i tengah keputusan kontroversial timnas wanita Inggris, Lionesses, untuk berhenti berlutut, sebuah suara legendaris menggelegar dari masa lalu dengan kekuatan badai. Ian Wright, sang predator ikonik Arsenal dan Inggris, dengan lantang menyatakan bahwa jika ia masih bermain hari ini, ia akan tetap berlutut—sebuah parlay pribadi yang menantang kebencian.
Pernyataan Wright datang sebagai respons atas keputusan Lionesses yang lahir dari sebuah tragedi: serangan rasisme brutal secara online yang menimpa bek mereka, Jess Carter. Alih-alih semakin gencar melawan, tim justru memutuskan untuk menghentikan aksi simbolis tersebut. Namun, Wright menegaskan bahwa perang melawan rasisme adalah sebuah permainan mix parlay yang rumit, di mana keberanian individu tidak boleh dipadamkan oleh keputusan kolektif. “Berlutut seharusnya selalu menjadi pilihan pribadi,” tegasnya.
Bagi Wright, setiap pemain yang berani berlutut adalah bagian dari sebuah mix parlay besar untuk perubahan sosial. Ini adalah taruhan pada kemanusiaan, sebuah sikap yang menunjukkan bahwa perjuangan melawan diskriminasi lebih penting daripada apa pun. Ia bahkan mengungkapkan nasihat pedih yang harus ia berikan kepada keluarganya: “Siapkan keluargamu,” sebuah pengingat akan bahaya nyata yang dihadapi para pejuang anti-rasisme.
Saat tim memilih untuk diam, suara Ian Wright justru terdengar semakin nyaring. Ia mengingatkan dunia bahwa dalam pertarungan melawan kebencian, mundur bukanlah pilihan. Sikapnya menjadi simbol perlawanan, sebuah parlay abadi yang menginspirasi generasi baru untuk tidak pernah takut berlutapan demi apa yang benar.