Keterkejutan Philipp Lahm atas Kegagalan Beruntun Jerman
Philipp Lahm, legenda timnas Jerman, mengaku terpukul melihat negaranya kembali tersingkir lebih awal dari Piala Dunia. Ini kali ketiga berturut-turut Jerman gagal melaju jauh di turnamen paling bergengsi sepak bola. Menurutnya, akar masalah sudah terlihat sejak satu dekade lalu: tidak ada kontinuitas dalam timnas.
“Saya butuh waktu untuk pulih dari ini,” tulis Lahm dalam kolomnya di Die Zeit. Kata kunci yang harus dibahas adalah kontinuitas—sesuatu yang hilang dari timnas Jerman selama sepuluh tahun terakhir. Sepak bola Jerman belum memutuskan bagaimana cara bermain. Ide baru terus berganti, pemain baru ditempatkan di posisi baru, dan Julian Nagelsmann terlalu banyak bereksperimen, tidak hanya selama turnamen ini.
Krisis Identitas di Balik Kekalahan
Menurut Lahm, Jerman selalu sukses saat peran pemain jelas, hierarki terbentuk, dan ada konsep menyerang serta bertahan yang matang. Keyakinan itulah yang hilang total. Di Piala Dunia kali ini, timnas tidak terlihat seperti telah melalui proses yang harus dijalani setiap tim.
Di lapangan, kekurangan itu tampak nyata. Jerman kehilangan kendali dalam membangun serangan dari belakang, melalui lini tengah, hingga ke depan. Mereka juga gagal menjaga penguasaan bola di area lawan dan menjauhkan ancaman dari gawang sendiri. Lahm melihat tim lain seperti Spanyol atau Prancis mampu melakukannya dengan baik, tetapi tidak dengan Jerman.
Kehilangan Julukan Turniermannschaft
Jerman dulu dikenal sebagai Turniermannschaft (“tim turnamen”) yang selalu menemukan ritme terbaik seiring berjalannya kompetisi. Kini reputasi itu sirna. Sebaliknya, performa tim justru menurun dari laga ke laga. Penyebabnya, pendekatan yang sempat menjanjikan ditinggalkan begitu saja, meskipun sedang berjalan efektif.
Contoh Kesalahan Strategi Nagelsmann
Lahm menyoroti keputusan Nagelsmann yang kerap mengubah formasi secara drastis. Misalnya, saat laga melawan Paraguay, strategi menggunakan Deniz Undav sebagai pemain pengganti berdampak baik, namun Nagelsmann malah menyimpang dari rencana itu. “Saya tidak mengerti perubahan itu,” ujar Lahm.
Dua contoh lain: Joshua Kimmich seharusnya bermain di lini tengah untuk timnas, seperti perannya di Bayern Munich. Selain itu, Florian Wirtz dan Kai Havertz adalah pemain terbaik Jerman—terbukti dari gol ke gawang Paraguay. Lahm ingin melihat Wirtz bermain di tengah, di belakang Havertz, posisi terbaiknya, dan itu dilakukan secara konsisten latihan demi latihan.
Nagelsmann dan Sistem yang Sering Berubah
Nagelsmann mengaku suka mengubah sistem dan formasi. Namun, tim-tim besar seperti Spanyol atau Prancis selalu bermain dengan pola yang sama. Mereka menjalankannya begitu baik sehingga lawan tak mampu menghentikan. “Jangan membuat sepak bola lebih rumit dari yang sebenarnya,” tegas Lahm.
Tentu pelatih boleh melakukan variasi, tetapi hanya pada detail—dan hanya setelah ada keteraturan dalam tim. Ini masalah umum tim Jerman, termasuk klub-klub Bundesliga: kebanyakan tidak memiliki kejelasan. Lahm juga mengkritik perubahan formasi Nagelsmann di laga penyisihan yang tidak berarti, yang justru mengirim pesan membingungkan ke pemain. Rotasi harus memiliki tujuan yang jelas, dan kali itu tidak demikian.
Sisi Positif: Solidaritas Pemain Tetap Terjaga
Meski kecewa, Lahm melihat secercah harapan. Saat menghadapi kegagalan, para pemain tidak saling menyalahkan. Mereka justru membela satu sama lain: Antonio Rüdiger memuji Jonathan Tah dan Nico Schlotterbeck, Kai Havertz memuji Deniz Undav, dan Joshua Kimmich membela Leroy Sané serta Nagelsmann. “Itu modal untuk dibangun,” kata Lahm.
Lahm juga membela pemain dari tuduhan kurangnya sikap mental. “Di Piala Dunia 2018 memang ada masalah sikap, tapi untuk 2022 dan 2026 saya tidak setuju. Para pemain sudah memberikan segalanya. Kegagalan sangat menghantam mereka,” katanya. Ia mencontohkan Kimmich yang hancur setelah tersingkir di Qatar 2022 dan kembali terpukul kali ini.
Generasi “System Player” dan Masalah Kepemimpinan
Lahm menjelaskan bahwa generasi sekarang adalah “system player”—produk akademi yang melihat sepak bola sebagai profesi sejak usia 12-13 tahun. Segalanya berkembang pesat: gaji, kehadiran digital, dan individualisasi. Sulit mengimbangi semua itu, dan di sinilah dibutuhkan kepemimpinan yang kuat.
Namun, pelatih masih sering bergantung pada pemenang Piala Dunia 2014, seperti Manuel Neuer di turnamen ini. Keputusan seperti itu mungkin memberikan stabilitas jangka pendek, tetapi juga menandakan kurangnya kepercayaan pada generasi baru. “Mereka butuh kesempatan yang adil,” tegas Lahm.
Perbandingan dengan Argentina dan Prancis
Argentina dan Prancis membuktikan bahwa membangun tim dengan pemain senior itu mungkin. Lionel Messi, Kylian Mbappé, dan kawan-kawan beroperasi dalam kondisi yang sama dengan Jerman. Didier Deschamps dan Lionel Scaloni memimpin skuad mereka dengan penuh ketertiban dan rasa aman.
Tiga pelatih Jerman berturut-turut—Joachim Löw, Hansi Flick, Julian Nagelsmann—gagal di Piala Dunia. Lahm tidak melihat masalah pada pemain. Banyak individu Jerman bermain di klub top Eropa: Rüdiger di Real Madrid, Wirtz membawa Leverkusen juara lalu pindah ke Liverpool, Havertz juara Liga Champions bersama Chelsea dan Premier League bersama Arsenal, serta Musiala yang berpotensi kelas dunia. Hanya Prancis yang memiliki lebih banyak bakat daripada Jerman.
Mencari Kembali Identitas Sepak Bola Jerman
Piala Dunia adalah ajang paling penting di dunia. Timnas harus mewakili negaranya. Di Bosnia-Herzegovina, rakyat merayakan tim mereka karena melihat diri mereka tercermin di dalamnya. Jika perkembangan tim terus terganggu, tidak ada yang bisa mengidentifikasi diri dengan skuad tersebut. Itulah mengapa suporter Jerman sangat kecewa.
Lahm mengenang masa 2006-2014 saat ia bersama rekan setimnya tidak selalu akur, tetapi ketika bertemu, mereka bernostalgia dengan penuh kebahagiaan. Kesuksesan bersama memberi pengalaman seumur hidup yang kemungkinan tidak akan dirasakan oleh generasi penerus. “Itu sangat disayangkan bagi mereka,” katanya.
Kini muncul perbincangan soal Nagelsmann dan calon pengganti. Namun, sebelum membahas nama, Lahm menekankan pentingnya menjawab pertanyaan fundamental: bagaimana cara Jerman ingin bermain? “Apakah kita Spanyol? Argentina? Prancis? Tidak, kita adalah Jerman. Kita memiliki budaya dan gaya sepak bola sendiri. Sudah saatnya kembali terhubung dengan identitas itu, dan melakukannya dengan penuh keyakinan.”
