mana Palmer berpura-pura akan menembak sebelum Jordan Henderson melengkungkan bola ke sudut atas gawang, dirancang oleh MacPhee.
Semua itu merupakan bagian dari dorongan Alonso agar Chelsea lebih sulit diprediksi. Tujuannya jelas: memaksimalkan setiap peluang guna meningkatkan produktivitas serangan setelah musim lalu berakhir mengecewakan di peringkat ke-10 Premier League.
Rival Justru Kehilangan Lebih Banyak Pemain
Perbandingan jumlah pemain yang pergi bertugas ke timnas memperkuat argumen bahwa Chelsea paling diuntungkan. Chelsea hanya melepas 10 pemain, sementara rival-rival utama mereka jauh lebih banyak: Manchester City 18 pemain dan Arsenal 17 pemain.
Konsekuensi dari banyaknya pemain yang pergi terlihat pada cedera yang diderita klub lain. Arsenal kehilangan starter reguler Christos Tzolis, Manchester United kehilangan Noussair Mazraoui dan Patrick Dorgu, sedangkan Liverpool harus tampil tanpa Cody Gakpo, Alexander Isak, dan Dominik Szoboszlai. Chelsea sendiri memang kehilangan pemain sayap pelapis Jamie Gittens akibat cedera pergelangan kaki yang diperkirakan membuatnya absen selama “beberapa pekan” setelah memperkuat Inggris U-21, tetapi kerugian mereka jauh lebih ringan dibandingkan klub-klub pesaing.
Di sisi lain, sejumlah pemain Chelsea yang tetap dipanggil timnas, seperti Valentin Barco, Estevao Willian, Jorrel Hato, dan Geovany Quenda, justru diyakini mendapat keuntungan dari tambahan menit bermain bersama negara mereka. Kombinasi antara minimnya pemain yang pergi dan pulihnya sejumlah nama penting membuat skuad Chelsea berada dalam kondisi yang relatif menguntungkan.
Waktu yang Digunakan dengan Tepat
Menariknya, Alonso sendiri menilai jeda tiga pekan itu “terlalu panjang”. Meski begitu, ia dan timnya jelas tidak berdiam diri selama periode tersebut. Alonso menegaskan bahwa mereka punya waktu untuk segala hal, mulai dari menganalisis pertandingan yang sudah dijalani, mempersiapkan laga berikutnya, bekerja dengan sejumlah pemain, hingga memulihkan pemain yang cedera. Menurutnya, waktu itu telah digunakan dengan tepat.
Bagi Alonso, jeda internasional yang panjang telah memberi ruang bernapas yang berharga saat ia menyempurnakan pendekatannya di Chelsea. Fondasi yang ia bangun selama periode itu kini menjadi modal penting untuk menghadapi rangkaian pertandingan berikutnya.
Jika kemenangan 5-1 atas Bournemouth bisa dijadikan acuan, Chelsea tampaknya berhasil mengubah masa rehat yang terasa terlalu lama menjadi keuntungan nyata. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi, karena satu hasil besar baru bermakna jika diikuti performa stabil di laga-laga selanjutnya. Bagi Alonso, jeda itu bukan sekadar waktu untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk menyusun ulang arah timnya.
