Turnamen piala dunia 2026 bukan cuma soal formasi, odds, dan statistik, tapi juga soal manusia di balik jersey: pemain yang tiap minggu berhadapan dengan tekanan, sorotan, bahkan kebencian di tribune. Di titik ini, cerita Vinícius Júnior dan Lamine Yamal tentang keberanian melawan diskriminasi jadi relevan banget buat kamu yang main turnamen mix parlay World Cup 2026, karena mentalitas mereka di luar lapangan sering ikut menentukan performa di dalam lapangan.
Beberapa hari lalu, Lamine Yamal angkat suara soal chant anti‑Muslim yang ia dengar saat Spanyol bermain imbang 0‑0 melawan Mesir di Barcelona. Sebagian fans menyanyikan yel‑yel Islamofobik, termasuk “Musulmán el que no bote” dan mengejek momen beberapa pemain Mesir sujud syukur di jeda pertandingan. Yamal, yang Muslim, menyebut chant itu “tidak hormat, tidak dapat diterima, dan menunjukkan kebodohan ketika agama dipakai untuk bahan olok‑olok di lapangan”.
Vinícius Júnior, yang selama delapan tahun di Spanyol sudah menghadapi setidaknya 20 kasus dugaan hinaan rasial, langsung memuji keberanian Yamal. Menurutnya, penting bagi pemain dengan suara besar untuk bicara karena “kita memang terkenal, punya uang, bisa menyeimbangkan semua ini, tapi orang‑orang kulit hitam dan orang miskin di luar sana menderita lebih parah. Kita harus saling menopang, terutama yang punya suara kuat.” Dia juga menegaskan, dia tidak menyebut Spanyol, Jerman, atau Portugal sebagai negara rasis, tapi mengakui ada rasis di semua negara—termasuk Brasil—sehingga perjuangan ini harus kolektif dan berkelanjutan.
Continue reading