Kyra Cooney-Cross Dedikasikan Laga Arsenal untuk Ibunda

Gelandang Arsenal, Kyra Cooney-Cross, akan kembali menginjakkan kaki di Emirates Stadium pada Minggu ini ketika timnya menjamu Crystal Palace. Laga tersebut menjadi penampilan pertamanya di stadion itu sejak ia kehilangan sang ibunda, Jess, yang meninggal dunia akibat kanker sekitar dua bulan lalu. Pemain berusia 24 tahun ini menyebut pertandingan kali ini akan terasa jauh lebih emosional dibandingkan laga-laga sebelumnya.

Kembalinya Kyra Cooney-Cross ke lapangan bukan sekadar soal sepak bola. Ia ingin mempersembahkan pertandingan itu untuk sang ibu sekaligus mengucapkan terima kasih kepada para pendukung Arsenal yang terus memberi dukungan. Laga melawan Crystal Palace pun menjadi titik penting dalam prosesnya kembali ke kompetisi, setelah sempat meninggalkan lapangan selama beberapa bulan untuk mendampingi ibunya di Australia.

Pertandingan Pertama di Emirates Tanpa Sosok Sang Ibunda

Emirates Stadium dipastikan akan riuh ketika Cooney-Cross melangkah ke lapangan pada Minggu nanti. Namun, ada satu orang penting yang tidak akan hadir di antara penonton, yakni ibunya, Jess. Gelandang tim nasional Australia itu menjadikan laga tersebut sebagai momen bermain di stadion kebanggaan Arsenal untuk pertama kalinya sejak ibunya berpulang.

Kepada BBC Sport, ia mengungkapkan keyakinannya bahwa sang ibu tetap ingin melihatnya berada di sana, berlatih dan bertanding. Ia juga menegaskan keinginannya bermain untuk para penggemar sebagai bentuk rasa terima kasih atas dukungan yang mereka berikan. Meski begitu, ia mengakui bahwa hari pertandingan kini dipenuhi emosi yang campur aduk dan terasa jauh lebih berarti.

Menurut Cooney-Cross, ia antusias menyambut laga tersebut, tetapi sekaligus sadar bahwa hari itu akan menjadi hari yang penuh gejolak batin. Ia ingin tampil untuk ibunya sekaligus untuk para pendukung Arsenal. Yang membuat momen ini semakin istimewa, pertandingan terakhir kali sang ibu menontonnya bermain juga berlangsung di Emirates, sehingga kembalinya ia ke stadion itu menyimpan makna yang dalam.

Diagnosis Kanker Langka hingga Kepergian Jess

Ibunda Cooney-Cross didiagnosis mengidap kolangiokarsinoma stadium empat pada Januari tahun ini. Kanker saluran empedu jenis itu tergolong langka dan agresif, sehingga penanganannya tidak sederhana. Tujuh bulan setelah diagnosis ditegakkan, tepatnya pada Juli, Jess meninggal dunia pada usia yang baru menginjak 45 tahun.

Kabar bahwa ibunya mengidap kanker stadium akhir diterima Cooney-Cross tak lama setelah Natal. Saat itu ia sedang berada di Inggris karena memutuskan tidak pulang ke rumah untuk liburan. Panggilan telepon dari ayah tirinya yang menyampaikan berita tersebut membuat situasi terasa semakin berat, dan sejak momen itu ia menggambarkan dunianya berubah selamanya.

Begitu mendengar diagnosis tersebut, ia langsung mengambil penerbangan berikutnya untuk pulang ke Australia. Ia juga mengajukan cuti panjang dari dunia sepak bola agar bisa mendampingi ibunya di bulan-bulan terakhir hidupnya. Ia menyebut waktu kebersamaan itu sebagai sesuatu yang sangat ia butuhkan, sekaligus kenangan menyedihkan yang tetap layak dikenang sebagai hal indah.

Pengorbanan Ibu Tunggal di Balik Karier Kyra Cooney-Cross

Cooney-Cross merupakan anak tertua dari empat bersaudara. Ia mengakui bahwa pengorbanan ibunya berperan besar dalam membentuk perjalanan kariernya di dunia sepak bola. Jess membesarkan keempat anaknya seorang diri, dan menurut Cooney-Cross, sebagian besar pengorbanan itu bahkan tidak sepenuhnya ia ketahui.

Selama bertahun-tahun, sang ibu mengantar Cooney-Cross berlatih hingga empat kali sepekan ke Melbourne. Perjalanan itu memakan waktu sekitar satu setengah jam untuk sekali jalan, bolak-balik. Kondisi keuangan keluarga saat itu sangat terbatas, sampai-sampai uang untuk membeli bahan bakar pun menjadi hal yang sulit.

Karena itulah Cooney-Cross ingin membawa sosok ibunya dalam setiap hal yang ia lakukan, baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia ingin menjadikan cara ibunya menjalani hidup sebagai teladan dalam caranya bersikap dan bermain. Baginya, sang ibu adalah pribadi yang benar-benar istimewa dan luar biasa.

Dukungan Arsenal dan Rekan Setim Saat Masa Sulit

Cooney-Cross adalah salah satu bintang paling bersinar di tim nasional Australia. Ia menembus tim senior pada usia 19 tahun dan telah mencatatkan 63 penampilan, termasuk menjadi starter di seluruh tujuh pertandingan pada Piala Dunia 2023 yang digelar di negaranya sendiri. Pencapaian itu menjadikannya sosok penting, baik bagi timnas maupun klubnya.

Selama berada di Australia, Cooney-Cross tetap menjaga kebugarannya dengan berlatih bersama pelatih pribadi dari Senin hingga Jumat di lapangan. Ia juga memanfaatkan fasilitas kebugaran yang tersedia untuk menunjang latihannya. Menurutnya, latihan menjadi semacam pelarian yang membuatnya merasa lebih bebas dari tekanan situasi di luar lapangan, sekaligus cara memenuhi harapan ibunya agar ia kembali dalam kondisi terbaik pada musim ini.

Kembali bermain setelah sekitar enam bulan absen tentu bukan hal mudah bagi atlet mana pun. Namun, Cooney-Cross menyebut perhatian Arsenal selama ia pergi sebagai sesuatu yang luar biasa. Beberapa pihak di klub maupun di sekitarnya terus menunjukkan kepedulian, antara lain:

  • Renee Slegers, pelatih kepala tim, yang rutin menghubunginya selama masa cuti.
  • Claire Wheatley, direktur sepak bola wanita, yang juga gencar menanyakan kondisinya.
  • Alessia Russo dan Taylor Hinds, rekan setim yang menjadi penopang emosional yang besar.

Cooney-Cross mengaku sedih harus meninggalkan keluarganya, tetapi ia sekaligus merasa sudah siap untuk kembali bermain. Keputusan itu menurutnya harus diambil meski berat untuk dijalani. Ia bersyukur karena prosesnya berjalan sangat mulus, dengan orang-orang baik yang terus berada di sekelilingnya.

Makna Lebih Besar dari Laga Melawan Crystal Palace

Pada laga pembuka musim Arsenal melawan Brighton, Cooney-Cross belum diturunkan dan hanya duduk di bangku cadangan. Kembalinya ia ke Emirates untuk menghadapi Crystal Palace pun menjadi kesempatan untuk kembali menunjukkan kualitasnya. Ia berharap bisa membuat bangga sosok yang selama ini menjadi pendorong utama kariernya.

Cooney-Cross menyimpan salah satu pesan dari ibunya dan selalu membacanya sebelum setiap pertandingan. Ia mengaku gaya penulisan ibunya sangat indah, sehingga pesan itu menjadi pengingat yang selalu ia bawa. Ia juga sering merenungkan bagaimana ia menjalani hidup serta apa yang mungkin akan dikatakan atau dilakukan ibunya dalam berbagai situasi.

Sebagian besar tujuan dan dorongan dalam dirinya kini bersumber dari sosok ibunya, dan hal itu terasa semakin kuat setelah kepergiannya. Ia ingin bermain dengan baik, membanggakan ibunya, sekaligus menghadirkan kebahagiaan di tengah kesedihan yang dirasakan keluarganya. Baginya, sepak bola menjadi cara untuk terus membawa kenangan sang ibu tetap hidup.

Penutup

Kembalinya Kyra Cooney-Cross ke Emirates Stadium melawan Crystal Palace menjadi momen yang sarat makna. Laga itu menandai penampilan pertamanya di stadion tersebut setelah kehilangan ibunya, sekaligus menjadi wujud dedikasi bagi perempuan yang berjasa besar dalam kariernya. Dukungan klub, rekan setim, dan para penggemar turut membuat prosesnya kembali ke lapangan terasa lebih ringan.

Di balik duka yang masih ia rasakan, Cooney-Cross memilih terus melangkah dengan membawa kenangan dan nilai-nilai yang ditanamkan ibunya. Laga melawan Crystal Palace pun bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan kesempatan untuk bermain bagi sosok yang paling ia cintai.