Kebangkitan Aston Villa 2.0 bersama Unai Emery kembali menghadirkan optimisme besar di Villa Park, tepat sebelum tim menghadapi Manchester City pada laga Premier League akhir pekan. Kemenangan 3-1 atas Viking di Champions League menjadi bukti terbaru bahwa Villa yang dirombak pada musim panas mampu bergerak cepat menuju bentuk terbaik. Hasil itu juga menjaga momentum tiga kemenangan beruntun di Eropa dan memperlihatkan bahwa perubahan besar dalam skuad tidak serta-merta menghapus daya saing mereka.
Pentingnya momen ini tidak lepas dari sosok Emery, yang menandai empat tahun sejak tiba dari Villarreal saat Villa menjamu Manchester City. Di bawah pelatih berusia 54 tahun itu, Villa Park kembali bergairah, seperti terlihat dari tifo raksasa di Holte End dan sambutan standing ovation untuk Emery. Suasana tersebut mengembalikan optimisme yang muncul setelah Villa menjuarai Europa League musim lalu dan kembali ke Champions League, meski musim panas sebelumnya diwarnai kepergian sejumlah nama penting.
Kebangkitan Aston Villa 2.0 dan Rekor Kandang Eropa
Villa mengalahkan Viking 3-1 dalam lanjutan Champions League di Villa Park, sebuah hasil yang memperpanjang catatan impresif mereka di kompetisi Eropa. Sebelumnya, Villa juga menghantam Fenerbahce 6-0, sehingga mereka sempat memuncaki klasemen sebelum gol larut Peter Christiansen membuat posisi mereka setara sembilan poin dengan Paris St-Germain, Liverpool, Real Madrid, dan Real Betis. Catatan ini menegaskan bahwa Villa bukan sekadar peserta, melainkan tim yang sulit ditaklukkan saat bermain di kandang.
Di balik skor tersebut, Villa mencatat 12 kemenangan kandang beruntun di Eropa di bawah Emery. Rekor itu memperkuat reputasi Emery sebagai spesialis kompetisi Eropa, sekaligus memberi modal kepercayaan diri menjelang pertemuan dengan Manchester City. City datang dengan rekor sempurna dari tujuh pertandingan, sehingga laga di Villa Park akan menjadi ujian nyata bagi konsistensi Villa.
Emery sendiri menyebut tiga poin atas Viking sebagai suntikan keyakinan. Ia menekankan bahwa tim harus tetap seimbang karena setelah ini Villa akan menghadapi Barcelona yang diunggulkan, lalu bertandang ke Galatasaray. Pernyataan itu menunjukkan bahwa dia tidak ingin euforia mengalahkan fokus pada tantangan berikutnya.
Revolusi Skuad: Kehilangan Besar, Belanja Besar
Perubahan di Villa musim panas ini terlihat dari enam pemain yang menjadi starter saat kemenangan 3-0 atas Freiburg di Istanbul pada Mei, lalu meninggalkan klub. Kiper Emiliano Martinez, Lucas Digne, dan Youri Tielemans pergi, begitu pula trio Inggris Ollie Watkins, Ezri Konsa, dan Morgan Rogers. Konsa dan Rogers menuju Arsenal dan Chelsea dengan nilai gabungan £172 juta, sementara total penjualan Villa mencapai sekitar £320 juta.
Meski kehilangan banyak nama penting, Villa tidak tinggal diam. Mereka mengeluarkan sekitar £280 juta untuk mendatangkan pemain baru, dan tanda-tanda awal menunjukkan investasi itu cukup tepat. Strategi ini menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai Villa 2.0, yakni pembangunan ulang tim tanpa meninggalkan identitas dan ambisi klub.
Awal musim sempat menimbulkan kekhawatiran karena Villa kalah 4-0 di Brighton, lalu 1-0 di rumah dari Arsenal, bermain imbang tanpa gol di Hull City, dan takluk 2-1 dari Nottingham Forest di Villa Park. Namun, kemenangan pertama di Tottenham Hotspur menjadi titik balik. Sejak itu, Villa kembali tampil seperti versi terbaiknya, termasuk saat mengalahkan Fenerbahce, menang 1-0 di Newcastle United, dan membungkam Viking.
Wajah Baru yang Langsung Memberi Dampak
Yang membuat Emery dan para pendukung semakin percaya adalah kontribusi para pemain baru. Alysson, pemain Brasil berusia 20 tahun yang direkrut dari Gremio pada Januari dengan nilai yang bisa mencapai £10,4 juta, tampil paling menonjol melawan Viking. Ia merepotkan pertahanan lawan dengan kecepatannya, memenangkan penalti untuk Emiliano Buendia, dan memicu gol ketiga lewat umpan yang dibelokkan Henrik Heggheim menjadi gol bunuh diri.
Di sisi sayap lain, Ibrahim Mbaye menunjukkan janji besar. Pemain 18 tahun yang didatangkan dari Paris Saint-Germain dengan nilai £47 juta itu disebut tampil di semua pertandingan Senegal di Piala Dunia 2026 dan mencetak gol saat kalah 3-1 dari Prancis, menjadi pemain Afrika termuda yang mencetak gol di Piala Dunia pria. Kombinasi Alysson dan Mbaye memberi Villa prospek lini serang yang menarik untuk masa depan.
Kiper baru Zion Suzuki juga memberi rasa aman. Pemain Jepang berusia 24 tahun yang datang dari Parma seharga £30 juta itu dianggap mampu mengisi posisi Martinez, dengan kelebihan berupa distribusi pendek dan panjang yang bagus. Selain itu, Joao Gomes yang direkrut dari Wolverhampton Wanderers seharga £38 juta menunjukkan kualitasnya, sementara Nicolas Jackson, yang pernah dilatih Emery di Villarreal, didatangkan dari Chelsea seharga £65 juta dan sudah mencetak lima gol.
Nama paling menarik mungkin Johan Manzambi, gelandang 21 tahun asal Swiss yang dibeli dari Freiburg sedikit di atas £50 juta. Villa disebut menyalip Newcastle United untuk mendapatkannya, dan Manzambi membalas kepercayaan itu dengan gol kemenangan di St James’ Park setelah mencetak gol pada debut penuh di Tottenham. Saat ini, ia masih diragukan untuk tampil melawan Manchester City.
Emery Tetap Menjaga Pemain Lama dan Mental Tim
Pembangunan ulang Villa tidak berarti Emery melupakan pemain lama. Kapten John McGinn tetap menjadi jantung tim, sedangkan Ross Barkley mengalami kebangkitan karier di usia 32 tahun. Barkley mencetak gol keempatnya musim ini saat melawan Viking, setelah sebelumnya mencetak dua gol dalam kemenangan besar atas Fenerbahce.
Barkley didatangkan dari Luton Town pada Juli 2024 setelah sempat dipinjamkan ke Villa Park pada musim 2020-21. Emery mengaku sangat mengaguminya dan menyebut Barkley sebagai pribadi yang fantastis serta pemain berpengalaman. Pelatih asal Spanyol itu juga menegaskan bahwa ia mendorong Barkley secara agresif dalam hal menyerang karena tahu kemampuan pemain tersebut dalam mencetak gol dan menyundul bola.
Sikap Emery yang menuntut, baik kepada pemain maupun dirinya sendiri, menjadi salah satu alasan di balik kebangkitan Aston Villa. Ia tidak hanya membenahi komposisi skuad, tetapi juga menjaga standar latihan dan mental bertanding. Itu sebabnya kekhawatiran awal tentang kepergian banyak pemain besar berangsur hilang sebelum Manchester City datang.
Ujian Manchester City dan Arah Baru Villa
Laga melawan Manchester City pada Sabtu siang akan menjadi tolok ukur seberapa jauh Villa 2.0 berkembang. City memiliki rekor 100 persen dari tujuh pertandingan, sehingga Villa Park harus kembali menjadi benteng yang sulit ditembus. Emery berharap atmosfer dan energi yang sama seperti saat melawan Viking bisa terulang, karena dukungan penonton menjadi energi tambahan bagi tim.
Namun, Emery juga menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ia menilai respons tim yang terus membaik sebagai hal fantastis, tetapi tidak ingin berhenti pada capaian saat ini. Tantangan melawan Barcelona dan Galatasaray setelah City menunjukkan bahwa jadwal berat akan menguji kedalaman skuad dan ketahanan mental Villa.
Dalam konteks lebih luas, kebangkitan Aston Villa di bawah Emery mengingatkan bahwa klub besar bisa bangkit dengan perencanaan yang tepat. Rekor Emery di Liga Europa bersama Sevilla dan Villarreal, serta pencapaian Villa musim lalu, menjadi dasar mengapa manajemen yang dipimpin Nassef Sawiris memberi dukungan maksimal. Jika investasi £280 juta terus berbuah, Villa tidak hanya kembali kompetitif, tetapi juga bisa menjaga ambisi di dalam dan luar negeri.
Kebangkitan Aston Villa 2.0 bersama Unai Emery bukan sekadar cerita tentang kemenangan atas Viking atau belanja besar pada musim panas. Ada perubahan struktur tim, kepercayaan pada pemain baru, dan kemampuan Emery merawat pemain lama seperti Barkley serta McGinn. Semua itu membuat Villa Park kembali percaya bahwa klub ini sedang bergerak ke arah yang benar.
Menghadapi Manchester City akan menjadi ujian yang lebih berat, tetapi modal kepercayaan diri sudah terbangun. Jika Villa mampu menjaga energi dan keseimbangan seperti yang diminta Emery, laga di Villa Park bisa menjadi penanda bahwa kebangkitan mereka bukan hanya euforia sesaat. Pendukung pun punya alasan untuk menantikan langkah berikutnya dengan optimisme yang terukur.
