Nobby Stiles Meninggal Akibat Heading Bola, Koroner Tetapkan CTE sebagai Penyebab

Penyebab Kematian Nobby Stiles Terkait Heading Bola

Legenda sepak bola Inggris, Nobby Stiles, yang merupakan gelandang Manchester United dan anggota tim juara Piala Dunia 1966, meninggal karena kondisi otak yang dipicu oleh kebiasaan menyundul bola secara berulang. Hal ini diputuskan oleh koroner dalam sidang pengadilan pada Rabu, 15 Juli 2026.

Stiles meninggal pada Oktober 2020 di usia 78 tahun dengan demensia berat. Analisis ahli menunjukkan bahwa penyakit Alzheimer dan chronic traumatic encephalopathy (CTE) menjadi penyebab utama kondisi tersebut. CTE adalah gangguan otak degeneratif yang kerap dikaitkan dengan trauma kepala berulang, termasuk dari menyundul bola.

Investigasi Medis dan Fakta Heading 140 Ribu Kali

Dalam sidang di Stockport Coroner’s Court, ahli neuropatologi Dr. Daniel Du Plessis mengungkapkan keyakinannya bahwa heading bola sebanyak lebih dari 136.000 kali selama karier Stiles secara langsung menyebabkan CTE. Perkiraan ini dihitung oleh putranya, John Stiles, berdasarkan latihan dan pertandingan selama 17 tahun berkarier.

John menyatakan bahwa ayahnya menyundul bola sekitar 40 kali sehari, lima hari seminggu. Bola yang digunakan pada era itu memiliki berat sekitar 16 ons dan menjadi lebih berat saat basah. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa menyundul bola modern setara dengan 80 persen dampak pukulan petinju.

Gejala Awal dan Penurunan Kesehatan Stiles

Keluarga mulai melihat perubahan pada Stiles saat usianya memasuki akhir 50-an dan awal 60-an. Ia sering lupa, mengulang pertanyaan, dan mengalami kecemasan berlebihan. Pada 2010, Stiles terpaksa menjual medali kemenangannya untuk membiayai perawatan saat kondisinya semakin memburuk.

“Sejujurnya, dia ketakutan,” kata John Stiles tentang kondisi ayahnya di masa tuanya. Stiles meninggal di panti jompo dalam keadaan terbaring di tempat tidur akibat demensia parah.

Kampanye Keluarga dan Tuntutan Hukum terhadap PSSI Inggris

John Stiles memimpin kelompok Football Families for Justice (FFJ) yang menuntut otoritas sepak bola Inggris—FA, FA Wales, dan English Football League—atas dugaan kelalaian dalam melindungi pemain dari risiko heading bola. Menurut mereka, pihak berwenang sudah mengetahui bahaya ini sejak puluhan tahun lalu namun tidak bertindak.

Sidang tersebut juga mengungkap kasus serupa: mantan bek Manchester United dan Skotlandia, Gordon McQueen, yang meninggal pada usia 70 tahun, juga didiagnosis CTE. Hakim koroner menyatakan bahwa heading bola “kemungkinan besar” berkontribusi pada cedera otak yang menjadi faktor kematiannya.

Penelitian dan Langkah FA Mengurangi Heading pada Anak

Pada 2019, FA bersama Asosiasi Pesepak bola Profesional (PFA) mendanai studi yang menemukan bahwa pesepak bola tiga setengah kali lebih mungkin meninggal akibat penyakit neurodegeneratif dibandingkan populasi umum seusianya. Sebagai respons, FA mulai menghapus semua latihan heading bola di sepak bola anak hingga usia 11 tahun pada 2026.

Namun, pengacara FA berargumen di Pengadilan Tinggi bahwa “belum terbukti secara ilmiah” bahwa menyundul bola atau gegar otak sesekali dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Keluarga Stiles dan pemain lain terus memperjuangkan keadilan dan perlindungan lebih baik bagi mantan pemain.

Warisan Nobby Stiles: Pemain Rendah Hati yang Dicintai Keluarga

John Stiles mengenang ayahnya sebagai pribadi yang sangat rendah hati. “Dia tidak pernah membanggakan diri sebagai juara dunia. Baginya, keluarga adalah prioritas utama,” ujarnya. Stiles lahir di Collyhurst, Manchester pada 1942, memperkuat Manchester United hampir 400 kali, dan tampil 28 kali untuk timnas Inggris.

Kisah Nobby Stiles menjadi pengingat akan risiko jangka panjang dari heading bola yang terus menjadi perdebatan di dunia sepak bola. Sementara para ahli dan keluarga terus mendorong perubahan, warisan Stiles sebagai legenda lapangan hijau tetap abadi, meski harus dibayar dengan mahal oleh kesehatannya.