Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo, resmi mengundurkan diri pada Minggu (15/6/2025) sehari setelah timnya gagal melaju ke babak 16 besar Piala Dunia. Keputusan ini diambil setelah mendapatkan kecaman keras dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, yang menyebut ada “orang-orang tak kompeten” di balik kegagalan tersebut.
Hong, yang sebelumnya juga menjadi kapten tim nasional, menjalani masa jabatan keduanya sebagai pelatih. Sayangnya, ia kembali mencatatkan kegagalan di Piala Dunia setelah sebelumnya juga tersisih di babak grup pada 2014. Padahal, publik dan media Korea Selatan menaruh harapan besar karena timnya tergabung di Grup A yang relatif ringan bersama tuan rumah Meksiko, Afrika Selatan, dan Ceko.
Kinerja Tim di Piala Dunia
Korea Selatan tampil mengecewakan dengan hanya meraih satu kemenangan dan dua kekalahan. Mereka kalah 1-0 dari Afrika Selatan dan Meksiko, sementara satu-satunya kemenangan diraih saat mengalahkan Ceko 2-1. Hasil itu membuat mereka finis di posisi ketiga klasemen grup dengan tiga poin, di bawah Meksiko dan Afrika Selatan yang lolos ke fase gugur.
Kegagalan ini sangat kontras dengan ekspektasi sebelumnya. Banyak pengamat sepak bola Asia meyakini Korea Selatan setidaknya bisa melaju ke babak 16 besar, apalagi dengan skuad yang dihuni beberapa pemain bintang seperti Son Heung-min. Namun, strategi dan penampilan tim selama turnamen dinilai tidak maksimal.
Kritik Tajam Presiden Lee Jae Myung
Kemarahan publik mencapai puncak ketika Presiden Lee Jae Myung melontarkan kritik pedas melalui akun media sosialnya. Dalam pernyataannya, ia menyalahkan “orang-orang tak kompeten” yang duduk di posisi kepemimpinan sebagai akar masalah.
“Ketika loyalitas dan primordialisme lebih dihargai daripada kompetensi, dan orang-orang tak kompeten diangkat ke posisi kepemimpinan, hasilnya sudah bisa ditebak,” tulis Lee di X. “Saya menyampaikan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya kepada publik atas kekecewaan besar akibat hasil yang tidak bisa diterima ini. Kami akan segera melakukan reformasi tata kelola olahraga agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tambahnya.
Pernyataan presiden itu langsung menjadi sorotan media dan warganet Korea Selatan. Banyak yang mendukung sikap tegas Lee, namun ada juga yang menganggapnya terlalu frontal. Meski demikian, tekanan terhadap Hong Myung-bo sudah terasa sejak sebelum turnamen dimulai.
Keputusan Kontroversial Hong Myung-bo
Hong memang sudah menjadi sosok yang tidak populer di mata fans dan media Korea Selatan sejak awal penunjukannya pada Juli 2024. Ia kerap mendapat cemoohan saat memimpin tim di laga kandang. Salah satu keputusan paling kontroversial adalah ketika ia mencadangkan kapten veteran Son Heung-min pada laga melawan Afrika Selatan — laga yang sebenarnya hanya membutuhkan hasil imbang untuk lolos. Sayangnya, langkah berani itu justru menjadi bumerang karena tim justru kalah.
Dalam konferensi pers setelah pengunduran dirinya, Hong mengaku telah melakukan yang terbaik untuk sepak bola Korea. “Selama dua tahun terakhir, saya selalu bertanya pada diri sendiri sebelum setiap keputusan penting, pemilihan pemain, atau persiapan latihan: ‘Apakah ini pilihan yang tepat untuk sepak bola Korea?'” ujarnya dikutip Yonhap News Agency. “Saya tidak bisa mengatakan setiap keputusan saya benar, tapi saya bisa mengatakan bahwa semua keputusan saya demi kepentingan sepak bola Korea.”
Akhir Perjalanan Hong Myung-bo
Setelah resmi mundur, Hong menyatakan akan tetap menjadi pendukung setia tim nasional. “Saya akan bersorak untuk tim nasional dari lubuk hati yang paling dalam, dan berharap tim ini kembali dipercaya dan dicintai oleh rakyat,” katanya.
Pengunduran diri ini menandai babak baru bagi sepak bola Korea Selatan. Kini, federasi sepak bola setempat harus bergerak cepat mencari pengganti dan menjalankan reformasi yang dijanjikan presiden. Publik pun menanti apakah langkah evaluasi ini benar-benar akan membawa perubahan berarti bagi masa depan sepak bola Negeri Ginseng.
