Generasi Emas Sepak Bola Israel dan Harapan yang Retak

Timnas Israel U-20 mencetak kejutan besar pada Piala Dunia U-20 2023 di Argentina. Mereka menyingkirkan Brasil, salah satu raksasa sepak bola dunia, di babak perempat final, lalu menutup turnamen di peringkat ketiga. Pencapaian itu begitu mengguncang sehingga publik Israel menyebut skuad tersebut sebagai generasi emas sepak bola Israel — sebuah label yang terasa istimewa mengingat tim senior mereka sepanjang sejarah hanya sekali lolos ke Piala Dunia.

Puncak euforia itu terjadi pada Juni 2023 dan sempat melahirkan harapan besar tentang masa depan sepak bola Israel. Lima hari setelah kemenangan atas Brasil, laga semifinal melawan Uruguay menjadi tayangan paling ditonton malam itu di televisi Israel dengan pangsa pemirsa 23 persen, sementara para politikus berlomba menyampaikan ucapan selamat. Namun hanya sekitar empat bulan setelahnya, serangan Hamas pada 7 Oktober mengubah wajah negeri itu — termasuk dunia sepak bolanya.

Soccer Football – Premier League – Ipswich Town v Liverpool – Portman Road, Ipswich, Britain – September 4, 2026 Liverpool’s Alexander Isak scores a goal that was later disallowed Action Images via Reuters/Paul Childs EDITORIAL USE ONLY. NO USE WITH UNAUTHORIZED AUDIO, VIDEO, DATA, FIXTURE LISTS, CLUB/LEAGUE LOGOS OR ‘LIVE’ SERVICES. ONLINE IN-MATCH USE LIMITED TO 120 IMAGES, NO VIDEO EMULATION. NO USE IN BETTING, GAMES OR SINGLE CLUB/LEAGUE/PLAYER PUBLICATIONS. PLEASE CONTACT YOUR ACCOUNT REPRESENTATIVE FOR FURTHER DETAILS..

Malam Bersejarah di Argentina yang Terasa Seperti Fiksi Ilmiah

Ido Rakovsky, jurnalis media Israel Haaretz yang meliput perjalanan tim tersebut, mengaku pengalamannya lebih mirip melaporkan fiksi ilmiah ketimbang peristiwa olahraga. Menurutnya, kemenangan atas Brasil adalah sesuatu yang nyaris tidak bisa dibayangkan sebelumnya. “Musim panas itu, semua orang menonton sepak bola U-20, semua orang tahu nama para pemainnya,” kata Rakovsky. “Semua orang di Israel jatuh cinta pada anak-anak ini.”

Geloranya tidak hanya terasa di lapangan. Komentator televisi Israel yang menyiarkan laga tersebut menyerukan bahwa malam itu akan dikenang lintas generasi. “Anda akan menceritakan malam ini kepada anak-anak Anda, dan mereka akan menceritakannya kepada cucu-cuci Anda,” ujarnya. Seruan itu tidak jatuh di telinga kosong, sebab banyak warga Israel menyaksikannya dan menganggapnya sebagai salah satu momen terbesar olahraga nasional mereka.

Yang membuat momen itu terasa istimewa bukan cuma hasil di papan skor. Setelah mencetak gol kemenangan di masa tambahan waktu melawan Uzbekistan pada babak 16 besar, Anan Khalaili memberi wawancara kepada televisi Israel. Dalam kesempatan itu, pemain berdarah Arab tersebut berterima kasih kepada pemirsa di rumah yang rela begadang menyaksikan timnya menang di Argentina. Ia menggunakan frasa Ibrani “Am Yisrael” — istilah yang bermakna “Bangsa Israel” dan lekat dengan agama, komunitas, serta sejarah Yahudi.

Bagi Rakovsky, pilihan kata Khalaili menyiratkan sesuatu yang lebih dalam tentang identitas skuad tersebut. Menurutnya, tim itu menghidupkan klaim bahwa sepak bola benar-benar mampu menyatukan orang: pemain Muslim menjadi bagian dari tim nasional negara Yahudi, mewakili Israel, sekaligus menciptakan sesuatu yang lebih baik untuk masa kini dan masa depan. Narasi itulah yang kemudian diuji keras oleh perang.

Bukan Kebetulan: Fondasi Prestasi yang Dibangun Bertahun-tahun

Langkah tim Israel di Piala Dunia U-20 2023 bukanlah keberuntungan sesaat. Skuad yang hampir sama, dengan beberapa penambahan dan pengurangan nama, sudah mencuri perhatian di level kontinental sebelumnya. Mereka menjadi runner-up Euro U-19 2022 setelah kalah dari Inggris di babak perpanjangan waktu, lalu melanjutkan performa itu dengan mencapai semifinal Euro U-20 2023.

Israel memang pernah melahirkan pemain kelas dunia. Eyal Berkovic dan Yossi Benayoun adalah penyerang bertalenta teknis yang menempuh karier panjang di Premier League. Namun yang membedakan angkatan saat ini adalah kedalaman talenta yang muncul bersamaan, bukan sekadar satu atau dua nama bersinar, sehingga tim ini punya fondasi kolektif yang jarang dimiliki sepak bola Israel.

Sejumlah pemain dari angkatan tersebut kini menapaki karier di klub-klub Eropa maupun Amerika Serikat. Beberapa nama yang paling disorot antara lain:

  • Anan Khalaili — sempat menjadi salah satu prospek paling diburu di Eropa. Kepindahannya ke Inter Milan senilai 21,5 juta poundsterling gagal terwujud, lalu Crystal Palace memenangkannya dari persaingan dengan Nottingham Forest dengan nilai transfer serupa dari klub Belgia Union Saint-Gilloise.
  • Oscar Gloukh (22 tahun) — mengenakan nomor punggung 10 Ajax setelah performanya mengantar kepindahan dari Red Bull Salzburg.
  • Roy Revivo — bek kiri yang pindah ke klub Spanyol Elche dari Maccabi Tel Aviv pada hari terakhir bursa transfer.
  • Stav Lemkin (23 tahun) — bek Twente yang juga mendapat penilaian tinggi.
  • Dor Turgeman, Ilay Feingold, dan Idan Toklomati — mencuri perhatian di Major League Soccer, Amerika Serikat.

Semua pemain itu kini sudah mengoleksi caps bersama tim senior Israel. Namun mereka lebih dulu dibentuk menjadi satu kesatuan yang kompak oleh pelatih level usia, Ofir Haim — sesuatu yang sering kali sulit dicapai oleh tim senior Israel.

Ofir Haim dan Skuad yang Mampu Merangkul Perbedaan

Haim secara terbuka menyoroti keragaman latar belakang anak asuhnya saat Piala Dunia U-20 2023. Menurutnya, perbedaan agama bukan persoalan di dalam tim. “Kami tidak punya masalah apa pun soal agama. Sama sekali tidak. Di sini ada pemain yang memakai tefillin, dan Anan, Hamza, serta Ahmed menjalankan salat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa hal itu bahkan tidak pernah dibicarakan karena tim memilih menyatukan semua orang, dan ia berharap negaranya bisa sesatu timnya.

Sepak bola sejak lama menjadi ruang pertemuan komunitas-komunitas di Israel yang mungkin tidak akan bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari. Dr Omer Einav, sejarawan dan penulis buku tentang sejarah sepak bola Israel berjudul Defending the Goal, menjelaskan bahwa mayoritas orang Yahudi yang datang pada periode mandat 1923–1948 berasal dari Eropa. Mereka tidak punya kesamaan dengan budaya Timur Tengah dalam hal sinema, musik, teater, atau tari. Sepak bola menjadi satu-satunya bahasa bersama, satu-satunya hal yang mereka cintai dengan cara yang sama.

Keterlibatan warga Arab Israel dalam olahraga ini juga signifikan. Meski hanya sekitar 20 persen dari populasi Israel, mereka menyumbang sekitar 35 persen dari mereka yang berkecimpung di sepak bola pada level elite nasional. Pemain Arab pertama yang membela timnas Israel adalah Rifaat Turk pada 1976, sementara pada 2018 Bibars Natcho menjadi Muslim pertama yang menjadi kapten tim nasional. Keduanya tidak lepas dari kontroversi: Turk mendapat hinaan luas, sedangkan keputusan Natcho tidak menyanyikan lagu kebangsaan — yang liriknya berkaitan dengan pencarian tanah air bangsa Yahudi — dikritik sejumlah pihak.

7 Oktober dan Perubahan yang Tak Terhindarkan

Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Sebagai respons, Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa meyakini serangan balasan tersebut telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina. Ketika perang terus berlanjut, muncul pertanyaan besar: apakah potensi generasi emas sepak bola Israel, baik di lapangan maupun di masyarakat, masih bisa terwujud?

Matan Segal pernah hampir empat tahun menakhodai Kick It Out Israel, sebuah inisiatif antidskriminasi yang tujuannya mirip dengan organisasi bernama sama di Inggris meski tidak berafiliasi. Ia menyaksikan rasisme terhadap pemain Arab menjadi semakin keras dan meluas selama masa kepemimpinannya. Ada beberapa pemicu yang ia catat: pandemi Covid yang membuat sebagian suporter teradikalisasi lewat dunia maya saat lockdown, pelantikan pemerintahan sayap kanan Israel pada akhir 2022 yang seolah melegitimasi pandangan ekstrem terhadap warga Palestina, dan tentu saja perang.

“Sebelum 7 Oktober, orang umumnya menghormati para pemain Arab,” kata Segal. “Meski mereka kesulitan menerima pemain yang tidak menyanyikan lagu kebangsaan, mereka tetap menghormatinya dan hal itu bisa dibicarakan.” Menurutnya, situasi berubah drastis setelah 7 Oktober, ketika ujaran rasis meningkat dan mulai muncul di klub-klub kecil yang sebelumnya tak pernah menunjukkannya. Ia menyebut adanya lagu-lagu mengerikan, termasuk seruan membunuh semua orang Arab dan klaim keliru bahwa tak ada sekolah di Gaza karena tak ada anak yang tersisa.

Rasisme memang bukan hal baru di sepak bola klub Israel. Suporter Beitar Jerusalem termasuk yang paling dikenal; pada 2013, kelompok ultras mereka membakar kantor klub sendiri sebagai protes atas perekrutan dua pemain Muslim asal Chechnya. Kelompok paling ekstrem lama melontarkan nyanyian “semoga desamu terbakar” kepada warga Arab Israel sambil menyatakan diri “selamanya murni”.

Emosi akibat konflik pun menjadikan sepak bola sebagai titik fokus. Klub-klub yang biasanya bermusuhan keras bersatu mengenang mereka yang tewas dalam serangan Hamas, dan syal menjadi bagian dari peringatan di lokasi festival musik Nova. Lencana klub Hapoel Jerusalem kini memuat siluet Hersh Goldberg-Polin, sandera yang tewas dalam tawanan dan orang tuanya berkampanye untuk perdamaian di tengah duka. Sementara itu, sejumlah tentara Pasukan Pertahanan Israel berpose dengan bendera dan spanduk klub saat bertugas di Gaza, mempersembahkan tindakan mereka untuk klub dan ultras di rumah.

Dalam atmosfer setinggi itu, pemain muda berada di bawah pengawasan dan tekanan tanpa henti, terlebih karena mereka terhubung langsung dengan konflik melalui program dinas nasional serta banjir komentar dan gambar di dunia maya. Sahabat seumur hidup Oscar Gloukh, Afik Tery, tewas oleh bahan peledak Hamas saat bertugas di IDF. Setelah kejadian itu, Gloukh mengunggah rangkaian foto haru keduanya dari waktu ke waktu — saat masih anak-anak di pesta ulang tahun hingga saat remaja di sebuah pernikahan — dengan slide terakhir menampilkan pemakaman Tery. Di antara balasan atas unggahan itu muncul cemoohan dari kalangan pro-Palestina.

Dilema Pemain Berdarah Palestina: Antara Karier dan Keyakinan

Bagi pemain Israel keturunan Palestina, taruhannya jauh lebih tinggi dan berbahaya. Dia Saba mengemban peran playmaker mirip Gloukh dan telah mencetak tiga gol dalam 13 penampilan bersama timnas Israel, sebuah catatan yang tampaknya sulit ia tambah lagi. Saat konflik memanas, ia adalah salah satu bintang paling menonjol Maccabi Haifa ketika istrinya, Narmin, mengunggah pesan singkat di Instagram: “Ada anak-anak di Gaza juga.”

Saba menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang timbul, tetapi itu tidak menyelamatkan kariernya di Israel. Ia meninggalkan Maccabi Haifa pada 2025 dan kini bermain untuk klub Turki, Amedspor. “Impian saya adalah bermain untuk Maccabi Haifa, klub yang saya dukung, tim yang membesarkan saya,” kata Saba saat itu. “Saya ingin melanjutkan. Tapi kadang ada alasan yang lebih kuat dari kita yang tidak mengizinkannya.”

Pemain seperti Saba sudah terbiasa dipertanyakan loyalitasnya, dan pertanyaan itu datang dari segala arah. Di sisi lain, banyak pihak di dunia Arab justru berharap lebih banyak prospek Palestina di Israel mengikuti jejak Ataa Jaber. Jaber pernah menjadi kapten timnas Israel U-21, tetapi berpindah kewarganegaraan untuk membela Palestina pada Juni 2023. Alasannya, ia tak lagi bisa memisahkan olahraga dari politik setelah menyaksikan polisi menggusur keluarga Palestina dari rumah mereka di Yerusalem Timur yang diduduki Israel.

Keputusan meninggalkan sepak bola internasional tingkat tinggi itu merusak peluangnya berkarier di Eropa. Di dalam negeri, muncul seruan agar kewarganegaraan Israel-nya dicabut. Namun bagi Jaber, semua risiko itu lebih baik daripada mewakili negara yang tindakannya ia kutuk.

Beram Kayal dan Upaya Merawat Pluralisme lewat Sepak Bola

Pemain yang bersuara tentang konflik memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. Beram Kayal, mantan pemain Brighton, Celtic, dan timnas Israel, memahami betul dilema serta kenyataan yang dihadapi para pemain Arab. “Menjadi orang Arab di Israel, kadang sulit,” ujarnya. “Kadang berat. Dalam hal peluang, kadang kami tidak berada di level yang sama.”

Meski begitu, Kayal percaya pada masa depan Israel yang pluralistik dan meyakini sepak bola bisa menjadi alat untuk mencapainya. Persahabatannya dengan Tomer Hemed — yang pertama ia kenal sebagai remaja di akademi Maccabi Haifa dan kemudian menjadi rekan setimnya di Brighton, Charlton, serta tim nasional — menggambarkan pendekatannya. Ia mengenang bagaimana Hemed berdoa dengan mengenakan kippah, sementara ia sendiri menunaikan salat. “Dia rekan setim saya dan dia saudara saya,” kata Kayal. “Di sepak bola, di atas lapangan, kamu tidak pernah melihat warna, budaya, atau agama. Kamu hanya ingin orang-orang terbaik di sekitarmu untuk memenangkan pertandingan.”

Kini Kayal bekerja untuk Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA), mendampingi talenta muda dari wilayah Palestina. Ia berkolaborasi dengan mantan kiper Israel Boni Ginzburg, yang pernah bermain di Glasgow untuk Rangers dan sekarang menjabat direktur teknis IFA. Setelah bahasa Arab diturunkan statusnya di bawah bahasa Ibrani melalui undang-undang kontroversial 2018 yang didorong Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, IFA menggelar pelajaran bahasa Ibrani bagi pelatih berbahasa Arab agar mereka tetap bisa memperoleh lisensi kepelatihan.

Menanggapi kebijakan bahasa tersebut, Kayal menegaskan bahwa di lingkungan kerjanya hal itu tidak berlaku. Ia menyebut dirinya berada di IFA justru untuk membawa budaya bangsa Arab ke meja perundingan. Kepada pemain Arab yang masuk tim nasional, ia berpesan agar tidak takut dan tidak malu berbicara dengan bahasa mereka sendiri. Menurutnya, Israel adalah negara muda yang perlu belajar dari “DNA”-nya sendiri, melihat keberagaman Yahudi, Sirkasia, Arab, Muslim, Kristen, dan Druze, lalu memadukannya untuk mencari cara yang lebih baik.

Euro 2028, Protes, dan Tekanan Baru yang Menanti

Target berikutnya jauh lebih besar daripada apa yang dicapai tim nasional Israel dalam lebih dari 50 tahun terakhir. Ran Ben-Shimon ditunjuk sebagai pelatih kepala tim senior pada 2024 dengan tugas mengubah janji para pemain muda menjadi kualifikasi Euro 2028, yang akan digelar di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia. Jika berhasil, tekanan pada para pemain Israel dan potensi keretakan kesatuan skuad dipastikan meningkat.

Protes berskala besar sudah direncanakan menjelang laga-laga Nations League Republik Irlandia melawan Israel. Dublin akan menjadi tuan rumah tujuh pertandingan turnamen itu, sementara Villa Park di Birmingham — tempat para pendukung Maccabi Tel Aviv dilarang hadir pada laga Europa League November lalu — akan menggelar empat pertandingan. Hampden Park, yang berjarak sekitar dua mil dari markas pendukung Celtic yang getol menyuarakan dukungan untuk Palestina di Glasgow, mendapat jatah enam pertandingan. Di mana pun Israel bermain, para pemain akan berhadapan dengan kritik atas perlakuan negara mereka terhadap warga Palestina, baik di dalam negeri maupun di Gaza — kritik yang jarang disuarakan di rumah sendiri.

Dr Sophia Solomon dari Center for Sports Diplomacy, Universitas Ben-Gurion, menilai masyarakat Israel sangat sensitif terhadap segala bentuk simpati atas peristiwa 7 Oktober. Menurutnya, sensitivitas itu sebanding dengan penolakan terhadap penyangkalan Holocaust. Ia menambahkan bahwa perang menciptakan situasi khusus yang sebelumnya tidak ada, dan ketika arena Eropa semakin terasa anti-Israel, mengekspresikan penderitaan justru semakin didorong. Satu reaksi memicu reaksi lain, dan muncul kewajiban yang lebih besar untuk mengidentifikasikan diri dengan korban 7 Oktober.

Solomon meyakini butuh waktu bagi masyarakat Israel, termasuk para pesepak bola, untuk memahami tiga tahun terakhir dan berbicara terbuka soal konflik. “Selama perang masih berlangsung, tidak ada yang bisa mengatakan apa yang benar-benar ia pikirkan,” ujarnya. Bahkan setelah Timur Tengah kembali ke kegilaan “normal”-nya, ia memperkirakan perlu sekitar satu dekade sebelum orang bisa mulai membicarakan pengalaman dan ekspektasi mereka. Menurutnya, waktu harus berjalan sebelum area-area sensitif bisa disentuh, dan saat ini masih banyak penghindaran untuk membicarakannya, bahkan sekadar menyebutnya.

Momen yang Menunggu Dijawab Waktu

Kesempatan bagi generasi cemerlang ini untuk mewujudkan potensi mereka bisa datang sebelum luka itu sembuh, bisa juga tidak. Mengubah janji di level usia menjadi produk jadi di level senior memang tidak pernah sederhana. Namun apa pun yang terjadi di masa depan, Haim dan timnya pernah memberikan sesuatu yang istimewa bagi Israel selama beberapa bulan pada musim panas 2023.

Dr Omer Einav mengenang bagaimana gol Anan Khalaili dan Hamza Shibli ke gawang Brasil terasa seperti gambaran masa depan. “Saya tidak terlalu optimistis, tapi orang-orang berpikir mungkin ini benar-benar hal magis yang bisa membantu masyarakat Israel secara umum,” katanya. Menurutnya, sepak bola berada dalam dimensi yang agak terisolasi dan steril di dalam masyarakat Israel — semacam gelembung — namun tidak hermetis, karena banyak kotoran seperti rasisme dan kekerasan tetap masuk. Meski begitu, ia percaya sepak bola bisa memantulkan hal-hal baik: kesetaraan peluang, toleransi, dan solidaritas semua orang yang tinggal di sana.

Einav menyimpulkan bahwa sepak bola tidak bisa menyembuhkan apa pun, tetapi bisa membantu orang melihat satu sama lain dengan lebih manusiawi. Baginya, momen itu benar-benar pernah ada — sayangnya, momen tersebut datang sebelum dunia mereka berubah dan runtuh. Hanya waktu yang bisa menjawab apa yang tersisa dari momen itu, dan apakah ia masih mungkin dihidupkan kembali.