Kualifikasi Afcon 2027 resmi bergulir pekan ini. Sebanyak 48 tim yang masih berpeluang tampil di putaran final akan melakoni dua pertandingan di jendela internasional yang diperpanjang, dimulai pada Kamis, sebagai langkah awal menuju turnamen di Kenya, Tanzania, dan Uganda. Dua laga tambahan menyusul pada November, sementara fase grup baru benar-benar tuntas lewat dua pertandingan terakhir pada Maret.
Jendela kualifikasi kali ini jadi sorotan karena berbarengan dengan sejumlah pergantian pelatih besar. Nama-nama seperti Patrick Vieira dan Herve Renard memulai babak baru di bangku pelatih, sementara beberapa bintang yang lama menjadi tulang punggung tim nasional memilih gantung sepatu. Turnamen ini juga menandai kembalinya Piala Afrika ke Afrika Timur untuk pertama kalinya sejak 1976, sehingga gaungnya terasa lebih besar dari biasanya.
Format dan Jadwal Kualifikasi Afcon 2027
Peserta yang masih bertahan bersaing dalam 12 grup, dengan dua tim teratas dari sembilan grup berhak melaju ke putaran final yang diikuti 24 tim. Karena tiga tuan rumah, yakni Kenya, Tanzania, dan Uganda, sudah dipastikan lolos, masing-masing grup yang berisi tuan rumah hanya menyediakan satu tempat tambahan. Konsekuensinya, finis di posisi kedua di tiga grup tersebut belum tentu cukup untuk mengamankan tiket.
Persiapan menuju turnamen di Afrika Timur memang disebut masih tertinggal, tetapi hal itu tidak lantas membuat persaingan di lapangan menjadi longgar. Sebaliknya, jadwal yang padat memaksa setiap tim mengatur rotasi pemain sekaligus mengejar poin sebanyak mungkin sejak awal. Setiap jendela pertandingan menjadi peluang sekaligus risiko, terutama bagi negara-negara yang baru mengganti pelatih dan belum punya banyak waktu membangun kekompakan.
Kualifikasi Afcon 2027 sendiri berjalan bertahap. Dua ronde dimainkan pada jendela saat ini, dua pertandingan lagi digelar pada November, dan seluruh grup baru mencapai titik akhir pada Maret. Pola ini memberi ruang bagi para pelatih baru untuk menilai pemain sekaligus menguji strategi sebelum pertarungan sesungguhnya tersaji di putaran final.
Patrick Vieira dan Herve Renard Pimpin Era Baru
Dua pergantian pelatih paling mencuri perhatian melibatkan Herve Renard dan Patrick Vieira. Renard kembali menangani Pantai Gading sekitar 11 tahun setelah membawa negara itu meraih gelar juara, dan ia merupakan satu-satunya pelatih yang mampu menjuarai Piala Afrika bersama dua negara berbeda. Pelatih asal Prancis berusia 57 tahun itu memulai periode keduanya di kandang sendiri melawan Ghana pada Kamis, laga yang disebut sebagai pertandingan paling menarik di ronde pertama.
Di bangku pelatih lawan, Carlos Queiroz kembali memimpin Ghana setelah membawa Black Stars menembus 32 besar Piala Dunia. Namun, kekuatannya sedikit berkurang karena Mohammed Kudus, pemain Tottenham, termasuk sejumlah nama yang menarik diri dari skuad. Situasi ini menuntut Queiroz memutar otak agar tetap menyusun komposisi yang kompetitif di laga sebesar itu.
Patrick Vieira menjadi sosok besar lain yang datang. Juara Piala Dunia 1998 bersama Prancis itu kini menangani Senegal, negara tempat ia dilahirkan, dan menyebut peran tersebut sebagai “sebuah mimpi yang sempurna”. Mantan gelandang Arsenal berusia 50 tahun itu akan mengawali kiprahnya lewat dua laga tandang melawan Mozambik dan Ethiopia, sebab Dakar tengah bersiap menjadi tuan rumah Olimpiade Remaja 2026.
Deretan Pelatih Baru Lain yang Perlu Dipantau
Tanjung Verde menjadi salah satu kisah istimewa di Piala Dunia 2026 karena mampu memberi perlawanan ketat kepada Argentina sebelum kalah 3-2 setelah perpanjangan waktu di 32 besar. Pelatih yang sudah lama menangani mereka, Bubista, kemudian mengundurkan diri, dan posisinya diteruskan oleh asistennya, Humberto Bettencourt. Ia akan memulai masa kepelatihannya di Mali pada Jumat sebelum menjamu Rwanda pada Selasa.
Aljazair, Tunisia, dan Afrika Selatan juga berganti pelatih seusai Piala Dunia. Tunisia menunjuk mantan pelatih Esperance dan Renaissance Berkane, Moin Chaaban, untuk melupakan kampanye buruk di Piala Dunia yang membuat Sabri Lamouchi dipinjamkan setelah satu pertandingan dan Renard gagal membangkitkan tim. Afrika Selatan memanggil kembali Pitso Mosimane sekitar 14 tahun setelah periode terakhirnya, yang berujung pada kegagalan Bafana Bafana tampil di Piala Afrika 2012, sedangkan Brahim Hemdani mengambil alih Aljazair setelah kepergian Vladimir Petkovic.
Legenda Piala Afrika, Claude Le Roy, juga kembali di usia 78 tahun setelah menandatangani kontrak untuk periode kedua bersama Kongo-Brazzaville. Red Devils belum lagi tampil di putaran final sejak 2015, sementara Le Roy menargetkan melatih di edisi Piala Afrika kesepuluh, sebuah rekor yang terus ia perpanjang. Selain itu, Burkina Faso mempercayakan kursi pelatih kepada mantan bos Komoro, Amir Abdou, dan Aliou Cisse, pelatih juara Piala Afrika 2021, akan menjalani pertandingan kompetitif pertamanya bersama Angola setelah sempat menangani Libya. Ia langsung menghadapi tugas berat dengan bertandang ke Mesir.
Era Baru Tanpa Sejumlah Bintang
Sejumlah pemain tenar memutuskan pensiun dari tim nasional seusai Piala Dunia, dan beberapa di antaranya merupakan mantan juara Piala Afrika. Senegal kini mencari kiper utama baru setelah Edouard Mendy melepas sarung tangannya. Kiper berusia 34 tahun itu ikut mengantar Teranga Lions menjadi juara pada edisi 2021 dan 2025, meski gelar terakhir masih diperdebatkan di Pengadilan Arbitrase Olahraga.
Riyad Mahrez, winger yang membawa Aljazair meraih trofi pada 2019, telah berhenti memperkuat tim nasional, sementara Pantai Gading harus beradaptasi tanpa gelandang Seko Fofana dan Jean-Michael Seri. Ellyes Skhiri turut mengakhiri karier internasionalnya dan tak akan terlibat saat Tunisia berupaya mencapai penampilan ke-18 berturut-turut di Piala Afrika, sebuah rekor yang terus diperpanjang. Kehilangan pemain-pemain ini memaksa pelatih baru mencari pengganti sekaligus merombak cara bermain tim.
Di Gabon, Pierre-Emerick Aubameyang memilih mundur dari tugas negara karena merasa “dihina” atas perlakuan yang ia terima setelah kegagalan di turnamen sebelumnya. Pemain berusia 37 tahun itu sempat disingkirkan dari tim nasional setelah Gabon tersingkir di fase grup, dan meski sanksi tersebut kemudian dicabut, ia tetap menolak bergabung dengan skuad asuhan Sebastien Migne. Keputusan itu diambilnya kendati ia tampil apik bersama Deportivo La Coruna pada awal musim ini.
Eritrea dan Somalia: Harapan dari Afrika Timur
Eritrea kembali ke fase grup kualifikasi Piala Afrika untuk pertama kalinya sejak persiapan menuju edisi 2008, setelah menyingkirkan Eswatini dengan agregat 4-1 pada babak pendahuluan bulan Maret. Chad, Djibouti, Mauritius, Sao Tome dan Principe, serta Seychelles menjadi lima negara lain yang sudah tersingkir lebih awal. Namun, tujuh pemain Eritrea dilaporkan melarikan diri setelah laga tandang yang digelar di Afrika Selatan.
Peristiwa atlet Eritrea yang tidak kembali ke negara berideologi satu partai dan sangat termiliterisasi itu memang bukan hal baru. Persoalan tersebut bahkan menjadi salah satu alasan negara Afrika Timur itu menarik diri dari kualifikasi Piala Afrika 2023 dan Piala Dunia 2026. Kini Red Sea Camels, yang tergabung di Grup D bersama Kenya, Afrika Selatan, dan Guinea, lebih banyak mengandalkan pemain diaspora. Hanya tiga pemain yang berkarier di dalam negeri masuk skuad untuk dua laga pembuka, yaitu melawan tuan rumah bersama di Nairobi pada Sabtu, lalu laga “kandang” melawan Bafana Bafana di Kairo pada Selasa.
Somalia pun mencatat sejarah dengan menembus fase grup kualifikasi untuk pertama kalinya, meski menghadapi undian berat bersama Pantai Gading, Ghana, dan Gambia. Ocean Stars berada di peringkat 53 di Afrika, tetapi seperti Eritrea, mereka tetap bisa bermimpi tampil di Piala Afrika. Harapan itu terasa lebih masuk akal karena turnamen kembali digelar di Afrika Timur untuk pertama kalinya sejak 1976.
Penutup
Kualifikasi Afcon 2027 dibuka dengan kombinasi antara wajah-wajah baru di bangku pelatih dan kepergian sejumlah pemain ikonik dari panggung internasional. Patrick Vieira dan Herve Renard menjadi dua nama paling disorot, tetapi perubahan besar juga terjadi di Tunisia, Afrika Selatan, Aljazair, dan sejumlah negara lain yang berharap menemukan arah baru. Sementara itu, Eritrea dan Somalia menambah warna tersendiri sebagai wakil Afrika Timur yang ingin memanfaatkan kesempatan langka ini.
Dengan format yang membuat finis kedua belum tentu aman di grup berisi tuan rumah, dua ronde di jendela kali ini akan sangat menentukan peta persaingan. Hasil pada November dan Maret nanti baru akan memastikan siapa yang benar-benar layak melaju ke putaran final. Bagi para pelatih baru, rentetan laga ini menjadi ujian pertama sekaligus kesempatan membuktikan bahwa perubahan yang mereka bawa berjalan ke arah yang tepat.
