Debut Oliver Glasner sebagai manajer Nottingham Forest berakhir dengan kekecewaan. Dalam laga Premier League pertamanya di City Ground, Forest harus menyerah 0-1 dari Leeds United setelah tendangan bebas Anton Stach mengecoh kiper Matz Sels pada menit ke-88. Kekalahan ini tentu menjadi awal yang jauh dari harapan bagi pelatih asal Austria tersebut.
Kekalahan ini menjadi ujian awal yang berat bagi Glasner, yang diangkat untuk membawa stabilitas setelah Nottingham Forest berganti manajer empat kali pada musim lalu. Pelatih berusia 51 tahun itu pun sadar bahwa transformasi tidak bisa terjadi secara instan, dan publik City Ground diminta bersabar dengan proses yang sedang berjalan. Namun, hasil negatif di laga perdana tetap menyisakan pertanyaan besar tentang kesiapan tim menghadapi musim yang panjang.
Debut Oliver Glasner Berakhir dengan Frustrasi
Meski kalah, Nottingham Forest sebenarnya tampil lebih berbahaya dan menciptakan sejumlah peluang berkualitas sepanjang laga. Igor Jesus gagal memaksimalkan sundulan emas di babak kedua, sementara Nikola Milenkovic sukses membentur tiang gawang Leeds. Peluang demi peluang yang tercipta gagal dikonversi menjadi gol, dan justru Leeds yang mampu mencuri kemenangan di pengujung laga.
Beberapa momen penting layak menjadi catatan dalam laga ini:
- Sundulan Igor Jesus di babak kedua belum mampu membobol gawang Leeds.
- Tembakan Nikola Milenkovic masih menghantam tiang, bukan jala gawang lawan.
- Tendangan bebas Anton Stach pada menit ke-88 mengecoh Matz Sels dan menjadi penentu kemenangan Leeds.
Struktur permainan yang ingin diterapkan Glasner, terutama pemanfaatan lebar lapangan melalui wing-back, sudah mulai terlihat dalam laga ini. Namun, eksekusi di sepertiga akhir lapangan masih menjadi pekerjaan rumah besar, dan suasana City Ground pun terasa datar karena laga berjalan antiklimaks. Sementara itu, gol kemenangan Leeds membuat Daniel Farke berpesta dengan suporter tim tamu, berkebalikan dengan Glasner yang hanya bisa bertepuk tangan kepada para penggemar yang meninggalkan stadion lebih awal.
Latar Belakang Ketidakstabilan di Nottingham Forest
Ini bukan kali pertama Nottingham Forest merasakan pahitnya melawan Leeds di tengah musim yang penuh gejolak. Pada pertemuan terakhir mereka musim lalu di Elland Road, kekalahan 1-3 membuat masa jabatan Sean Dyche yang baru berjalan 114 hari semakin di ujung tanduk. Kekalahan itu, yang diikuti gejolak di ruang ganti, berujung pada pemecatan Dyche beberapa hari setelahnya.
Glasner sebenarnya bukanlah pengganti langsung Dyche, karena Vitor Pereira sempat mengambil alih dan berhasil membawa Forest bertahan di Premier League serta menembus semifinal Liga Europa. Namun, Pereira justru dipecat pada bulan Juni lalu untuk memberi jalan bagi mantan pelatih Crystal Palace tersebut. Situasi ini menunjukkan betapa cepatnya kursi manajer di Forest berganti, sesuatu yang ingin diubah oleh Glasner dengan pendekatan jangka panjang.
Dalam laga debutnya kali ini, Glasner menegaskan bahwa tidak ada cara instan untuk mengubah performa tim. Ia bahkan mengibaratkan bahwa mustahil timnya tiba-tiba bermain seperti Real Madrid era 1970-an hanya dengan sentuhan ajaib dari staf pelatih. Meski begitu, ia melihat semangat kerja keras dari para pemain dan menilai itu sebagai modal awal yang positif untuk melanjutkan proses pembangunan.
Belum Ada Wajah Baru di Starting XI
Salah satu catatan menarik dari laga debut ini adalah tidak adanya satu pun pemain anyar yang masuk dalam susunan starter Nottingham Forest. Dari sebelas pemain yang diturunkan, delapan di antaranya juga tampil pada laga pembuka musim lalu saat Forest mengalahkan Brentford di bawah arahan Nuno Espirito Santo. Sementara itu, dua rekrutan musim panas, Ousmane Diomande dan Xaver Schlager, baru dimasukkan pada menit ke-73 ketika tim tertinggal.
Kondisi ini tentu kontras dengan kebiasaan Forest yang sangat aktif di bursa transfer dalam beberapa musim terakhir. Setelah 13 pemain baru direkrut pada musim panas lalu, dan 21 pemain lainnya didatangkan pada tahun 2022 pasca-promosi, lini utama tim musim ini justru terlihat begitu familiar. Alhasil, laga debut Glasner tidak terasa seperti awal dari sebuah era baru yang segar.
Di tengah situasi tersebut, kepergian Elliot Anderson ke Manchester City dengan nilai transfer sekitar 116 juta poundsterling pada bulan Juli menjadi pukulan tersendiri. Secara kualitas, skuad Forest justru berpotensi lebih lemah dibandingkan musim lalu. Selain itu, kondisi fisik beberapa pemain juga belum optimal, seperti Murillo yang baru kembali berlatih tiga pekan lalu setelah empat bulan absen karena cedera, serta Chris Wood yang melewatkan dua laga uji coba akibat masalah ringan.
Rencana Transfer untuk Menambah Amunisi
Nottingham Forest dikabarkan sedang mengincar setidaknya dua pemain baru di sisa bursa transfer musim panas ini. Glasner sebelumnya sempat menyebut bahwa klub sedang menggarap dua atau tiga kesepakatan setelah memenangi laga uji coba terakhir melawan Stade Brest. Namun, ia juga mengisyaratkan bahwa tidak akan ada pemain anyar yang tampil dalam laga berikutnya.
Pola belanja di akhir bursa sebenarnya sudah menjadi langganan Forest dalam beberapa musim terakhir. Musim panas lalu, lima dari total rekrutan mereka baru dirampungkan dalam 12 hari terakhir bursa, termasuk winger Dilane Bakwa yang direkrut pada hari penutupan. Kali ini, Forest dikabarkan mengejar gelandang Tottenham Hotspur, Lucas Bergvall, meski pemain asal Swedia itu diprediksi akan bertahan di London Utara.
Glasner sendiri menegaskan bahwa dirinya menantikan tambahan pemain untuk dua posisi berbeda dalam skuadnya. “Saya tidak berekspektasi ada pemain baru untuk Selasa, tetapi dua pemain lagi, di dua posisi berbeda. Klub bekerja keras untuk menyelesaikan kesepakatan,” ujarnya. Kehadiran pemain baru diharapkan bisa memberi suntikan energi bagi tim yang sudah memiliki kualitas seperti Neco Williams dan Morgan Gibbs-White.
Pelajaran dari Stabilitas Leeds United
Kekalahan ini terasa ironis karena datang dari tim yang justru bisa dijadikan contoh oleh Nottingham Forest dalam hal stabilitas. Leeds United di bawah Daniel Farke berhasil membangun konsistensi, dan Farke kini menjadi manajer dengan masa bakti terlama ketiga di Premier League. Ia hanya kalah dari Mikel Arteta di Arsenal dan Unai Emery di Aston Villa.
Farke yang menangani Leeds sejak Juli 2023 lalu itu berhasil membawa timnya finis di peringkat ke-14 pada musim lalu, dan kini mencoba mengkonsolidasikan diri di kompetisi teratas Inggris. Keberhasilan Leeds bertahan dengan satu pelatih yang sama menjadi kontras dengan kebiasaan Forest yang kerap berganti-ganti manajer dalam waktu singkat. Forest sendiri memiliki ambisi untuk kembali ke kancah Eropa setelah menembus semifinal Liga Europa musim lalu.
Dengan kekalahan ini, Forest diharapkan bisa segera bangkit, dan kesempatan itu datang cukup cepat. Mereka akan kembali menjamu Leeds di ajang Carabao Cup pada Selasa mendatang, hanya beberapa hari setelah laga Premier League ini. Laga tersebut bisa menjadi momentum pembuktian bagi Glasner dan timnya untuk memperbaiki kesalahan dan menunjukkan perkembangan.
Kesimpulan
Kekalahan pada laga debut ini tentu bukan akhir dari segalanya bagi Oliver Glasner dan Nottingham Forest, melainkan awal dari proses panjang yang membutuhkan kesabaran. Glasner menegaskan bahwa timnya tidak akan menundukkan kepala dan justru akan fokus pada perbaikan di setiap lini. “Kekalahan ini selalu memberi saya umpan balik yang bagus tentang bagaimana kami menghadapi situasi. Kami tidak mengubur kepala di pasir, kami fokus pada apa yang perlu dilakukan dan apa yang sudah kami lakukan dengan baik,” katanya.
Jika respons cepat diberikan, hasil minor ini bisa berubah menjadi batu loncatan menuju musim yang lebih stabil bagi Forest. Dukungan suporter, tambahan pemain baru, dan waktu adaptasi yang lebih panjang akan menjadi faktor kunci perkembangan tim ke depan. Kini, semua mata tertuju pada laga Carabao Cup melawan Leeds untuk melihat apakah Forest mampu bangkit lebih cepat dari jadwal.
