Irish FA Tarik Dukungan untuk Gianni Infantino

Asosiasi Sepak Bola Irlandia Utara (Irish FA) resmi menarik dukungannya terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino menjelang pemilihan ulang yang dijadwalkan tahun depan. Dalam pernyataan resminya, Irish FA menegaskan bahwa sudah saatnya terjadi perubahan di tubuh FIFA dan menyatakan tidak akan memberikan suara untuk masa kepemimpinan Infantino berikutnya. Dengan demikian, Irish FA menjadi federasi sepak bola terbaru yang berpaling dari pria asal Swiss berusia 56 tahun tersebut.

Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya sorotan terhadap Infantino setelah rencananya menjual 21 persen saham operasi komersial FIFA kepada perusahaan investasi swasta gagal direalisasikan. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah menuai kritik luas, dengan UEFA sempat mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA. Sebelumnya, Irish FA memang mendukung sikap UEFA terhadap isu ini, tetapi belum secara formal menarik dukungannya kepada Infantino hingga kini.

Irish FA Tarik Dukungan dan Serukan Perubahan

Dalam pernyataan resminya, Irish FA menyampaikan bahwa rencana penjualan sebagian aset FIFA kepada perusahaan ekuitas swasta tanpa konsultasi merupakan lebih dari sekadar kegagalan komunikasi. Menurut federasi yang menaungi sepak bola Irlandia Utara ini, langkah tersebut memunculkan pertanyaan mendasar tentang strategi, tata kelola, dan pengelolaan aset FIFA. Karena itu, Irish FA menegaskan bahwa mereka percaya sudah tiba saatnya untuk melakukan perubahan.

Sikap tegas ini sekaligus mengonfirmasi bahwa Irish FA tidak akan memberikan suaranya kepada Infantino pada pemilihan presiden FIFA tahun depan. Padahal, sebelumnya federasi ini masih bersikap mendukung UEFA tanpa secara formal memutuskan dukungannya terhadap Infantino. Kini, pernyataan “saatnya berubah” menjadi sinyal kuat bahwa dukungan terhadap Infantino dari Irlandia Utara telah berakhir.

Kronologi: Rencana Penjualan Saham FIFA yang Memicu Kontroversi

Kontroversi yang menimpa Infantino bermula dari upayanya menjual 21 persen saham operasi komersial FIFA kepada sebuah perusahaan investasi swasta. Rencana ini langsung memicu kritik luas dari berbagai pihak karena dinilai tidak transparan dan berisiko terhadap aset organisasi. UEFA bahkan sempat mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA jika rencana tersebut tetap dilanjutkan.

Setelah menghadapi perlawanan besar, rencana penjualan saham tersebut akhirnya dibatalkan. Namun, dampaknya tidak berhenti begitu saja karena berbagai federasi mulai mempertanyakan kepemimpinan Infantino. Irish FA sendiri menilai bahwa insiden ini mengungkap masalah mendasar dalam cara FIFA dikelola dan diarahkan ke depan.

Menurut Irish FA, keputusan sepihak yang diambil tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan federasi anggota menjadi akar persoalannya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang arah strategis FIFA di bawah kepemimpinan Infantino. Kritik yang datang dari berbagai penjuru akhirnya mendorong sejumlah federasi untuk mengambil sikap tegas.

Dampak bagi Infantino: Dukungan yang Terus Menyusut

Keputusan Irish FA menambah daftar federasi yang secara terbuka meninggalkan Infantino. Sebelumnya, sejumlah asosiasi sepak bola di kawasan Inggris Raya dan Irlandia telah lebih dulu menyatakan tidak mendukung Infantino secara publik. Kini, Irish FA bergabung dengan kelompok tersebut, sehingga tekanan terhadap Infantino semakin besar jelang pemilihan presiden FIFA.

Federasi-federasi yang telah menarik dukungannya secara terbuka antara lain:

  • Asosiasi Sepak Bola Inggris
  • Asosiasi Sepak Bola Skotlandia
  • Asosiasi Sepak Bola Wales
  • Asosiasi Sepak Bola Republik Irlandia
  • Irish FA (Irlandia Utara)

Meski demikian, tidak disebutkan secara rinci bagaimana sikap berbalik dari federasi-federasi ini akan memengaruhi peluang Infantino. Namun, akumulasi penarikan dukungan ini jelas menjadi sinyal ketidakpuasan yang meluas terhadap kepemimpinannya. Beberapa federasi tampaknya menilai bahwa sudah waktunya ada wajah baru di kursi tertinggi FIFA.

Bagi Infantino, situasi ini menjadi tantangan serius karena ia berencana kembali mencalonkan diri. Dukungan yang semakin menipis tentu menyulitkan upayanya untuk mempertahankan posisi. Apalagi, kritik yang muncul tidak hanya datang dari satu wilayah, melainkan dari sejumlah asosiasi sepak bola Eropa.

Menuju Periode Keempat: Target Infantino hingga 2031

Infantino dijadwalkan mencalonkan diri kembali sebagai presiden FIFA untuk periode keempat pada bulan Maret. Jika berhasil memenangkan pemilihan tersebut, total masa kepemimpinannya akan mencapai 15 tahun pada akhir periode di tahun 2031. Pria Swiss berusia 56 tahun itu pun berpeluang memperpanjang kiprahnya di pucuk pimpinan FIFA hingga belasan tahun.

Pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang akan menjadi momen krusial bagi masa depan organisasi. Infantino dijadwalkan menjadi kandidat yang kembali maju untuk periode keempat, meskipun dukungan dari sejumlah federasi Eropa mulai berkurang. Pertanyaannya kini, apakah ia masih mampu mengamankan suara yang cukup untuk tetap memimpin FIFA hingga 2031?

Dalam konteks yang lebih luas, kritik terhadap Infantino tidak hanya datang dari federasi sepak bola, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran tentang transparansi FIFA. Beberapa tahun terakhir, FIFA berupaya memperbaiki citranya setelah berbagai skandal yang melanda organisasi sebelumnya. Namun, langkah-langkah kontroversial seperti rencana penjualan saham ini dikhawatirkan dapat menggerus kepercayaan yang telah dibangun.

Penarikan dukungan dari Irish FA menjadi babak baru dalam tekanan yang dihadapi Gianni Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA. Dengan bertambahnya federasi yang menolak memberikan suara, jalan Infantino menuju periode keempat tampak semakin terjal. Publik sepak bola dunia kini menunggu apakah langkah serupa akan diikuti federasi-federasi lain, atau justru memperkuat posisi Infantino di tengah kritik yang ada.